Min Seok, namja yang memiliki kulit putih bak salju yang cukup populer di sekolahnya, ia tidak percaya jika cinta bisa datang saat pandangan pertama. Baginya, cinta itu tumbuh di antara dua orang yang saling mengenal satu sama lainnya. Akan tetapi...
Sudah empat musim berganti setiap tahunnya dan hari ini tepat setelah enam tahun berlalu semenjak hari kelulusan ia bertemu dengan namja berkulit putih bak salju itu. Hingga saat ini, Ha Na masih belum tahu di mana rimbanya. Namja itu menghilang, lenyap bagaikan di telan bumi. Sekeras apa pun usaha Ha Na mencari tahu, hasilnya akan tetap sama. Nihil. Ia benar-benar tidak mendapatkan informasi sedikit pun tentang namja yang sempat mengisi hari-harinya sewaktu mereka sama-sama duduk di bangku sekolah bahkan sampai sekarang, hatinya pun masih tetap sama.
Sore itu, Ha Na duduk manis di dekat jendela di dalam kafe, ditemani secangkir MochaLatte dan Spongecake kesukaannya. Kamera digitalnya tertata manis di atas meja. Disandarkan bahunya pada sandaran kursi, matanya menatap keluar berusaha menikmati pemandangan yang tercipta di luar sana. Ia hanya menatap namun hati dan pikirannya terbang melayang jauh entah ke mana.
Lamunannya terhenti ketika ada suara namja yang tiba-tiba datang menyapa indera pendengarannya. Ha Na mendongakkan kepala ke arah asal suara ketika namja yang berdiri di depannya tanpa permisi langsung meletakkan segelas Americano dingin tepat di atas mejanya.
"Annyeong!" sapa si pemilik gelas berisi Americano dingin lengkap dengan senyumnya yang teramat manis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ku rasa hanya di sini meja yang kosong. Mau berbagi meja denganku?"
Ha Na masih mematung di tempatnya. Ia merasa dejavu. Kejadian hari ini sama persis dengan kejadian sewaktu siang di kantin sekolah saat itu. Kalimat dan bahkan senyumnya, semuanya masih terasa sama baik di telinga maupun dalam ingatannya. Hari di mana untuk pertama kalinya ia dapat duduk dan makan bersama dengan namja yang disukai atau lebih tepatnya seseorang yang sangat ia kagumi bersama dengan temannya yang cukup populer juga kala itu. Dan siang itu adalah awal dari semuanya.
"Apa kabar?" tanyanya lagi yang kini sudah duduk menghadap Ha Na.
Ha Na mengangkat garis bibirnya ke atas membuat sebuah lengkungan. Ia tak percaya akan bertemu dengan seniornya setelah sekian lama. "Aku baik, oppa. Oppa sendiri bagaimana?"
"Aku juga sangat baik. Lama tak berjumpa."
Ha Na tertegun menatap wajah hangat itu. Senyumnya sama sekali tidak berubah, masih sama ketika terakhir ia bertemu di saat hari kelulusan. Dadanya terasa sesak. Isi kepalanya berusaha memutar kembali kenangan lama bersama ketiga seniornya yang mempunyai tingkah laku absurd. Pancaran matanya melayang jauh akan satu sosok yang sangat ia rindukan.
"Kau semakin cantik, Ha Na-ya," ujarnya menghentikan kerja otak Ha Na yang tengah menjelajah ke masa lalu.
Ha Na mengulum senyum. Tak dapat dipungkiri lagi, ada semburat merah mewarnai kedua pipinya. "Ini pujian? Gomapseumnida."
"Oppa sekarang sibuk apa?"
"Aku pelatih vokal. Aku punya tempat latihan di sekitar sini. Jika kau punya waktu luang, berkunjunglah. Aku akan senang," jawab Jong Dae menyeruput minumannya tanpa melepaskan sedikit pun pandangan ke Ha Na.