"Noonaaa.." panggil Jong In mengitari seluruh ruangan mencari sang kakak. "Noona eodieseo?"
Hening. Jong In menatap jam dinding, sudah seharusnya sang kakak berada di rumah. Ke mana yeoja itu? Ia pun berjalan menuju rak sepatu yang terletak di dekat pintu masuk, memastikan sepatu kakaknya sudah berada di sana.
Dahi Jong In mengerut. Dugaannya tidak salah. Sepatu milik Ha Na sudah tertata rapi di dalamnya. Lalu ke mana dia? Memasak? Tentu saja tidak! Dapur tampak hening. Tak ada aktivitas di sana. Tidur? Ahh.. ini bukan seperti kakaknya! Ha Na tidak mungkin tidur pada jam saat ini.
Jong In yakin ada yang salah di sini. Pasti ada suatu hal yang menimpa kakaknya. Biasanya, Ha Na akan berbicara layaknya burung kakak tua, entah itu mengomel atau mengajaknya bergurau. Namun, akhir-akhir ini yang ia lihat mulut sang kakak seperti di lem. Yeoja itu lebih banyak diam. Dan rumah terasa semakin sunyi semenjak ayah mereka pergi keluar kota selama dua minggu karena urusan kantor.
Lelah mencari, matanya menangkap sesuatu yang aneh di sana. Pintu balkon jarang sekali terbuka ketika sang ayah tak ada di rumah. Ia menaruh curiga jika kakaknya, Ha Na berada di sana.
Jong In berdiri di ambang pintu, menatap Ha Na yang tengah melamun tanpa menyadari kehadirannya. Angin malam yang dingin, datang menerpa dan menusuk-nusuk kulitnya yang sedikit gelap. Namun, yeoja di sana tak terusik sedikit pun.
"Apa noona tidak kedinginan?" tanya Jong In memakaian sweater yang ia pakai ke tubuh sang kakak.
Ha Na sedikit terkejut akan kehadiran Jong In. Yeoja itu tampak salah tingkah. "Ahh.. kau lapar? Ayo masuk! Kau ingin makan apa?" tanya Ha Na mengangkat tangannya melihat jam tangan yang melingkar manis di sana.
Jong In mengekor dan menutup pintu balkon. "Aku tak ingin makan apa pun. Noona wae?"
"Ma-maksudmu?"
Jong In menghela nafas. Ia memperpendek jarak keduanya. "Geojitmal hajima! Noona tahu, aku paling tidak suka dibohongi."
"Geojitmal?"
Jong In menghela nafas lagi. Kali ini, ia mencengkram bahu Ha Na, "Katakan padaku, apa yang sedang terjadi? Apa masalah noona? Apa noona pikir aku bodoh?"
"Berhenti omong kosong, Jong In-ah. Noona sungguh tak mengerti maksudmu."
Jong In menatap sendu yeoja yang ia panggil noona. 'Teruslah berbohong padaku, noona. Aku sendiri yang akan mencari tahu dibalik diammu ini.'
"Kau yakin tak ingin makan? Jika tidak, noona akan pergi ke kamar. Noona ingin tidur lebih awal. Begitu melelahkan hari ini."
Jong In menggeleng, "Jaljayo."
¤¤¤¤¤
Ruang latihan yang terkadang berisik, kini senyap. Ada apa ini? Pikir Baek Hyun. Seakan ada perang dingin yang melibatkan kedua sahabatnya ini. Ia berusaha mencairkan suasana tapi gagal.
"Aku keluar dulu beli minuman dan beberapa cemilan. Ada yang mau menitip sesuatu?" tanya Baek Hyun mendadak canggung.
Tak ada yang menjawab. Situasi macam apa ini? Ia diabaikan? Ahh.. terserah mereka saja!

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pandangan Pertama
FanfictionMin Seok, namja yang memiliki kulit putih bak salju yang cukup populer di sekolahnya, ia tidak percaya jika cinta bisa datang saat pandangan pertama. Baginya, cinta itu tumbuh di antara dua orang yang saling mengenal satu sama lainnya. Akan tetapi...