Kebanyakan kriteria ideal para lelaki ketika mencari pasangan itu rata-rata pasti pada nyari yang;
1.Cantik
2. Langsing
3. Pintar
4. Putih
5. Lemah lembut
Tapi sepertinya semua hal itu tidak didapatkan oleh Arganta Kanu Wibisana. Arga dengan sifat...
"Kuliah disini aja deh, sayang." pinta papi ku untuk kesekian kalinya, saat tau aku mendaftar disalah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta.
"Astaga papi! Biarin aja sih anaknya mau kuliah dimana." sebal mami ku yang mungkin sama jengah nya dengan ku.
"Tapi disini univ nya nggak kalah bagus kok." kekeh papi ku yang kini bertugas di kota Makassar.
"Ara ngerti pi, tapi itu univ yang aku cita-cita kan banget dari jama SMP." jawab ku selembut mungkin, berharap papi ku mengerti akan keinginan ku.
"Udahlah biarin aja pi, lagian kan ada Zahid disana." bela mami ku.
Yap, bang Zahid meneruskan jejak karier papi sebagai anggota polisi dan bang Mada kini bekerja disalah satu maskapai yang ada di Indonesia sebagai seorang pilot. Awalnya papi meminta bang Mada agar ikut mendaftar akpol seperti bang Zahid, tapi bang Mada sengaja melambat-lambatkan mengumpulkan berkas yang membuat dirinya gugur sebelum berperang.
"Lagian kalo jadi polisi ntar ketemunya batangan mulu, mending jadi pilot ketemu pramugarai cantik. Ya kan, dek?" ucap bang Mada padaku selepas diceramahi papi mengenai dirinya yang sengaja terlambat mengirim berkas.
"Zahid kan nggak 24 jam dirumah mi, nanti kalo Ara digangguin jamet gimana? Disini mah enak ada papi."
"Haduh capek ngomong sama kamu, mas! Udah deh, mending doain aja Ara keterima di univ itu. Udah tau tu univ mau masuk susahnya minta ampun." ucap mami ku sambil melotot pada papi ku yang membuat papi seketika kicep.
"Yaudah kamu buruan tidur, jangan lupa besok temenin mami arisan."
"Iya mi, Ara tidur dulu ya pi."
"Kamu gimana sih bè, kamu kan tau Ara tu kesayangan mas. Kamu kok tega sih misahin mas sama Ara." ucap papi ku yang masih bisa ku dengar saat meninggalkan ruang keluarga.
- Hari pengumuman itu tiba, aku dinyatakan diterima dikampus impian ku dan aku diminta untuk segera melakukan registrasi dikamlus tersebut. Disinilah aku, menunggu pesawat yang akan aku tumpangi mengantarkan ku ke Jakarta.
Tak perlu ditanya lagi bagaimana reaksi kedua orang tua ku saat aku dinyatakan lulus. Mami ku tentu saja menyambut dengan gembira, tapi tentu tidak dengan papi ku. Setelah membujuk 3 hari 2 malam, akhirnya aku diizinkan juga untuk berkuliah dikampus impian ku walaupun dengan segudang syarat dari papi.
"Sayang nya abang!" seru seseorang saat aku sedang melamunkan kejadian seminggu lalu. Belum sempat aku menoleh, aku merasa seseorang tengah memeluk ku.
"Ih malu diliatin orang-orang, bang." ucap ku pada bang Mada saat ia tak juga melepaskan pelukannya.
"Biarin aja sih, abang udah sering diliatin nggak santai sama orang-orang."
"Adiknya capt?" tanya seorang pria yang juga mengenakan seragam yang sama seperti bang Mada.
"Iya, ini ni yang mau kuliah ke Jakarta. Abang pergi dulu ya, nanti abang lo yang bawa pesawatnya." ucap bang Mada sembari menunjukkan wajah pongahnya.
"Iya iya, yang bener ntar bawanya! Dah buruan sana pergi."
Baru berjalan tiga langkah, bang Mada kembali lagi kearah ku sembari memperhatikan outfit yang kini temgah ku pakai. "Eh bentar, kamu pake baju apaan sih. Kalo ada jamet yang modus gimana?! Nih pake jaket abang, ketemu Zahid auto diceramahin kamu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.