22

25.2K 1.9K 32
                                        

Pelaku yang mengambil kalung itu adalah mbak Emi. Saat kami mendatangi rumah pak mantri bersama pak kades untuk mengambil kalung itu, mbak Emi langsung tidak terkendali ketika kami meminta kalung tersebut. Melihat mbak Emi yang terlihat sangat menyukai kalung itu membuat hati ku terenyuh.

Walaupun awalnya aku tidak rela untuk melepas kalung itu, namun aku berusaha untuk ikhlas ketika melihat mbak Emi yang terlihat sangat menyukai kalung tersebut.

"Yakin ia kamu nggak ambil paksa aja kalung itu?" tanya Intan untuk keseribu kalinya.

"Iya tan! Lo nanya lagi, gue sumpel pake ni daun ya." jawab ku sebal.

"Ya gimana habisnya bagus gitu kalung lo. Mana keliatan mahal lagi." timpal Tyas.

"Kata laki gue ikhlasin aja ntar biar doi ganti sama yang lebih mahal." sahut ku menekan kata mahal kepada mereka berdua yang dibalas nyinyiran mereka.

Aku tertawa melihat reaksi mereka. Saat sedang asyik mengelap daun pisang yang akan kami jadikan alas ngeliwet bersama warga nanti malam, tiba-tiba ada sepasang kaki tak beralas yang muncul disamping ku.

Terlihat mbak Emi yang memandang kami dengan pandangan kosongnya.
"Mbak, kok nggak pake sandal sih." ujar ku sambil mendudukkan dirinya disamping ku.

"Napa lo bedua? Masih aja takut sama mbak Emi." jawab ku geleng-geleng kepala.

"Keren emang lo ia! Udah jadi magnet anak-anak sekarang jadi pawang." jawab Tyas pelan.

"Heh mulut lo!" ujar ku sambil memukul tangannya menggunakan batang daun pisang.

Mbak Emi duduk disamping ku memperhatikan kami yang sibuk mengelap daun pisang.
"Ari." ujar nya pelan.

"Hah? Apa mbak?" bingung kami bertiga.

"Ari." ulangnya sambil mengangkat kalung ku yang ia genggam.

Ari, nama janin yang ia kandung dan digugurkan paksa oleh pacarnya ketika dikota. Pak mantri sempat meminta maaf pada ku saat mengetahui insiden tersebut dan menceritakan segalanya pada kami. Setelah kehilangan anak serta pacarnya tersebut, mbak Emi menjadi seperti saat ini dan pak mantri tidak tega untuk menaruh mbak Emi di rumah sakit jiwa.

Aku, Tyas, dan Intan saling berpandangan ketika kami mendengar dengan jelas apa yang mbak Emi katakan.

"Ehm, kita nanti mau ngeliwet lo mbak dibalai desa. Datang ya! Ntar disana rame terus makanannya enak." ujar ku mengalihkan fokus mbak Emi.

Mbak Emi menoleh padaku dan menatap ku lama.
"Mbak?" ujar ku bingung sambil mengguncang pelan tubuhnya.

Tak disangka mbak Emi langsung terlihat berang dan mencekik ku. Kedua teman ku yang ada disana langsung panik dan berusaha untuk memisahkan kami.

"Kamu! Kamu pembunuh! Kamu ngebunuh anak kita!" uajrnya berapi-api sambil terus mencekik ku.

Mungkin karna suara ribut yang kami hasilkan, anak laki-laki yang sedang memanggang ayam dibelakang posko masuk kedalam.

Aku seperti akan mati saat itu juga dan tiba-tiba cekikan yang ku rasakan terlepas.

Aku langsung terbatuk keras dan mencoba untuk mengambil nafas sebanyak mungkin. Ku lihat mbak Emi memberontak ketika diseret sebagian anak laki-laki keluar dari posko perempuan.

Aku langsung ditenangkan dan diberi minum oleh Tyas.
"Aduh ia, ia lo nggak papah kan." ujar Intan dan Tyas panik.

Aku masih shock sehingga tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Tyas. Kurang lebih 15 menit aku hanya terdiam shock tidak menangis ataupun menjawab pertanyaan bertubi-tubi yang teman-teman ku lontarkan.

Stuck With UTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang