Biduk Rumah Tangga

256 29 76
                                        

malam, lontong-lontongku. sudah makan lontong hari ini? spill sini kalian makan lontong pakai apa!?

*

*

Usai cek-cok tempo lalu soal kado dan anjing kecil, Yoona senang diam-diam melihat Irene meminta maaf pada Seohyun. Mereka bahkan makan bersama setelah belajar masak membuat pasta. Tapi sampai sekarang istri kedua belum bisa terbiasa dengan Rae-O, apalagi anjing putih itu hadir setelah Irene menghilang. Di sisi lain pula Irene bukan pecinta hewan jadi cukup sulit melihat istrinya dan Rae-O bisa bersama.

"Apa kau bisa langsung dekat dengan Rae-O?"

"Aniyeyo, butuh beberapa waktu baru kami bisa sedekat ini."

"Seohyun berbohong untuk menjaga perasaan Irene," tebak Yoona menguntit percakapan dua istri di bangku pekarangan.

Saat pertama kali Seohyun datang ke rumah, Rae-O memang tidak langsung mau di dekatnya melainkan agak was-was dan beberapa kali menggonggong. Mata bulat itu terpanah ragu-ragu menaruh salah satu kakinya di uluran tangan Seohyun sambil sesekali menatap Yoona seakan hendak bertanya atau menunggu arahan. Saat kakinya diayun pelan sebagai tanda perkenalan Rae-O terdiam menelungkupkan badan lalu melihat ada snack keluar dari tas kecil.

Soal makanan Rae-O tak ragu-ragu menerima potongan kripik kentang dari tangan Seohyun. Dia juga minum dari botol yang disuapkan calon istri tuannya kala itu. Tidak butuh waktu lama Rae-O akhirnya mau dibopong selain oleh Yoona dan Yuri.

"Kau hanya perlu bersabar dan sedikit berusaha lagi," tutur Yoona setelah mendengar Irene mengeluh karena Rae-O masih tidak mau berada di gendongannya. Dia menyandarkan dagu di ubun-ubun sang istri, merasakan udara dingin menerpa wajah mereka, satu-satunya bagian tubuh tak tertutup kain. 

"Lebih mudah menaklukkan hatimu daripada seekor bichon," gumam Irene menengadah agak mengerucutkan bibir. 

Cuph! Bibir mereka bertemu setelah Yoona menunduk menghampiri wajah istrinya sesaat. Yoona memeluk Irene erat-erat memberi kehangatan di malam yang dingin di tengah kota. Di balik punggung sang istri menyala lampu-lampu dari rumah dan bangunan lain. Warna merah kendaraan membentuk barisan di antara warna jingga dan putih yang mendominasi. Namun, Irene lebih menatap mantel Yoona dan menyandarkan wajah dan kening di sana ketimbang menatap indahnya pemandangan kota.

"Yoongie, aku tidak sabar ingin mengandung dan melahirkan anak kita."

Yoona tercengir dan membenamkan bibirnya di ubun-ubun di antara helai rambut sang istri. "Jika sudah saatnya anak kita akan menghuni perutmu baru berpindah ke timangan kita. Sabarlah sebentar!"

*

Lee Chung Ah tak begitu fokus saat berolahraga karena lebih kerap mencuri pandang ke Seohyun di sudut ruangan bersama seorang mentor. Sejak tahu mereka memiliki satu jadwal di hari yang sama, Chung Ah selalu berusaha datang lebih dulu agar bisa beraktivitas di alat dekat pintu masuk. Saat pulang pun dia selalu pulang setelah Seohyun beranjak. Semua itu dilakukan demi bisa memiliki waktu sekian menit bersama mantan kekasih.

"Seohyunnie," sapa Chung Ah melihat Seohyun hendak beranjak dan tentu saja akan melewatinya.

"Ne, Eonnie. Kau sepertinya sangat menyukai alat ini? Dua bulan sudah acapkali menemuimu di sini," ujar Seohyun melihat alat bernama abs crunch machine yang selalu menjadi langganan Chung Ah.

"Di sinilah aku bisa melihatmu berlalu-lalang dan mendapat sapa senyum manismu," jawab Chung Ah membatin. "Hehehehe, iya cukup kusukai. Seohyun ah, bagaimana kalau kita ke kedai kopi dan menyantap kudapan sebentar?"

"Ouh?" Seohyun mengerjap ragu antara iya dan tidak, membuat mantan kekasihnya terus berharap dan berseru 'tolong katakan iya!' dalam hati. "Ehm, ngomong-ngomong kita memang sudah lam-"

Sore Itu Lonceng BerbunyiStories to obsess over. Discover now