"Pada akhirnya takdir Allah selalu baik. Walaupun terkadang perlu air mata untuk menerimanya."
-Umar bin Khattab
***
Askar membuka matanya, ia tersenyum begitu melihat wajah Alisha yang tidur dengan damai. Umur pernikahan mereka sudah tiga bulan. Hari ini adalah hari dimana Askar melaksanakan Ujian Nasional sebelum kelulusannya. Askar berniat untuk sholat tahajud. Memohon kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya dan diberi kelancaran dalam mengerjakan semua soal-soalnya.
Askar bergerak secara perlahan agar tidak membangunkan Alisha. Namun Alisha tetap terusik dalam tidurnya dan membuat Alisha terbangun.
"Selamat pagi, Kasa." Askar mengecup pipi Alisha bergantian, dimulai dari kanan hingga kek kiri.
"Pagi, Kar." Alisha menatap jam dinding yang ada di dalam kamar mereka. Setelah itu Alisha menatap Askar. "Mau tahajud ya, Kar?"
Askar mengangguk. "Kasa mau sholat juga?"
"Iya, makasih udah bangunin."
"Sebenernya Askar enggak niat bangunin, Kasa. Askar justru takut Kasa ke bangun."
Alisha tersenyum, sebenarnya ia sudah bangun lebih dulu daripada Askar. Hanya saja Alisha kembali menutupnya saat melihat pergerakan Askar disebelahnya. Dan ternyata Askar juga ikut terbangun. "Aku duluan atau kamu?"
"Kasa aja, Askar bisa nunggu, Kok. Lama juga enggak apa-apa."
Alisha menggeleng tidak setuju. "Kamu aja kalo gitu."
"Enggak, Kasa aja duluan."
"Aku mau ngambil minum di dapur."
"Aku yang ngambil." ujar Askar tak mau kalah.
Alisha membuang nafasnya pelan. "Ya udah, aku duluan."
***
Alisha melambaikan tangannya kepada Askar yang hendak pergi sekolah. Sampai punggung Askar benar-benar menghilang, barulah Alisha masuk ke dalam rumah untuk bersih-bersih. Sebenarnya, rumah yang Alisha tempati tidak begitu kotor. Hanya saja, tidak enak dipandang mata Alisha. Sebaiknya ia bersihkan, daripada Alisha menganggur dirumah.
Sehabis membereskan dan menyapu rumah dengan bersih, Alisha pergi ke dapur untuk mencuci piring yang digunakan untuk sarapan pagi tadi. Ah iya, Askar tadi meminta padanya untuk membawakan bekal. Askar bilang, saat ujian ia tidak bisa jajan di kantin. Bukan karena kantin sekolah tutup, tapi karena tidak cukupnya waktu. Sebab itu juga uang jajan Askar selalu utuh saat ujian. Jadi, alangkah baik Askar membawa bekal dari rumah. Tidak hanya hemat, namun juga sehat.
Alisa merebahkan tubuhnya di sofa. Ia telah selesai melakukan pekerjaan rumah.
Rumah terasa sepi bila tidak ada Askar. Tidak mungkin juga setiap hari Alisha menyuruh Davina dan Riska untuk datang ke rumahnya. Walaupun bisa dibilang perumahan yang Alisha tempati ini tak jauh dari perumahan yang Alisha tempati bersama Abhi, Aisyah, dan juga Akbar. Sepertinya Askar telah menyusun semuanya.
Alisha melihat ke arah jam dinding. Karena masih pagi, sepertinya lebih bagus jika Alisha berjalan-jalan keliling perumahan. Lagipula ia jalan keluar, sebaiknya Alisha melakukan ini sambil menyapa para tetangganya.
Alisha berganti baju terlebih dahulu sebelum keluar rumah. Setelah selesai berganti baju, Alisha mengunci pintu rumah.
Alisha berjalan perlahan, Alisha menemukan anak kecil yang menangis. Alisha yang tidak tega langsung menghampirinya. "Kenapa nangis?"
Nangis anak kecil perempuan itu terhenti. "Kakak siapa? Kakak sehalusnya jauh-jauh dali aku. Nanti Kakak kena malah Mama juga." ucap nya yang masih cadel dengan huruf 'r.'
"Mama marah sama kamu? Kenapa?" Alisha mengelus-elus punggung anak kecil itu.
"Aku enggak sengaja jatuhin bunga, Mama."
"Narisya!" wanita yang Alisha perkirakan sudah memasuki kepala empat itu menghampiri mereka.
"Mama!" anak kecil yang tadinya menangis itu berlari memeluk wanita itu. "Mama udah enggak marah sama, Risya?"
Wanita itu menggeleng. "Mama enggak marah, mana pernah Mama marah sama kamu." Wanita itu beralih menatap Alisha. "Kamu siapa, ya?"
"Ah, saya Alisha."
Wanita itu berpikir sesaat. "Ooh! Kamu yang tinggal di rumah sebelah sana, kan?"
Alisha mengangguk. "Salam kenal, Kak ... ?"
Wanita itu tertawa dan tersenyum. "Nama saya Nesya, panggil Kakak aja enggak apa-apa. Biar keliatan muda, tapi emang keliatan muda, kan?"
Alisha tersenyum, memang benar. Walaupun Alisha perkirakan Nesya sudah memasuki kepala empat. Namun wanita itu masih Masya Allah kelihatan cantik dan awet muda.
"Sini mampir, Alisha. Keliatannya Narisya nyaman sama kamu." kata Nesya.
Alisha tersenyum. "InsyaAllah, Kak. Tapi ini enggak seperti keliatan nya kok. Aku kan tadi nanya, dan ternyata di jawab sama Narisya." jelas Alisha.
"Enggak, itu artinya dia suka kamu. Biasanya kalo ada orang yang nanya sama Risya dia malah makin nangis."
Ah, Alisha baru tersadar bahwa ada hal seperti itu juga.
"Aku denger-denger kamu pengantin baru kan, ya?"
"Udah enggak pengantin baru lagi, Kak. Udah tiga bulan soalnya."
"Masih bisa itu di bilang pengantin baru. Kamu udah punya anak belom? Kalo belom semoga nanti kamu punya anak ya." Nesya tersenyum, wanita itu semakin mendekat ke arah Alisha dan berbisik. "Kalo enggak suruh suami kamu rajin olahraga malamnya."
Alisha membulatkan matanya. Sungguh, ucapan yang terdengar sangat vulgar di telinga Alisha langsung membuat Alisha terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Askar Untuk Alisha [END]
Romance"Kita nikah besok aja bisa gak sih, Kak? Kalo kayak gini ceritanya aku kan gak bisa marah sama Kakak. Karena aku bukan siapa-siapa Kakak." *** Selama ini Alisha tidak pernah dekat ataupun berhubungan dengan lelaki manapun. Alisha selalu berusaha me...
![Dari Askar Untuk Alisha [END]](https://img.wattpad.com/cover/229743990-64-k820607.jpg)