Double upp
.
.
.
.
happy Reading Good Reader^^
.
.
.
.
Sore ini Jimin bersiap-siap untuk bertemu dengan Seokjin hyungnya di kafe Jamjam. Ia sudah menyiapkan begitu banyak pertanyaan untuk sang hyung. Yoongi sudah dua hari ini berada di studionya karena projek tahunan yang harus ia selesaikan lagi.
Tanpa pikir panjang ia melajukan mobilnya menuju kafe Jamjam lebih awal sekalian menenangkan diri sembari menyesap kopi. Hari ini akan menjadi kedua kalinya ia bertemu dengan Seokjin.
Jimin memesan americano untuk menemaninya kali ini. Ia sedang tak ingin expresso karena menurutnya ia tak ingin rasa pahit kopi jenis itu menganggu moodnya. Disesapnya kopi itu perlahan dan diedarkan manis tipis itu kesegala arah. Seokjin hyungnya belum datang dan Jimin tidak sabaran.
"Jimin.." panggil seseorang dengan senang. Jimin segera mengedarkan pandangannya namun hanya menemukan Hoseok hyung rekan dari Yoongi hyungnya yang mendekat.
"Ah, kau hyung. Sedang kemari?" tanya Jimin heran.
"Sedang membeli ini. Kau sendiri sedang apa? Tumben tidak lembur di kantor." Ucap Hoseok sembari menenteng dua es kopi.
"Sedang menunggu seseorang."
"Siapa?" tanyanya
"Seokjin hyung" Hoseok membulatkan matanya sejenak karena terkejut.
"Wow, ada perlu apa kau dengan saudara Kim tertua itu Jim? Apa karena kasus itu?" Jimin mengangguk pelan.
"Untuk rekamannya kemarin. Terimakasih hyung. Itu sangat membantu." Ucap Jimin. Hoseok mengangguk antusias.
"Aku cukup terkejut bisa menemukan rekaman itu Jim. Awalnya aku tidak percaya tapi ketika kulihat baik-baik. Aku tak bisa menjelaskan keterkejutanku saat itu." jelas Hoseok yang kembali teringat dengan penemuan potongan video pendek itu.
"Ya sudah, kalau begitu hyung pergi dulu. Sampai jumpa Jim." Ucap Hoseok yang kemudia pergi dari kafe itu.
Tak butuh waktu lama, Seokjin berjalan memasuki kafe tersebut. Semua mata memandang kagum pada Seokjin karena ketampanannya dan gaya berpakaiannya yang meski sederhana tapi terlihat mewah itu.
Seokjin mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jimin dan setelah melihatnya ia melambaikan tangannya pelan. Berjalan menuju kasir dan memesan sesuatu untuknya dan Jimin.
"Apa kau menunggu lama Jim?" tanya Seokjin sembari duduk di kursinya.
"Tidak hyung, aku baru saja sampai." Jawab Jimin singkat.
"Jadi bagaimana kabarmu Jim? Aku sedikit kecewa karena kau tak mengajak Yoongi untuk bertemu." Ucap Seokjin pura-pura kesal.
"Yoongi hyung sedang menyelesaikan musiknya, hyung. Ia sudah dua hari ini berada di studionya dan belum pulang." Seokjin mengangguk paham.
"Jadi apa yang membuatmu ingin bertemu denganku Jim? Apa ini masalah serius?" tanya Seokjin tanpa bertele-tele.
"Mungkin bisa jadi hyung. Kudengar hyung baru saja bertunangan, selamat ya hyung. Selamat ya hyung, maaf baru mengucapkan sekarang. Aku tahu dari Jungkook." Seokjin tersenyum lembut menatap Jimin dan kemudian mengangguk pelan.
"Sama-sama Jim. Setelah ini aku minta hyungmu untuk segera memiliki kekasih Jim. Kasian jika Yoongi terlalu fokus dengan pekerjaannya." Jimin terkekeh pelan.
"Yoongi hyung sudah memilikinya kok, hyung. Mereka sudah pacaran selama dua tahun ini. namanya Sora." Seokjin terkejut mendengar pernyataan Jimin.
"Wow, ternyata Yoongi bisa memiliki kekasih juga rupanya." Jimin terkekeh kembali.
"Hyung...emm.. bagaimana kabar Taehyung?" tanya Jimin tiba-tiba.
"Baik. Dia baik. Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Seokjin tiba-tiba.
"Mungkin tidak untuk sekarang, hyung." Seokjin mengangguk pelan sembari teringat kejadian beberapa waktu silam.
"Hyung, apa Taehyung memiliki kekasih? Maksudku apa kau mengenal seorang wanita bernama Yoona." Tanya Jimin.
