Part XLI

16 3 0
                                    

"Perutku tiba-tiba sakit, Jong Dae-ya," rengek Baek Hyun tak bisa diam.

"Yaa! Apa-apaan kau ini?" omel Jong Dae.

"Na molla!" cemberut Baek Hyun. Namja manis itu tampak memegang perutnya. Duduknya pun semakin tak tenang. Ia kembali mengingat-ingat apa yang sudah dimakannya sampai membuat perutnya sakit seperti ini.

Jong Dae mendengus sebal. "Yaa! Kau ini kenapa eoh?". Ia pun menatap tajam Baek Hyun, "Kau mau tahu kenapa perutmu sakit? Itu karena kau yang terlalu tegang! Yaa! Ini kan hanya pertemuan biasa," gerutu Jong Dae.

Baek Hyun memutar bola matanya malas. "Kau bilang ini hanya pertemuan biasa? Yaa! Ini singa dan robot yang kau ajak bertemu bodoh!" ujar Baek Hyun agak meninggi.

"Biarlah. Aku tak peduli jika harus baku hantam di antara keduanya. Kita lihat saja," jawab Jong Dae ringan. Ia menyeruput Americano dinginnya dengan santai.

"Annyeong haseyo."

Sebuah sapaan yang mampu membuat mulut Baek Hyun berhenti mengoceh. Baik Baek Hyun maupun Jong Dae, keduanya menjawab sapaan tersebut dan mempersilahkan duduk. Terlebih lagi Jong Dae, namja itu bersikap manis dan tersenyum menyambut kedatangannya.

"Kamshamnida. Mianhaeyo aku datang agak terlambat," ujar seseorang tersebut menarik kursi yang ada di depan Baek Hyun.

"Gwenchana," sahut Jong Dae. Baek Hyun yang terkenal sangat berisik, mendadak diam. Namja itu duduk manis di samping Jong Dae, sibuk dengan minumannya.

"Kelasku baru saja selesai dan langsung datang kemari. Apa yang ingin hyung beritahu?" tanya Jong In to the point walau namja itu terlihat sangat kikuk. Ini pertama kalinya ia berbicara langsung dengan kedua senior kakaknya.

Pertanyaan yang langsung ke titik masalah, cukup membuat Baek Hyun tercengang. Jujur saja, ia paling tidak suka dengan bagian ini. Sikap temperamental Jong In tempo hari, masih terekam jelas di otaknya. Bagaimana adik dari Kim Ha Na ini nyaris mengamuk di tempat umum karena kedapatan sang kakak tengah bersama Min Seok.

"Bukan aku yang akan memberitahumu. Akan ada seseorang yang menjelaskan semuanya. Kau harus tahu kebenarannya, Jong In-ah," jawab Jong Dae tenang.

Jong In mengerutkan keningnya. Ia tampak bingung maksud dari kalimat Jong Dae yang baru saja terucap.

"Maksud -" kalimat Jong In terpotong saat ada seseorang datang menghampiri meja mereka.

Nafasnya tertahan. Matanya menatap nyalang saat mengetahui siapa yang baru saja tiba.

"Dan dia yang akan memberitahumu akan kebenarannya," jelas Jong Dae menunjuk namja yang baru datang. Ya, orang itu adalah Kim Min Seok, si pemegang kunci kebenaran.

"Ne? Aku? Wae?" Min Seok menunjuk dirinya sendiri. Bingung. Ia baru saja menarik bangku tepat di samping Jong In. Namja kulit seputih salju itu bahkan belum menyadari siapa yang tengah duduk di sebelahnya.

Baek Hyun menggerakkan kepalanya seakan memberikan petunjuk kepada Min Seok agar segera menoleh ke samping tempatnya duduk. Dan satu.. dua.. tiga! Bingo! Keterkejutan Min Seok sangat sesuai dengan ekspektasi Baek Hyun. Ya, namja itu sangat terkejut. Sedangkan Jong In, namja berkulit sedikit gelap itu terlihat sedang mengatur emosinya.

"Jujur saja, sebenarnya aku tak ingin ikut campur tapi melihat keadaan yang semakin tak membaik, ku rasa ini harus segera diluruskan," ujar Jong Dae memecahkan suasana tegang yang baru saja terjadi.

Pandangan Jong Dae beralih ke Min Seok, "Ku rasa ini waktunya, Min Seokie. Mau sampai kapan kau terus bungkam? Aku dan Baek Hyunie tidak mau melihat kau menyesal di kemudian hari."

Cinta Pandangan PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang