21

580 63 0
                                    


Thor Balikkk

.

.

.

.

Happy Reading Good Reader^^

.

.

.

.

.


Malam ini Taehyung dan kedua hyungnya Seokjin dan Namjoon terbang ke Korea. Setelah persiapan matang, Taehyung benar-benar ikut dengan kedua hyungnya. Meskipun sempat terjadi pertengkaran kecil pada akhirnya Taehyung ikut dengan mereka.

Dengan menggunakan jet pribadi keluarga mereka pada pukul 9 malam mereka terbang ke tempat kelahiran mereka. Taehyung terdiam sembari menatap langit di balik jendela. Langit malam ini sangat cerah, bintang-bintang bergelantungan manis angkasa dan Taehyung sangat menyukainya.

Taehyung mungkin memang banyak berubah tapi hobinya menatap langit malam dan bintang-bintang tak akan pernah berubah. Mungkin karena dulu ia begitu suka melihatnya bersama Jimin di masa lalu, kebiasaan itu masih ia lakukan.

Bagi Taehyung, Jimin itu segalanya. Ia bagaikan setengah jiwa dan tubuh Taehyung. Jimin banyak berpartisipasi dalam hidup Taehyung. Bahkan ketika Seokjin dan Namjoon yang kala itu jarang sekali di rumah dan pulang ke Korea, Jiminlah yang menemaninya. Jimin berharga bagi Taehyung dan akan selamanya seperti itu.

Mungkin Taehyung memang sempat kecewa dan kesal karena kejadian beberapa waktu silam tapi Jimin tetaplah seorang nomor satu untuk Taehyung. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan Jimin sekalipun ia harus dibenci Jimin.

Entah mengapa didalam jet itu terasa sedikit sepi. Taehyung mengedarkan matanya dan mendapati Seokjin hyungnya tertidur cukup pulas dan Namjoon hyungnya yang masih sibuk membaca bukunya dalam diam. Taehyung tersenyum tipis melihat kedua hyungnya yang masih bersamanya hingga sekarang.

'Seokjin hyung terlihat lelah.' Gumamnya ketika melihat selimut Seokjin yang terlepas dari tubuhnya. Taehyung beranjak dari duduknya dan membenarkan selimut Seokjin sampai batas dada. Namjoon terlihat tak terganggu dengan kegiatan sang adik dan terus membaca bukunya dengan serius seolah tengah menyelami dunianya.

Mungkin memang benar yang dikatakan banyak orang. Taehyung adalah definisi evil sekaligus monster. Pemuda dengan tangan besi dan memiliki kewenangan yang cukup besar di dunia bawah dan mafia. Orang-orang bawah yang mendengar namanya sudah pasti bergidik ngeri karena sifatnya yang tak kenal ampun.

Tapi siapa sangka, jika ia hanyalah seorang pemuda yang begitu menyayangi kedua hyungnya dan orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga terdekatnya. Bagi Taehyung itu sudah cukup. Persetan dengan anjing-anjing jalanan yang terus menggonggong. Ia tak peduli, toh baginya hal-hal semacam tak ada untungnya bagi dirinya.

Setelah lebih dari dua jam berada di jet, akhirnya mereka sampai. Mungkin mereka bisa saja sampai sekitar satu jam yang lalu tapi Taehyung meminta pilotnya untuk bersantai dan pelan-pelan agar kedua hyungnya dapat beristirahat cukup.

Didepan pintu keluar beberapa pria berpenampilan jas rapi sudah menunggu mereka bertiga. Seokjin kemudian meminta mereka untuk membawa beberapa koper dan tas yang berisi keperluan mereka selama beberapa minggu atau mungkin bulan di Korea.

Dengan diikuti empat mobil dibelakangnya, Taehyung dan kedua hyungnya melaju ke mansion mereka yang sudah lama tak mereka kunjungi.

"Perlu hyung yang menggantikanmu menyetir Tae?" Taehyung menggeleng pelan. Ia melirik kursi belakang yang mendapati Namjoon hyungnya tertidur lagi sembari memangku laptop kesayangannya.

"Tidurlah hyung. Aku tak apa. Ini sudah biasa." Ucap Taehyung singkat dan fokus dengan menyetirnya lagi. Seokjin terpaksa menuruti sang adik dan ikut tertidur bersama Namjoon. Taehyung kembali mengulas senyumnya. Entah sudah beberapa kali ia tersenyum untuk hari ini karena tingkah hangat kedua hyungnya.

Setelah satu jam lamanya, mereka akhirnya sampai ke mansion. Taehyung segera membangunkan kedua hyungnya pelan takut membuat mereka terkejut. Setelah dirasa Seokjin dan Namjoon terbangun, Taehyung lalu berjalan lebih dulu.

Di depan pintu mansion sudah ada beberapa pelayan yang menyapanya. Taehyung mengangguk pelan dan mendekati kepala pelayan keluarganya.

"Senang bertemu dengan anda lagi, Tuan Muda." Sapa kepala pelayan itu dengan sopan.

"Saya juga paman Kang." Ucap Taehyung lalu berjalan memasuki mansion diikuti Seokjin dan Namjoon yang tak lupa menyapa pelayan yang sudah bekerja bertahun-tahun untuk keluarga mereka.

"Semua sudah saya siapkan tuan. Kamar anda seperti biasa dilantai 3." Taehyung mengangguk pelan dan berjalan kearah lift diikuti dengan Seokjin.

"Terimakasih paman Kang." Ucap Taehyung dan Seokjin sebelum mereka benar-benar naik ke kamar mereka masing-masing.

"Saya istirahat dulu paman Kang. Terimakasih untuk penyambutannya. Selamat malam." Ucap Namjoon sopan pada pelayan Kang yang sudah mereka anggap sebagai keluarga.

Denah kamar ketiga Kim itu masih sama. Namjoon berada di lantai 1, Seokjin lantai 2, dan Taehyung lantai 3. Maklum saja. Karena Namjoon tak ingin berakhir terkilir karena terpeleset dari lantai dua di waktu dulu. Seokjin sendiri tak terlalu mempermasalahkan kamarnya dimana, asalkan bisa tidur nyenyak ia sudah cukup.

Taehyung segera memasuki kamarnya yang sudah sangat lama tak ia kunjungi. Ada nuansa berbeda disana. Mungkin karena cat dindingnya diganti dan beberapa perobatan di tambah dan dikurangi membuat kamar itu sedikit berbeda. Tidak seperti dulu.

Bahkan beberapa foto yang tergeletak di beberapa nakas dan meja kamarnya itu sudah tak ada lagi. Biasanya wajah Jimin akan selalu ada di setiap foto itu, namun sekarang tidak ada. Foto itu lenyap. Mungkin Seokjin hyungnya yang meminta hal itu agar Taehyung bisa menjadi lebih tenang.

Taehyung meletakkan tasnya berisi beberapa barang pentingnya. Merebahkan tubuhnya diranjang yang tidak terlalu lebar itu dan terlelap perlahan dalam mimpinya. Tidak biasanya Taehyung menjadi cepat tertidur, biasanya ia baru akan tidur setelah pukul 3 pagi. Tapi kali ini ia begitu lelap, mungkin karena efek perjalanan yang sedikit membuatnya lelah.

.

.

.

.

.

LET YOU GO? (The End.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang