Part XXI

21 4 0
                                    

Sejak hari itu, hubungan keduanya semakin renggang. Hampir seminggu tak ada yang memulai percakapan. Keduanya terlihat saling menghindar.

Ha Na yang duduk tepat di dekat jendela, pandangan matanya menerawang keluar jendela. Entah apa yang dipikirkannya tapi yang jelas isi pikirannya benar-benar semrawut. Kacau.

Tangannya mengepal! Tak bisa seperti ini terus menerus. Bukannya tidak percaya pada namja bermata kucing itu, tapi ia butuh penjelasan yang sebenarnya.

Bel berbunyi menandakan berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Ha Na pun bergegas menemui namja itu. Dewi fortuna sedang berbaik hati padanya. Tak perlu membuang waktu lebih lama untuk mencari sosok lelaki itu. Namja yang dicarinya tengah duduk di bangku di depan ruang laboratorium. Hanya menatap kosong jauh ke depan.

Ha Na berlari menghampirinya. Ia merapal doa agar namja itu tak menghindarinya lagi.

"Kita perlu bicara, oppa," ujar Ha Na sedikit tersengal. Ia berusaha mengatur nafasnya agar tidak memburu.

Min Seok memandangnya lurus ke depan. Acuh tak acuh. Ada apa dengannya? Pikiran negatif mendadak menyerang otaknya membuat Ha Na sulit berpikir dengan baik.

"Bicaralah. Aku akan mendengarkan."

Ha Na mematung sesaat. Benarkah namja yang tengah duduk di hadapannya ini adalah Kim Min Seok? Ini bukan seperti Min Seok yang ia kenal.

"Tapi tidak di sini -"

"Cepat katakan saja! Di sini. Sekarang!" potong Min Seok cepat.

"Seminggu yang lalu saat aku lihat oppa dengan Yeon Hee sunbae... lalu rumor itu... -"

Butuh perjuangan saat Ha Na mengutarakan isi dalam kepalanya namun lagi-lagi harus di potong Min Seok dengan nada yang bisa di bilang cukup... dingin?

"Kau lebih percaya rumor itu tapi tidak denganku?"

"Bukan itu maksudku."

"Lalu?"

Ha Na menarik nafas dalam-dalam dan menahannya sejenak. Namja ini.. kenapa jadi menyebalkan sekali? Apa tak ada niat untuk menjelaskan? Andai dia berada di posisinya, bagaimana perasaannya saat ini? Atau rumor yang tengah beredar memang benar adanya.

Nafas yang sempat Ha Na tahan, ia hembuskan kuat-kuat. Kesabarannya sudah di ambang batas. Mulut namja itu benar-benar bungkam. Diam seribu bahasa tanpa penjelasan sedikit pun.

Dalam satu tarikan nafas, Ha Na bersuara kembali, "Ayo sudahi semuanya!"

Min Seok menatapnya sekilas, "Ok!". Dan setelahnya namja dingin itu berlalu, meninggalkan tanda tanya besar di kepala Ha Na. Jadi, semuanya benar?

Lagi-lagi Ha Na harus kehilangan kata-kata. Di saat bersamaan, dunia seakan berhenti berputar. Semua di luar perkiraan. Dan Ha Na hanya mampu tersenyum tipis setelahnya.

¤¤¤¤¤

Hari berlalu begitu saja. Ha Na lebih banyak diam dari biasanya. Kerja otaknya masih belum berfungsi dengan baik sejak saat itu. Hanya ada tubuhnya tapi hati, jiwa dan pikirannya melayang entah jauh ke mana.

Yeoja itu pun lebih sering terlihat menghindar saat berpapasan baik dengan Jong Dae maupun Baek Hyun. Ia hanya berbicara sekedarnya dan berlalu begitu saja.

Jong Dae yakin ada sesuatu hal yang sedang terjadi namun terlewatkan olehnya. Bukan hanya Ha Na tapi Min Seok pun sikapnya mulai berubah walau namja itu tak menunjukkan secara terang-terangan.

Cinta Pandangan PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang