Eonnie, Aku Harus Pergi

249 35 66
                                        

selamat malam semua kecuali buat siders yang modal gratisan. 

*

*

Seohyun hanya terus memanggut sambil mengulum bibir atas melihat Yeri terus berbicara memberitahu rutinitasnya. Sesekali dia terperingis dan mengulum bibir lagi karena jika tidak isakan akan pecah, Yeri pasti bisa melihat air mata sang ibu. Dia tak mau menangis di hadapan putrinya dan tak mau buah hati khawatir apalagi sampai merengek ingin bertemu.

"Eomma, jangan sibuk bekerja supaya bisa bersama Yeri lagi! Yeri kesepian sekali setiap hari bermain, menonton, makan, tidur, dan begitu seterusnya tapi tanpa Eomma. Tidak suka, Yeri mau bersama Eomma." Yeri menoleh menangkap wujud anjing bichon tengah berjingkrak memainkan benda plastik berbentuk unggas. "Lae-O, Lae-O ah, sini bicara sama Eomma."

Seohyun tertawa di balik sepasang tangkupan jari. Air matanya sudah hampir menetes dan saat itu Yeri beranjak dari depan kamera. Dia buru-buru menengadah sambil menyeka air mata.

"Lae-O, ini bicara dengan Eomma!" ujar Yeri menyeret badan Rae-O ke hadapan kamera. Saat mata bulat menangkap wajah sang tuan, dia langsung berjingkrak menggonggong dan menjilat layar ponsel. "Diam, Lae-O ah! Eomma belum bicara."

"Ahaahaha, kalian sedang... bermain apa?" tanya Seohyun tersenggal-senggal karena isakan.

"Ini, Eomma, lihat! Appa membeli mainan. Nanti saat Eomma pulang dan memandikan Yeri, kita bisa main ini di air. Mainan ini akan berenang. Eomma cepat pulang dan jangan pergi lagi!"

Yoona mengintip obrolan putrinya dan Seohyun lewat video call. Sedih? Dia tak punya kekuatan ikut menimbrung di sana, hatinya berada di titik terlemah untuk menjelaskan jika Seohyun tak akan pulang. Wanita yang menemani sang putri sejak bayi merah hingga pekan lalu mungkin bisa berkunjung tapi sebagai persinggahan, bukan untuk tinggal. Mengapa?

-flashback-

Yoona memanah kepulan asap dari cangkir teh, menyaksikan kantung remahan mengapung di atas. Dia berharap Seohyun akan sering menyajikan minuman ini lagi di kemudian hari bahkan sepanjang waktu di kediamannya tepat di meja kerja atau ruang makan. Sesekali mungkin bisa berbagi seteguk kopi dari cangkir yang sama. Pahit menabrak lidah dan dinding mulut disusul tawaan pun rasanya lebih menyenangkan.

"Hyunnie," panggil Yoona memecahkan keheningan, matanya masih terhenti di permukaan teh. "Kalau kau berubah pikiran, mari kita pulang! Kita kosongkan tempat ini dan-"

"Eonnie," potong Seohyun. "Jangan membuang waktu lagi karena sampai kapanpun pendirian ini tidak berubah! Apa yang akan terjadi di hari mendatang tak akan kusesali."

"Apakah anak kita tidak berarti lagi? Anak yang kau rawat sedari dia lahir, apa dia tak cukup menjadi alasanmu bertahan?" tanya Yoona menahan sakit di tenggorokan. Jemarinya meraih tangan Seohyun dan digenggam erat-erat. "Yeri, anak kita, kau selalu memprioritaskannya lebih dari apapun dan siapapun. Kini... kini kau meninggalkan dia? Hm? Aku harus berkata apa nanti? Ketika seorang anak mencari ibunya dan ayahnya tidak punya jawaban, harus bagaimana? Kau tidak memikirkan itu? Seohyunnie, tolong!"

Seohyun membuang muka tak tahan menatap Yoona menangis di atas tangannya, tapi di sisi lain dia juga tak bisa membatalkan keputusan cerai. Sebagai ibu dia berat meninggalkan Yeri, tapi sebagai sahabat dia yakin Irene bisa menggantikan dia cepat atau lambat. Keluarga Kwon akan membaik dan Yeri pasti melupakannya, bahkan mungkin menaruh benci atas keputusan ini.

"Eonnie, berhenti! Jangan berharap apapun lagi, cerai adalah keputusan terbaik! Kumohon, mengertilah!"

"Kalau begitu coba kau mengerti keadaan kami!" tegas Yoona mengangkat kepala, memanah wajah Seohyun. "Atau paling tidak pahami keinginan anak kita untuk selalu di sisimu, Hyunnie."

Sore Itu Lonceng BerbunyiStories to obsess over. Discover now