malaaammmmmmm, lontong! tahukah kamu kalau makan lontong dan kecap asin aja udah enak banget?
*
-Dua tahun berlalu-
"Appa!" seru Yeri menarik Sinb berlari sambil membawa sekantong plastik berisi snack.
"Yeri, Seo imo bilang jangan berlarian! Nanti jatuh," pesan Sinb menggenggam sang adik yang sudah berusia dua setengah tahun. "Yeri, dengarkan Eonnie!"
"Ani, hahahahaha. Yeri mau lari-lari! Seo eomma tidak lihat, jadi ayo cepat!"
"Yeri!" panggil Irene meninggi menyorot tajam ke tubuh kecil putrinya dan seketika dipatuhi.
Yeri langsung berhenti mengerjap-ngerjap takut melihat ibu sendiri. Sinb yang sudah lebih paham berbalik menggandeng Yeri, keduanya berjalan santai menuju Yoona di ruang keluarga. Tapi seperti biasa Yeri bungkam atau tidak banyak bicara setiap kali usai mendapat pandangan tajam dari ibunda. Dia akan mencari Seohyun atau Yoona untuk menyandar, menaruh kepala di pelukan atau pangkuan mereka.
Sejak lahir Yeri memang sudah dirawat oleh Seohyun hingga tidak dekat dengan Irene, ibu kandungnya sendiri. Pernah dulu sesekali minta digendong, disuapi, atau dimandikan tapi selalu berakhir amarah. Yeri sempat mengadu akan sikap Irene yang galak dan tidak sabar bahkan sampai main tangan. Oleh sebab itu Yeri tak pernah lagi ingin di dekat Irene dan selalu di sisi Seohyun dari pagi bertemu pagi.
-flashback-
"Eomma, apa Joo eomma tidak sayang Yeri? Mengapa..."
"Sssttt! Tidak boleh bicara begitu. Joo eomma hanya lelah karena bekerja, membeli pakaian Yeri, membawa makanan, susu, juga mainan untuk Yeri."
"Tapi sekarang hari minggu dan Joo eomma tidak bekerja, mengapa masih memarahi Yeri, Eomma? Joo eomma kan eomma Yeri tapi mengapa tidak seperti Seo Eomma? Hikkss, pasti... pasti karena Joo eomma tidak benar-benar sayang Yeri. Benar, 'kan?" Yeri kembali menangis menumpahkan air mata di pipi agak tembamnya lalu menenggelamkan wajah di dekapan Seohyun. "Yeri mau bersama Seo Eomma saja. Tidak mau..."
"Sayang, sstttt! Sudah, tidak boleh-"
"Tidak mau bersama Joo eomma lagi. Yeri tidak sayang Joo-"
Seohyun buru-buru membekap mulut Yeri sebelum diteruskan. Takut jika ada Yoona apalagi Irene yang dengar. Syukur-syukur jika menyesal dan mau meminta maaf pada si kecil, tapi akan jadi pelik kalau ternyata mereka tidak mau mengerti. Lebih parah lagi bila sampai ada yang main tangan. Memang mereka bertiga bukan orang yang ringan tangan, hanya saja dalam beberapa kondisi kadang bisa membuat seseorang silap mata.
"Yeri, Eomma tidak suka anak Eomma berbicara seperti tadi."
"Irene keterlaluan!" rutuk Yoona yang ternyata sejak tadi menguntit ke pekarangan.
Segera dia menghentakkan kaki ke kamar menghampiri Irene yang malah enak-enakan berbaring di ranjang sambil menonton drama. Yoona meraih kasar remot di genggaman lalu menekan tombol 'on/off'. Layar seketika mati menampilkan kaca hitam tanpa video atau audio. Irene sontak mendengus kesal hendak merebut remot tapi Yoona langsung menyambar lengannya.
"Yoo-"
"Irene! Mengapa memukul Yeri hingga meninggalkan bekas merah di lengannya? Dia masih anak-anak."
"Yoongie, dia terus merengek minta dimandikan, saat kumandikan malah menyipratkan air ke wajahku. Air sabun membuat mata perih jadi aku hanya reflek memukul lengannya."
"Reflek? Lengannya sampai merah dan panas karena pukulanmu," sentak Yoona. "Kau bahkan hampir tidak pernah memandikan, menyuapi, atau memeluknya saat tidur. Seohyun! Seohyun yang selalu melakukan itu setiap saat, tapi kau justru menyakiti Yeri yang sekadar ingin mendapat kasih sayangmu. Irene, dia anak kita, anak yang kau kandung!" bentak Yoona di puncak kemarahan.
YOU ARE READING
Sore Itu Lonceng Berbunyi
Fanfiction'Maukah kau menjadi sahabatku lagi?' -Yoona- 'Saat mataku terpejam kebersamaan ini akan berakhir dan waktu berlalu sangat cepat.' -Seohyun- 'Biarkan aku menjadi ibu dari anak-anakmu!' -Irene- 'Aku adalah orang yang mencintaimu tanpa henti, tanpa lel...
