32

28.9K 1.8K 11
                                        

Berita bahwa Sasi telah siuman membuat kamar rawat ini sesak. Mbak Tara, orang tua ku, mertua ku, serta teman-teman Sasi baik itu teman tongkrongannya dan teman KKN nya memenuhi ruangan ini. Beberapa kali kami mendapat teguran dari suster serta dokter yang merawat Sasi agar tidak menumpuk jadi satu dalam ruangan ini.

Setelah diancam akan diusir, barulah kami semua kicep dan bergantian untuk masuk ke dalam ruang rawat Sasi. Kini Sasi sudah tidak perlu lagi mengenakan seabrek alat bantu pernapasan yang selama 4 bulan ini menopang hidupnya. Hanya saja, Sasi harus menjalani masa rehabilitasi untuk pemulihan luka dan psikisnya.

Sasi hanya sesekali berbicara dan selebihnya hanya merespon dengan senyuman saja jika kami ajak berinteraksi.

"Yah lo kok jadi nggak asik gini sih, ia. Semangat dong! Ntar kalo lo udah sembuh kita ke DWP deh." ucap Salsa yang hanya Sasi balas dengan senyuman pelan.

"4 bulan tidur, bangun-bangun ya masih lemes lah sa! Gimana sih lo." jawab Hali mengeplak pelan kepala Salsa.

"Lagian dah punya suami lagi si Kia. Seenak udel banget lo ngajak Kia ke DWP." ucap Tika.

"Eh, hehehe maaf mas Arga. Lupa saya, ehehehehe." ucap Salsa sambil tertawa canggung sembari menatap ku dan ku balas senyuman saja.

Sembari menggenggam tangan Sasi, aku terus mendengarkan rencana teman tongkrongannya ketika Sasi sudah sembuh total.

"Mas, sini dulu. Ada yang mau dokter bicarain." panggil ibu mertua ku.

"Jadi gimana dok?"

"Berdasarkan pengecekan kami, kondisi ibu Saskia sudah membaik. Tinggal menjalani rehabilitasi patah tulang serta psikisnya. Untuk rehabilitasi, kami serahkan pada pihak keluarga. Apakah mau menjalankannya disini atau membawa ibu Saskia kerumah sakit lain."

"Jadi gimana mas?" tanya mamah ku.

"Disini saja mah, kalau nanti dibawa ke Kalimantan takutnya diperjalanan ada apa-apa. Mas nggak keberatan kok bolak-balik."

"Mas yakin?" tanya ibu mertua ku yang ku jawab anggukan mantap.

"Baiklah. Jadi dari keputusan pihak keluarga, tetap disini ya. Kalau begitu silahkan mas nya sebagai suami mengikuti suster untuk pengurusan administrasi."

-
"Terus ya ia, Nanda tu pencemburu abis! Asli deh, masa gue cuma belanja ke superindo terus lupa ngabarin dia, dia bisa ngambek sampe 3 hari. Bayangin ia cuma gara-gara gitu doang!" ucap Salsa menggebu-gebu.

"Jadi lo putus sebenernya gara-gara apasih? Muter-muter lo cerita daritadi." ucap Mona sebal.

"Ya itu! Gara-gara doi tu posesif abis. Masa gue mau dugem aja dijadwalin, kek bayi posyandu aja."

"Halah palingan bentar lagi balikan." ucap Hali sambil terus memainkan game mobile legend di handphone nya.

"Dih, kaga ya. Pokoknya kali ini nggak bakal balikan lagi!" tepis Salsa menggebu-gebu.

"Yaudah liat aja seminggu lagi. Bulan lalu lo juga bilang kagak bakal balikan lagi tapi ujung-ujung nya tetep aja balikan terus putus lagi." lanjut Hali.

"Iya ya, lo kok putus nyambung sama Nanda mulu sih, sa? Biasanya kalo udah putus mana mau lo diajak balikan lagi." bingung Tika sambil menatap Salsa.

"Atau jangan-jangan, lo yan-"

"Ih nggak ya! Masa gue yang ngajak doi buat balikan. Dahlah napa jadi kalian yang repot ngurusin kehidupan percintaan gue sih." ucap Salsa memotong ucapan Mona.

Aku seperti mendengar dongeng saat teman-teman ku sibuk berdebat tentang  hubungan Nanda dan Salsa. Perlahan rasa kantuk menyerang mu dan aku pun jatuh tertidur.

Stuck With UTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang