29

27.8K 1.8K 18
                                        

Akad & resepsi ku telah usai serta berjalan dengan lancar. Ya...walaupun saat resepsi sempat ada suatu kejadian kecil yang membuat ku mewek dan berakhir diomelin mbak Tia selaku orang yang bertanggung jawab akan make up ku sih.

Walaupun tidak dapat hadir, namun teman-teman anti bucin ku ternyata menyiapkan sesuatu yang mereka titipkan pada Risa yang dapat hadir.

Sebuah video berdurasi 10 menit yang memperlihatkan segala foto bahkan video kekonyolan kami dari masa awal kami berteman hingga saat ini, pesan video ucapan selamat mereka untuk ku karna telah resmi menjadi Ny. Arganta Kanu, serta ucapan selamat dari para dosen yang dekat dengan ku, staff fakultas ku, dan  teman-teman sekelas ku lainnya.

Jelas saja aku mewek dan itu membuat mbak Tia kelimpungan memperbaiki make up ku. Tidak sampai disitu, mereka juga menyiapkan sebuah standee tubuh mereka yang membuat ku bingung mau tertawa atau menangis.

-
Awkward, hanya itu yang ku rasakan saat ini. Malam ini adalah perdana aku dan mas Anu sah sebagai suami istri, dan artinya ini adalah malam pertama kami.

Karena acara resepsi kami laksanakan disebuah hotel, maka kini kami berada disalah satu kamar di hotel ini. Mas Anu sedang mandi, sedangkan pembersihan make up ku telah usai 10 menit yang lalu.

Saat sedang asyik memikirkan tentang malam pertama kami, aku dikejutkan oleh sebuah suara.
"Kok ngelamun? Kamu nggak mau mandi?"

"Eh, eh i-iya mandi kok mas!" ucap ku dan melesat menuju kamar mandi secepat kilat.

Selama mandi, aku masih memikirkan apa yang akan terjadi malam ini dan menyebabkan lama mandi ku yang biasanya hanya 20 menit menjadi 1 jam sendiri karna aku kebanyakan berendam dan melamun.

Saat keluar dari kamar mandi, ku lihat mas Anu sedang mengenakan kacamata serta terlihat serius memandang laptop dipangkuan nya.

Omaygat ganteng banget anjim doi pake kacamata gituuu, napa kaga pake kacamata terus sih. Seru ku dalam hati sembari mengaplikasikan skincare ke wajah ku.

"Kenapa?" tanya mas Anu sembari terus memperhatikan laptopnya.

Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya bingung.

"Kenapa ngeliatin mas kayak gitu, sayang?"

"Eh, hehehe. Mas cakep bet kalo pake kacamata. Aku baru ngeliat mas pake kacamata kali ini."

"Ini kacamata anti radiasi. Mas emang suka pake kalau lagi kerja." jawabnya sambil melepaskan kacamatanya dan menaruh laptop dinakas.

Kini kami beradu pandang dan hanya ada keheningan diantara kami.
"Ke-kenapa sih mas? Ngeliatin aku segitunya banget."

"Kamu cantik."

Aku tersipu dan hanya terdiam serta mengalihkan pandangan ku dari mas Anu. Ku percepat ritual malam ku dan bergegas naik ke kasur. Lagi-lagi aku merasa canggung dan bingung disituasi seperti ini.

"Capek ya? Langsung tidur aja kalau kamu capek." ucap mas Anu sembari mengelus kepala ku.

"Udah yuk, tidur." lanjutnya sembari berbaring yang selanjutnya ku ikuti.

Untungnya kami sama, tidak bisa tidur kalau ada lampu. Sehingga lampu utama serta lampu kecil disamping kami telah padam. Mungkin saking capeknya, baru memejamkan mata sebentar aku sudah tertidur pulas dan tak memikirkan lagi tentang apa yang akan terjadi saat aku tertidur.

-
Getaran dibawah bantal ku membuat ku bangun secara paksa. Saat ku lihat ternyata telepon dari ibu yang jumlahnya tidak santai seperti biasa. Jam di handphone ku telah menunjukkan pukul 12.10 yang mana artinya aku pasti tidur seperti orang mati. Saat sedang mencoba mengumpulkan kesadaran ku, dapat ku rasakan ada sebuah tangan yang melingkari pinggang ku.

Stuck With UTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang