Sudah lima bulan berlalu semenjak mas Anu menemui ku di Malang, kami makin terbuka satu sama lain. Tentang kejadian malam itu, mas Anu tidak ada berkomentar. Ia hanya menitipkan sebuah pesan agar aku tidak terlalu sering nongkrong hingga dini hari.
Saat ini aku berada di kampus untuk menyerahkan paper UAS ku yang terakhir. "Akhirnya kelar juga semester ini ya tuhan." ucap ku sambil mengenadahkan tangan ku ke atas.
"Lebay lo dikurangin! Udah mau jadi bini orang juga." sahut Hali yang ku balas juluran lidah.
"Jadi balik ke Samarinda lo?" tanya Tika.
"Jadi dong! Lusa gue balik sama mbatar." sahut ku bersemangat.
"Lo yakin gamau lamaran disini aja, ia?" ujar Mona.
"Iya, disini aja kali ia. Ntar gue bawa tupperware emak gue." lanjut Salsa.
"Apa hubungannya tupperware sama lamaran, sa?" tanya Risa bingung.
"Ya kan ntar kalo lamaran ada makanan banyak, nah ntar gue tadahi dah tu makanan." jawab Salsa yang disambut gelengan heran oleh teman-teman ku yang lain.
"Lo...beneran nggak mau pamitan sama Nanda?" tanya Hali hati-hati.
Aku hanya terdiam mendengar Hali menyebutkan nama Nanda.
-
Seusai aku mengantar mas Anu kembali ke hotelnya, esoknya aku kembali ke rumah sakit tempat Nanda dirawat. Sambutan yang ku dapat dari ibunya Nanda tetap ramah seperti biasanya, tapi tidak dengan Nanda. Selama sejam aku ada diruangan nya ia tidak sekalipun mengajak ku untuk berbicara.
Setiap aku ajak bicara ia hanya menyahuti dengan singkat. Sepertinya ibunya Nanda tahu ada yang perlu aku dan Nanda bicarakan, jadi ibunya Nanda beralasan mau keluar untuk membeli sarapan.
Ketika ibunya keluar, Nanda mengucapkan sebuah kalimat yang membuat ku ingin sekali pergi dari situ.
"Kamu berubah, tidak seperti Kia yang aku kenal. Kamu selalu mementingkan teman diatas segalanya ia. Aku bahkan masih ingat, kamu rela nggak ikut mbak mu ke Bandung demi nyamperin Risa yang saat itu kecelakaan. Padahal kamu sudah sangat menantikan untuk ke kota impian kamu, Bandung." ucap Nanda panjang.
"Padahal Risa nggak separah aku, tapi kamu selalu ada disampingnya sejak malam dia kecelakaan. Sejak kedatangan mas mu itu di kehidupan mu, kamu berubah. Sekarang kamu mementingkan mas mu itu daripada kita, teman-teman mu." lanjutnya.
"Kenapa kamu penurut sekali sekarang sama orang tua mu ia? Bukannya kamu selalu membangkang semua ucapan mereka?" ucap nanda diiringi tawa kecil.
"Perjodohan? Kamu selalu menentang segala perjodohan yang orang tua mu lakukan sejak dulu. Tapi kenapa kamu memilihnya kali ini? Apa karna dia kaya makanya kamu mau menerimanya?" tanya Nanda sembari menatap ku.
"Bukannya kamu suka aku sejak semester 3 ia? Kenapa secepat itu berubahnya?"
"Nan, please stop." jawab ku sembari menahan emosi ku.
"Ada Risa yang selalu nungguin lo! Ya benar, gue emang sempat suka lo. Tapi itu dulu, dan menurut gue itu cuma karna gue baper sesaat. Dan juga itu sebelum gue tahu kalau Risa suka lo dari masa ospek . Gue selalu sama nan, gue nggak pernah berubah. Mas Anu nggak pernah merubah gue. Dan gue menerima perjodohan ini karna alasan lain yang tidak perlu lo tau." lanjut ku mengalihkan pandangan ku dari Nanda.
"Aku tidak pernah ada perasaan ke Risa. Sejak awal aku sukanya sama kamu Kia. Waktu tau kamu suka aku, rasanya dunia memihakku. Tapi aku sadar bahwa aku yang hanya anak seorang buruh tani tidak pantas untuk bersanding dengan anak kesayangan orang kaya seperti mu." ucap Nanda.
