Min Seok, namja yang memiliki kulit putih bak salju yang cukup populer di sekolahnya, ia tidak percaya jika cinta bisa datang saat pandangan pertama. Baginya, cinta itu tumbuh di antara dua orang yang saling mengenal satu sama lainnya. Akan tetapi...
Siang itu, matahari begitu terik menyinari bumi. Ada sekumpulan murid-murid tengah bermain basket di tengah lapangan sekolah tanpa peduli kulit mereka yang mulai memerah akibat sengatan mentari. Seakan tak peduli, mereka terus bermain sambil sesekali melontarkan candaan atau kalimat perintah pada masing-masing tim.
Akhirnya ada satu namja yang keluar dari sekumpulan itu dan berjalan menepi ke pinggir lapangan, berteduh. Ia sibuk menyeka butiran keringat yang mengalir dari dahinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matanya terus mengawasi setiap gerakan teman-temannya yang masih bertahan di bawah teriknya matahari. Terkadang senyumnya mengembang saat yang lain berhasil mencetak angka.
Tak lama kemudian, ada satu lagi yang ikut menyusul dirinya menepi di bawah rerimbunan pohon yang sudah tertata manis di pinggir lapangan. Mukanya terlihat merah seperti kepiting rebus.
Melihatnya, mengingatkan satu hal yang ingin sekali ia tanyakan pada orang di depannya. "Jong Dae-ya..."
"Hmm?"
Mereka kelelahan setelah bermain basket di cuaca yang panas kala itu. Baju kemeja mereka pun ikut basah kerena peluh. Min Seok mengibas-ngibas telapak tangannya berharap mendapatkan tambahan udara untuk wajahnya. Namja putih itu kembali menatap Jong Dae.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. -"
"Nanti saja. Kau tak haus? Ayo ke kantin!" ajak Jong Dae memotong kalimat Min Seok.
"Baek Hyun-ah?"
"Tinggalkan saja. Lihat!" tunjuk Jong Dae ke arah Baek Hyun, "Dia masih saja sibuk tebar pesona di bawah teriknya matahari. Biarkan saja, nanti dia akan menyusul ke kantin kalau sudah selesai dengan pekerjaannya. Aku benar-benar kehausan. Bagaimana jika aku sampai pingsan di sini karena dehidrasi?"
Min Seok mengangkat alisnya, menatap Jong Dae dengan tatapan aneh. Sedangkan namja di sebelahnya malah sibuk memasang wajah imut. Bukannya terlihat menggemaskan melainkan ingin sekali mengetuk kepala sahabatnya itu.
"Kajja!" Min Seok berdiri diikuti Jong Dae yang sudah melingkarkan tangannya di atas pundak Min Seok.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kantin. Tak banyak siswa yang berseliweran saat itu karena memang sudah jam pulang sekolah juga. Hanya ada beberapa di antaranya yang masih bertahan di dalam, entah karena ada pelajaran tambahan atau memang sengaja ingin bercengkrama lebih lama di sekolah bersama dengan teman-teman yang lainnya.
Min Seok mencari tempat duduk yang tidak begitu mendapat perhatian dari banyak orang. Ia sibuk memainkan ponselnya sementara Jong Dae pergi ke stan makanan untuk memesan minuman dan beberapa makanan. Energinya terkuras habis setelah bermain basket tadi. Selain kehausan, namja itu juga mulai kelaparan sekarang.