Langkah kaki kecil terburu-buru menaiki tangga dirumah berlantai 3 tersebut dan membuka sebuah pintu kamar bercat putih, "Abang?" ucap seorang gadis kecil sambil melongokkan kepalanya kedalam sebuah kamar.
Terdengar langkah kaki yang terburu-buru dan segera menutup pintu yang gadis kecil itu buka, "Jangan ganggu abang dulu ya, abangnya lagi belajar."
"Main. Ala mau main."
"Iya, main sama mami aja yuk. Kita main masak-masakan." ucap Kia mencoba membujuk gadis kecil tersebut untuk meninggalkan.
Dengan lesu gadis kecil menengadahkan tangannya pertanda meminta untuk digendong sang mami sambil menatapa nanar pintu putih yang tadi dibukanya. Gadis kecil itu adalah anak bungsu Kia & Arga, Queen Arabella Shaletta. Memiliki rentang usia 9 tahun dengan si kembar. Gadis kecil yang menjadi kebanggaan serta kesayangan sang papi, Arganta Kanu.
Zahid si sulung seperti jiplakan Arga yang pendiam terkesan cuek & Mada si kembar kedua jiplakan Kia yang sangat ekspresif dan tidak bisa diam. Awalnya Kia & Arga memang hanya berencana memiliki si kembar saja sesuai slogan pemerintah "dua anak lebih baik". Namun saat sedang sibuk-sibuknya pindahan ke Bandung, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan Kia yang positif hamil.
-
"Halo sayang nya papi, kok lesu gitu sih?" tanya Arga saat baru pulang kerja dan mendapati putri kesayangannya yang bermain dengan lesu.
"Jawab dong sayang, papi nanya lo itu." ucap Kia saat Ara tak menjawab pertanyaan papi nya.
"Kenapa sih bè? Zahid lagi?"
"Iya, coba kamu yang ngomong sama Zahid mas. Mbok yo main gitu lo sama adeknya, jangan belajar terus."
"Hello evribadehhh! Wididi pada serius amat nih, ada apaan sih?"
"Astagfirullah Mada! Kalo masuk rumah salamnya yang bener dong!" sungut Kia pada Mada, si kembar nomor 2.
"Abang." ucap Ara sembari berlari untuk memeluk abangnya yang baru pulang selepas bermain sepak bola dilapangan komplek sebelah.
"Eh abang kotor sayang, abang mandi dulu ya abis itu kita main. Oke?" ucap Mada mencegah Ara yang hendak memeluknya.
"Oce!" jawab Ara bersemangat dan duduk kembali memainkan mainan masak-masaknya.
"Untung ada Mada, yaudah mas keatas dulu ya mau ngomong sama Zahid."
-
"Bang, papi boleh bicara sebentar?" ucap ku sembari mengetuk pintu kamar anak pertama ku, Zahid.
"Masuk aja pi, nggak abang kunci."
Baru masuk aku sudah disuguhkan pemandangan kamar yang berserakan dengan gumpalan kertas serta buku-buku yang tersusun tinggi dimeja belajar.
"Istirahat dulu belajarnya bang." ucap ku sembari memunguti kertas-kertas yang berserakan.
"Hmm." jawab Zahid ala kadarnya dan terus saja belajar.
"Papi mau nanya deh, abang nggak sayang sama Ara?" tanya ku pelan sambil memperhatikan Zahid.
"Papi ngomong apaan sih, mana mungkin abang nggak sayang sama adik sendiri."
"Oh gitu, tapi kenapa abang nggak pernah mau main sama Ara?"
"Bukan nggak mau pi, tapi abang harus belajar biar nanti bisa kayak papi."
"Papi dulu biasa aja ah, nggak kayak abang biar bisa begini. Papi senang abang rajin belajar dan punya kemauan kuat buat jadi kayak papi, tapi jangan terlalu keras bang."
"Ara suka nanya loh kenapa abang jarang main sama dia, besok-besok kalo abang belajar terus abang nggak papi beliin buku lagi ya. Dah, turun yuk bang sudah mau makan malam." ucap Arga sembari berlalu dari kamar anak sulungnya tersrbut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck With U
RandomKebanyakan kriteria ideal para lelaki ketika mencari pasangan itu rata-rata pasti pada nyari yang; 1.Cantik 2. Langsing 3. Pintar 4. Putih 5. Lemah lembut Tapi sepertinya semua hal itu tidak didapatkan oleh Arganta Kanu Wibisana. Arga dengan sifat...