"Kamu mau menerima ku menjadi teman mu saja aku sudah sangat bersyukur. Aku mau egois kali ini ia, sekarang bisakah kamu memilih pertemanan kita atau mas mu itu?" tanya Nanda yang membuat ku kaget.
"Lo ngomong apaan sih nan?! Gue nggak bisa milih salah satu karna semuanya sama pentingnya buat gue!" jawab ku emosi.
Nanda hanya tersenyum kecil, "Berarti kamu lebih milih dia daripada pertemanan kita ia. Lebih baik kamu pulang sekarang, aku mau istirahat." ucap Nanda sembari membelakangi ku.
Sambil menahan air mata, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Saat ku buka pintu, didepan ruangan tersebut ada Hali yang sedang berbincang dengan ibunya Nanda.
"Loh Saskia kenapa?" tanya ibunya Nanda ketika melihat ku seperti menahan tangis.
Tak ku jawab pertanyaan tersebut, aku memilih untuk menatap Hali.
"Em..kalau gitu kami pamit dulu ya bu." sahut Hali sambil menyalami ibunya Nanda sembari menarik ku pergi dari situ.
Ketika ada di lift tidak bisa lagi ku bendung emosi ku. Aku selalu seperti itu, kalau marah bukannya marah-marah malah nangis. Ku ceritakan semuanya ke Hali apa yang tadi terjadi.
Sejak kejadian dirumah sakit semua berubah. Nanda sudah tidak pernah nongkrong kalau ada aku, dikelas ia seperti sengaja menghindari ku, tidak pernah membalas chat ku, tidak pernah muncul di grup chat lagi, bahkan ketika kami berpapasan ia tidak menyapa ku seperti biasanya.
Nanda, seakan bukan Nanda yang aku kenal.
-
Kini aku sedang ada dikamar mbatar yang sedang sibuk packing pakaian yang akan ia bawa lusa.
"Pokoknya ingat ya dek sama barang yang mbak pesan karna kamu udah ngelangkahin mbak duluan." ucap mbatar sambil packing yang hanya ku jawab deheman saja.
"Kamu udah packing belum? Ntar udah mau berangkat gupuh awas aja!." lanjutnya.
"Udah." jawab ku lesu.
Mas Anu Calling
"Mau ke kamar dulu mbak, mas Anu nelpon!" ujar ku sambil bergegas naik ke kamar ku.
"Halo, assalamualaikum mas." ucap ku lesu.
"Waalaikumsalam, kamu apa kabar?" tanya mas Anu.
"Bohong banget kalo bilang baik." jawab ku lesu.
"Kamu sudah coba buat ngomong sama dia?" tanya mas Anu.
"Mau ngomong gimana coba. Dia aja ngehindarin aku banget, mana tiap aku chat nggak pernah dibalas." jawab ku sebal.
"Yaudah nggak usah terlalu dipikirkan, sehabis kamu kembali lagi nanti ke Malang kamu coba lagi untuk bicarakan ke dia." sahut mas Anu yang hanya ku balas deheman saja.
"Sasi udah packing?" tanya mas Anu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Kurang lebih 1 jam lebih kami berbincang melalui sambungan telfon. Ya walaupun ada lah 30 menit diganggu bang Satria. Sebelum sambungan telpon terputus, mas Anu berjanji untuk menjemput ku di bandara nanti.
Setelah selesai telponan sama mas Anu, kini aku sedang melakukan kebiasaan malam ku sebelum tidur yaitu mengaplikasikan skincare.
Belum juga selesai dengan ritual malam ku, handphone diatas nakas samping tempat tidur ku bergetar yang menandakan ada pesan masuk.
Arisa Kalista😻
Kia maaf ganggu malem-malem gini. Besok jam 11 bisa nggak kita ketemuan di starbucks? Ada yang mau aku bicarain.
Saskia Putri
Santai aja saa, okee besok ya. Lo mau gue jemput nggak?
Arisa Kalista😻
Nggak perlu ia, aku besok jalan sendiri aja. Oke, sampai ketemu besok!
~~
Semoga kalian nggak bosen ya sama cerita ini, hihi. Aku sadar banget kalo alur dari cerita ini ribet + lambat banget soalnya hehe^^
-R
KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck With U
RandomKebanyakan kriteria ideal para lelaki ketika mencari pasangan itu rata-rata pasti pada nyari yang; 1.Cantik 2. Langsing 3. Pintar 4. Putih 5. Lemah lembut Tapi sepertinya semua hal itu tidak didapatkan oleh Arganta Kanu Wibisana. Arga dengan sifat...
