34. Can you hear me?

192 10 3
                                        

Bagian 34 : Saat hati dan pikiran mulai tak selaras, apa yang akan kamu lakukan untuk langkah selanjutnya?










Citra mengerjapkan kedua matanya sambil menahan kantuk. Sebelah tangannya menggerayangi meja disebelah ranjangnya untuk meraih handphonenya. Citra mengetuk layar handphonenya dua kali melihat jam ternyata pukul 7 pagi. Citra pun balik badan dan terkejut melihat Ari yang tidur disebelahnya sambil memeluk pinggang kecil Citra. Wajah Ari yang polos semakin terlihat tampan.

Citra terkejut saat Ari membuka matanya dan menatap Citra dalam. Tak mau lama lama bertatapan dengan Ari, Citra memilih menundukkan pandangannya menatap jakun Ari yang bergerak.

"Kenapa berhenti ngeliatin akunya?" Tanya Ari dengan suara serak khas bangun tidurnya.

"Ng..nggak liatin kamu kok" Kilah Citra.

"Aku mau mandi dulu ya hari ini aku ada kuliah pagi." Ucap Ari sambil beranjak dari ranjangnya.

"Kamu ga ke kantor?"

"Kerjaan aku belum seketat itu karena aku kan masih kuliah untuk sementara ada Om aku yang ngehandle kantor disini jadi sesekali aku datang ke Kantor buat ngecek bentar."

"Aku boleh ikut ga ke kampus kamu? Aku pengen kuliah tau semalam aku nungguin kamu pulang tapi kamu malem banget pulangnya jadi aku tidur duluan"

"Kamu tenang aja ya semalam aku udah kirim berkas pendaftaran kamu sekalian isi form pendaftaran diwebsitenya kok. Jadi minggu depan kamu udah bisa masuk ke kampus tempat aku kuliah" Cerita Ari.

"Ri aku kangen kak Ale.. pasti dia khawatir karena gak ada aku"

Ari menghembuskan napasnya kasar. Farel lagi Farel lagi! . Batin Ari.

"Aku udah bilang ya jangan sebut cowok lain disini! Kamu paham!?" Tegur Ari dengan suaranya yang penuh tekanan.

Citra menunduk takut mendengar nada tajam dalam suara Ari ditambah ekspresi Ari yang melihatnya tajam.

"Tapi kan dia kakak aku"

"Mulai ngebantah!? Aku gak ada waktu ya buat ngehukum kamu karena aku buru buru mau ke kampus! Ingetin aku ya ntar siang sesudah aku ngampus buat ngehukum kamu! Belum pernah kan dihukum di tempat tinggal kamu yang baru ini?!" Bentak Ari.

"Jangan.. Ri iya aku minta maaf ya?" Ucap Citra memohon.

Ari tak menghiraukan perkataan Citra dan memilih keluar dari kamar untuk mandi. Dengan keras Ari membanting pintu kamar Citra atau mungkin kamar keduanya? Karena Apartemen ini hanya ada satu kamar tidur.

Tak lama kemudian, Ari selesai mandi dan kembali masuk ke kamar dengan handuk yang terlilit disekitar pinggangnya sementara tubuh atasnya terekspos. Melihat itu, Citra memalingkan wajah karena malu melihat Ari tanpa pakaian meskipun Citra cukup sering melihatnya. Setelah Ari memakai celana Levis panjangnya, Ari pun duduk di tepi ranjangnya menatap wajah Citra yang memerah. Dengan kausnya yang masih disampirkan dipundak polosnya, Ari menarik wajah Citra agar melihat kearahnya.

"Diem di Apart jangan buat masalah selama aku gak ada. Urusan Farel, biar aku yang urus. Tempat ini cukup terpencil letaknya jadi aku ragu Farel bisa nemuin kamu secepatnya." Ucap Ari tegas.

"Jangan kaya gini Ri aku takut.."

"Jangan buat aku marah makanya. Siap siap menanti hukuman kamu. Karena kamu buat ulah, aku gak bakal kasihan sama kamu! Kamu salah jadi wajib dihukum!"

Tanpa banyak kata lagi, Ari pun bersiap pergi ke Kampus dan langsung keluar Apartemen. Sementara Citra yang saat ini sendirian bosan setengah mati. Tanpa pikir panjang, Citra meraih handphonenya dan mencari no Farel lantas meneleponnya.

Never Change [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang