malam para sahabat lontong! mianhae ya kemarin gak up bab baru karena eike ketiduran bok. mimpi makan nasi gurih disuapin jessica pake tangan wakakakaka. mimpiku epic ye? wakaka.
*
*
"Bisa jadi ada orang dalam sengaja menyingkirkanmu, Eonnie," ujar Seohyun usai mendengar cerita Yoona panjang-lebar. Kudapan di meja sampai tak tersentuh karena serius memfokuskan pikiran menelaah rentetan kejadian.
Yoona tampak frustasi apalagi tak ada satupun rekan mendukung setelah melihat surel pengiriman naskah lewat emailnya sendiri. Tertanda nama terang, subyek, isi naskah, dan profil. Jika sudah begini siapapun tidak mau percaya jika dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Yuri sebagai kakak juga angkat tangan karena melihat sendiri surel terkirim. Lebih parah lagi Direktur Jung memberi skors selama sepekan untuk merenungkan perbuatan. Berharap seminggu kemudian dia datang mau mengakui di depan publik dan membayar kerugian dua penulis. Syukur-syukur bisa menunjukkan bukti tidak bersalah.
"Eonnie, coba buka emailmu lagi dan ingat baik-baik!"
"Itu hanya membuatku kesal, Hyunnie, karena benar-benar tidak kulakukan."
Seohyun menggenggam jemari Yoona dan mengecupnya. "Eonnie, lakukan dulu! Siapa tahu ada ingatan yang terhapus. Jika benar, maka berlapang dadalah dan terima tanggung jawab ini. Kalau tidak, kita cari bagaimana semuanya bisa terjadi. Ne?"
"Ini," kesal Yoona memberikan ponsel pada Seohyun agar sang istri saja yang mengecek supaya tidak kembali mengeruk kejengkelan di dada.
Seohyun membuka laman pesan terkirim di gmail Yoona dan mengecek isi surel yang dikirimkan ke penerbit. Tiba-tiba perhatian tertuju ke waktu pengiriman, tepat pada pukul 19:45 hari senin tiga minggu lalu. Sedikit membingungkan karena sebagian besar penerbit akan menyeleksi naskah dan memberi kabar sebulan kemudian. Bahkan tak sedikit yang memberi jangka waktu 3 sampai 4 bulan. Tapi di sini hanya belasan hari dan kedua naskah sudah berada di toko buku.
"Jarak pengiriman naskah dan jadwal terbit hanya selama tiga minggu dan belum terpotong hari libur kerja. Bagaimana bisa?"
"Aku juga tak mengerti tapi Jung sajangnim menilai bahwa hal itu sangat mungkin mengingat aku adalah editor dan layouter. Tidak butuh lama bagi penerbit sana memberi keputusan karena dinilai sudah rapi dan layak terbit."
"Tidak masuk akal. Anggaplah kau melakukan ini, mengapa mereka tidak pertimbangkan sebelum menerbitkan? Atau paling tidak menaruh sedikit curiga karena sebagai pegawai kau sangat bisa menerbitkan novel di perusahaan tempat kerja, bukan malah ke penerbit pesaing. Mereka harus memikirkan itu kecuali sengaja membuat masalah lalu menjadikanmu sebagai kambing hitam. "
Yoona tersenyum kecil meraih tehnya. Emosi Seohyun sedikit membuat dia lega karena di saat begini hanya sang istri satu-satunya yang bisa diajak tukar pikiran. "Jadi, apa yang harus kulakukan? Tidak ada bukti yang bisa menolongku sekarang, Hyunnie. Pengirim naskah berasal dari emailku, apa lagi sekarang?"
"Surel pengiriman naskah berasal dari emailmu. Hanya ada dua opsi jika kau memang tidak melakukannya, antara diretas atau orang dalam sengaja mencurangimu," ujar Seohyun melihat daftar isi kotak masuk.
Pusat perhatian jatuh pada dua surel tanpa subjek yang dikirim selang lima jam. Surel pertama tidak ada badan email dan hanya terdapat satu file berformat jpeg. Surel kedua pun begitu, tanpa subjek juga badan email seperti kata pengantar dan lagi-lagi hanya file berformat jpeg. Saat dicek lagi ukuran kedua foto ternyata sama, sebesar 958 kb.
"Eonnie, email kosong ini dari siapa?"
"Mungkin hanya orang iseng atau penulis pemula yang mengecek keaktifan email."
YOU ARE READING
Sore Itu Lonceng Berbunyi
Fanfiction'Maukah kau menjadi sahabatku lagi?' -Yoona- 'Saat mataku terpejam kebersamaan ini akan berakhir dan waktu berlalu sangat cepat.' -Seohyun- 'Biarkan aku menjadi ibu dari anak-anakmu!' -Irene- 'Aku adalah orang yang mencintaimu tanpa henti, tanpa lel...
