Menjadi Ibu

245 28 33
                                        

malam, lontong. makan apa kalian tadi? jangan bilang makan rindu yang gak berkesudahan! 

*

*

Yoona dan Seohyun pulang kerja tapi raut lelah mereka bak diterpa guntur melihat kekacauan di rumah. Aroma gosong menyeruak, alat pel berebah di lantai ruang tamu, taplak meja makan jatuh ke kaki meja, dan mangkok berisi ramen terjungkir hingga kuah hangat tumpah ke lantai. Irene tampak kelabakan mengurus bayi apalagi ART sedang izin pulang ke kampung halaman sejak kemarin. Belum lagi keberadaan Rae-O yang aktif membuat keadaan sederhana menjadi pelik.

"Oekkkkk oeekkk hik hikk," tangis Yeri digendongan Irene.

"Dia terus saja menangis dan setelah sempat tidur gonggongan Rae-O membangunkannya lagi," eluh Irene menyerah menghempaskan tubuh ke sofa. Rautnya begitu kacau mengalami sehari penuh tanpa bantuan siapapun.

Seohyun memutar mata kesal memandang Yoona, pasalnya dia hendak izin tidak masuk kerja karena tak tega meninggalkan Irene. Namun, Yoona berikeras menolak karena Seohyun telah mengambil hari libur hampir dua minggu demi menemani Irene. Mengajar cara memandikan, membungkus tubuh bayi, dan lain sebagainya. Tapi ternyata beginilah hasil yang tampak.

"Sayang, mengapa terus menangis?" ujar Seohyun meraih tubuh Yeri ke timangannya. "Apa Yeri bermimpi buruk?"

Yeri masih terus menangis, Seohyun membawanya ke kamar Irene. Ada keranjang bayi dan di atasnya terdapat gantungan berbentuk hewan, bola, dan lampu-lampu kecil. Dia menggoyangkan gantungan tersebut beberapa kali sambil mengajak agar Yeri melihat ke benda-benda mungil tersebut. Perlahan tangisan mereda, Yeri mengerjap pelan menatap benda plastik berbentuk ikan di jemari ibunda.

"Yeri suka tidak? Cantik sekali, 'kan?"

Bibir yang sedaritadi meringik pelan-pelan menarik naik kedua ujung bibir menatap jemari ibunda terus memperlihatkan benda kecil bergantian. Hidungnya yang belum tampak mancung tertarik bersamaan lengkungan makin melebar. Kedua tangan terangkat bak hendak meraih benda tersebut.

"Mau memegangnya? Yeri mau pegang yang mana?" Seohyun mengambil gantungan paling panjang dan menaruhnya di atas tubuh Yeri.

Menyaksikan sepenggal kebersamaan Seohyun dan Yeri barusan agaknya mengetuk hati Yoona. Teringat permintaan Irene supaya membiarkan Seohyun yang merawat Yeri. Tapi di saat itu pula dia merasa dilema dan bingung bagaimana menjelaskan atau menyampaikannya. Ada rasa tidak enak hati dan takut-takut Seohyun justru salah paham.

"Yoongie, mandilah dulu!" pinta Irene sekeluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang penat lebih segar, harum, dan semangat lagi.

"Mmmm, aaommm," gumam Yeri memegang gantungan yang berbentuk jagung dan mengamatinya lamat-lamat.

Irene terkesima melihat Yeri begitu nyaman setiap kali di sisi Seohyun. Dia bahkan tak berhasil membuat tangisan Yeri cepat reda seperti yang acapkali Seohyun lakukan. Entah apa yang membedakan padahal dia sudah melakukan persis seperti yang Seohyun perbuat. Berusaha sabar, mengajak bicara atau membuat suara lucu, menyuapi makan, tapi Yeri tetap menangis.

"Hyunnie, kau selalu berhasil menenangkan Yeri dan sepertinya dia sangat senang di sisimu."

"Dirimu hanya sedikit lelah, itu saja. Tidurlah, Irene ah! Besok Kim eonnie akan pulang tapi agak sore."

Persis seperti yang Yoona tangkap tadi, Irene benar-benar melihat sosok seorang ibu dalam diri Seohyun yang mungkin belum dia miliki. Seohyun bahkan tak memikirkan penampilan atau membiarkan lelah menjadi penghalang untuk menenangkan bayi mereka. Setiap pagi bila Yeri telah segar dan harum barulah Seohyun mandi menyiapkan diri. Hal itu terjadi hampir setiap pagi usai persalinan dan tak dilakukan Irene.

Sore Itu Lonceng BerbunyiStories to obsess over. Discover now