"Kurasa aku pernah mendengar nama itu beberapa kali di masa lalu. Memangnya ada apa Jim?"
"Kudengar dari Jungkook, ia adalah salah satu kekasih Taehyung. Aku cukup paham bagaimana playboynya Taehyung dimasa sekolah dulu. Aku pikir kau mengetahuinya hyung jadi aku bertanya padamu." Jelas Jimin yang kemudian menyesap kopinya lagi. Seokjin ikut menegak kopinya perlahan.
"Apa ini ada hubungannya dengan kasusmu Jim?" ucap Seokjin sembari melirik Jimin di seberang cangkir yang ia pegang. Jimin memandang diam saudara Kim di depannya itu.
"Ia baru-baru ini terbunuh dengan cukup kejam. Timku baru saja menyelidikinya lagi dan aku tak ingin terlalu cepat berspekulasi. Kasus ini seolah begitu janggal." Jelas Jimin
"Apa kau khawatir kami dalang dari semua ini Jim?" ucap Seokjin yang membuat Jimin menatapnya lekat. Seokjin menyeringai tipis sekali.
"Tapi kau tak memiliki bukti yang cukup akurat untuk menjebloskan salah satu dari kami Jim." Ucap Seokjin lagi yang membuat Jimin menatapnya serius.
"Aku memiliki bukti yang sangat akurat hyung dan mungkin kau tidak akan percaya dan mengelaknya." Seokjin terkekeh seoalah mengejek saudara Min nya itu.
"Aku tak tahu apa rencana kalian hyung, tapi pihak kepolisian sedang mematangkan diri. Aku mungkin akan dianggap bodoh dan berkhianat karena sudah membocorkan informasi ini pada pihak luar tapi aku memang harus membicarakan hal ini. Kami akan menangkap Taehyung secepat mungkin." Seokjin membulatkan matanya tak percaya.
"Kalian benar-benar cari mati dengannya Jim." Seokjin masih tak percaya dengan rencana kepolisian pusat. Sebegitu kotorkah adiknya hingga begitu banyak orang memburunya.
"Kami tahu, tapi kasus ini sudah melewati batas kemanusiaan dan bukti yang kami miliki sudah cukup untuk menangkap Taehyung."
Setelah ucapan Jimin, Seokjin terdiam sibuk dengan pikirannya. Ia bukan takut sang adik dijebloskan penjara tapi ia takut akan terjadi pertumpahan darah lagi. Taehyung sudah banyak membunuh orang dan tugas Seokjin dan Namjoon adalah meminimalis nyawa yang melayang karena emosi Taehyung yang terkadang susah untuk dikendali.
Dengan Jimin berkata akan menangkap dan menjebloskan adiknya itu kepenjara, hal itu sudah menjadi tanda jika kepolisian pusat sudah siap berperang dengan Taehyung dan dunia bawahnya. Seokjin tak bisa membayangkan hal itu.
*tring tring..
Ponsel Seokjin membangunkannya dari lamunan. Segera ia angkat ketika mengetahui siapa yang menelpon dirinya. Namjoon menelpon karena ia meminta sang hyung untuk membelikan japchae dan mandu untuk Taehyung di mansion. Seokjin tersenyum tipis ketika mendengar pesanan itu. Jimin masih terus memandangnya diam.
"Jimin-ah, kau ingin tahu satu kebenaran dari Taehyung?" ucap Seokjin setelah mematikan sambungan teleponnya. Jimin menatap Seokjin seolah meminta jawaban.
"Dia bukanlah seburuk yang orang-orang tahu dan aku pikir kau juga tahu akan hal itu." Setelah menyelesaikan ucapannya, Seokjin beranjak dari duduknya dan berpamitan pergi dengan alasan ada urusan mendadak yang sangat penting.
Jimin terdiam setelah mendengar ucapan Seokjin sebelum hyungnya itu pergi meninggalkannya sendirian.
"Tidak hyung, Taehyung masihlah monster dan dapat mengamuk kapan saja. Kau hanya tak tahu hati seseorang yang sebenarnya." Gumamnya dan menegang habis kopi miliknya.
.
.
.
.

KAMU SEDANG MEMBACA
LET YOU GO? (The End.)
Short Story"Kau tahu Jim? Aku masihlah sama. Senang bertemu denganmu lagi Jim. Kau sudah banyak berubah ternyata. Kurasa mati ditanganmu tak terlalu buruk." ucap Taehyung sembari terkekeh. . . "Kau benar Tae. Kau masih sama. Monster kecilmu juga masih menakutk...