Kebanyakan kriteria ideal para lelaki ketika mencari pasangan itu rata-rata pasti pada nyari yang;
1.Cantik
2. Langsing
3. Pintar
4. Putih
5. Lemah lembut
Tapi sepertinya semua hal itu tidak didapatkan oleh Arganta Kanu Wibisana. Arga dengan sifat...
"Ganti baju kamu Saskia! Masa mau nongkrong di tepian pake baju gitu sih." ucap ibu sebal ketika aku pamit mau keluar. "Kenapa sih bu, biarin aja lah anaknya mau pake apa." jawab bapak membela ku.
Ibu semakin menunjukkan taringnya begitu bapak berkata seperti itu, "Lagian kamu gimana sih mbak, disuruh jagain adeknya malah makin liar gini." lanjut ibu sambil terus mengomel. "Kok aku sih bu?! Kan dia udah gede nggak perlu aku jaga terus kayak bocil." jawab mbatar tidak terima.
"Lagian aku disana kerja ya bukan jadi babysitter ni anak." lanjut mbatar ikutan kesal.
Selagi keluarga ku berdebat, terdengar suara klakson mobil dari pelataran rumah ku yang tak lama diikuti ketukan dari pintu depan ku.
"Mas ayo buruan pergi dari sini." ucap ku ketika membuka pintu. "Kenapa? Saya mau pamitan dulu sama orang tua kamu." tanya mas Anu bingung. "Ih gausah, ntar pan-" belum sempat aku menyelesaikan bicara ku, sudah terpotong oleh suara ibu dibelakang ku.
"Bisa-bisanya kamu mau kabur gitu aja!" "Eh mas Arga, ini ni si Kia disuruh ganti baju aja susah banget." lanjut ibu.
"Udah buruan pergi sana, ntar kemaleman." sahut bapak. "Tu kan mas, yaudah aku pergi dulu ya guys. Bye semua, muach!" sahut ku sambil menarik mas Anu menjauh.
"Bener-bener tu anak! Guys guys, emang kita temennya apa." dumel ibu.
- "Lo yakin gamau ganti baju dulu? Ini kita nongki dipinggir sungai lo bukan di mall." ucap bang Satria sejak awal aku masuk mobil ini. "Ih ribut deh bang! Sama aja lo kayak ibu gue." ucap ku sebal. "Ya lagi outfit lo kayak gitu." lanjutnya masih menyebalkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yaudah bilang aja kalo gue nggak boleh ikut! Udah mas aku mau balik aja." jawab ku ketika kami berada didaerah harapan baru.
"Sudah, tidak usah berdebat lagi. Kita ubah rencana saja." ucap mas Anu pelan sambil menghela nafas lelah.
Dan ternyata perubahan rencana yang mas Anu maksud adalah yang tadinya mau nongki di tepian depan kantor gubernur diganti ke mall yang berada tepat di tepian sungai mahakam.
"Yailah kaga seru kali ga kalo nongki disini." sungut bang Satria. "Yang penting sama-sama ditepian sungai sat." jawab mas Anu.
"Gara-gara lu sih! Lagian bucin banget sih lu sekarang ga." sungut bang Satria yang ku balas juluran lidah mengolok.
Setelah memutari mall ini kami memutuskan untuk makan malam disebuah resto suki yang menghadap ke view sungai mahakam.
"Lagian gelap gitu emang mau liat apasih di tepian. Mending disini ena, adem nggak ada nyamuk lagi." ujar ku begitu kami sedang menunggu pesanan kami datang. "Mau hunting cewek lah, kan kalo gelap-gelap gitu enak dibawa ke semak-semak." ujar bang Satria sembari tertawa.
"Kok kamu tahan sih mas temenan sama orang gila kayak dia." tanya ku pada mas Anu yang dihadiahi jitakan di kening ku. "Nggak boleh gitu sama orang tua." sahut mas Anu pelan.