18

28.3K 1.9K 22
                                        

Setelah menghabiskan waktu liburan semester ku dirumah, kini saatnya aku untuk kembali ke Malang. Tapi kali ini beda dengan saat aku datang ke Samarinda. Kini aku kembali ke Malang sendiri, sebab mbatar sudah kembali ke Malang sepekan pasca acara lamaran ku.

Karna sendiri, maka aku memutuskan untuk mengambil penerbangan malam yang langsung ke Malang. Sejak semalam bapak dan ibu seakan tidak rela untuk melepas ku kembali ke Malang. Bahkan semalam kami tidur bertiga dikasur depan tv.

"Udah dong meweknya bu, ntar aku ketinggalan pesawat ini." ucap ku kepada ibu yang sejak tadi memeluk ku erat.
"Udah toh bu, kan nanti kita bisa nyusul anak-anak ke Malang." sahut bapak.
"Baru sebentar kamu disini ia, ntar ibu nggak ada teman mukbang lagi." jawab ibu ku.

"Hadoh, ntar kita mukbang online deh." sahut ku sebal mengetahui fakta ibu ku sedih melepas ku.

Gue makan mulu diomelin, tapi disini malah diajakin mukbang tiap hari. Ucap ku dalam hati kesal.

"Jangan nakal ya disana, dengerin mbak mu, baik-baik sama mas mu." nasihat bapak sambil mengelus pelan kepala ku.
"Jangan makin liar ya kamu disana! Awas aja kalo sampe buat masalah di daerah orang." sahut ibu ku.

"Siap! Udah ah Kia ntar telat ini ke bandara nya." ucap ku bergegas menuju mobil travel yang telah menunggu ku.
"Nanti Arga nyusul ke bandara?" tanya ibu ku.
"Nggak, ada kerjaan katanya." jawab ku.
"Yaudah Kia berangkat dulu ya! Bye parents! Assalamualaikum."

-
Kini aku sudah mendarat dengan selamat di Bandara Abdulrachman Saleh. Sembari menunggu bagasi ku dikeluarkan dari pesawat, aku mengecek handphone ku. Aneh, tidak ada satupun pesan dari mas Anu. Terakhir kali komunikasi kami semalam saat aku sedang mengepak barang-barang ku. Semua pesan ku juga belum dia baca. Oke, bang Satdia adalah mata-mata andalan ku.

Saskia Putri
Bang, laki gue kemana sih?
Gue chat kaga dibaca

Setelah koper ku sudah ditangan, aku segera mencari taksi bandara yang akan mengantarkan ku menuju rumah. Didalam taksi aku terus menatap handphone ku yang tidak juga menunjukkan balasan dari bang Satria.

Setelah perjalanan 30 menit, kini aku telah sampai dirumah ku. Tak ku lihat mobil mbatar dipelataran parkir. Karna kami memegang kunci sendiri-sendiri maka aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Belum ada juga balasan dari bang Satria maupun mas Anu. Kesal, aku memilih untuk membersihkan diri ku dan segera tidur.

-
Aku terbangun karna suara berisik dari mesin pemotong rumput yang sedang dijalankan oleh tukang kebun komplek rumah ku. Hal pertama yang ku cek tentu saja handphone ku. Masih sama, tidak ada balasan dari keduanya.

Aku berusaha untuk berpikir positif dan memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ku lihat ada mbatar yang sedang memetik kangkung di meja makan.
"Pulang jam berapa mbak semalam?" tanya ku sembari duduk dihadapannya.
"Jam 1, kamu semalam datang jam berapa?" tanya mbatar balik.
"Jam setengah 8, aku nanti sore mau ke apart Salsa ya mbak." izin ku.

"Nginep?" tanya mbatar.
"Kayaknya sih. Boleh nggak?" jawab ku.
"Boleh aja asal kamu nggak aneh-aneh." ucap mbatar.

"Aneh-aneh apaan coba. Wong cuma ada si Salsa doang." jawab ku berlalu ke kamar ku.

Ternyata ada puluhan panggilan tidak terjawab dari mas Anu serta beberapa pesan dari mas Anu dan bang Satria.

Mas Anu
Sasi udah sampe rumah?
Maaf, saya sibuk kemarin.
Kamu marah?
Kalau sudah tidak marah segera hubungi saya ya.
Semoga kamu marahnya nggak lama.

Stuck With UTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang