9. Dihadang

752 40 1
                                        

“Ga perlu Lang, ada 3 kurcaci yang jagain gue kok” Jawab Claudy asal
“3 kurcaci?” tanya Andre bingung
“Maksud lu?” tanya Kevin yang ikut bingung juga
“Maksud lu kita Dy?! Anjim bet kita dianggep kurcaci, jahat kamu Dy, jahaattttt” ucap Candra dramatis

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Setelah lama mereka berbincang-bincang  dan hari juga sudah mulai gelap, mereka pun memutuskan untuk pulang. Kali ini Claudy ingin pulang cepat, sehingga ia memilih lewat jalan pintas.

Jalan yang dipilih Claudy cukup menyeramkan, karena tak ada penerang di pinggiran jalan.

Tiba-tiba dari arah berlawanan datang sekelompok orang yang menghadang Claudy.

Mereka turun satu persatu dari motornya, namun tidak dengan Claudy. Ia tetap tenang berada di atas motor kesayangannya.

“Turun dulu bang, kalo mau lewat serahin harta Lo!” ucap salah satu di antara mereka

Claudy tetap diam, bukan karena takut, tapi sedang mengumpulkan tenaga-tenaganya untuk menghabisi sekelompok orang yang menghadangnya.

“Lo bisu apa gimana?!” sahut seseorang yang kelihatannya ketua dari kelompok tersebut

Claudy tetap diam, tak bergeming sedikit pun

“Wah, nantang ni bang, langsung aja udah”

Orang-orang itu segera menghampiri Claudy dan menyerangnya. Dengan sigap Claudy membuka helmnya dan menghantamkan helm tersebut ke setiap orang yang mencoba memukulnya. 

Tak mudah menyerah, sekelompok orang itu tetap bersikeras melawan Claudy.

Braakkk!!!

Brakkkk!!

Braaaakkkk!!

Tiga orang tumbang karena hantaman helm tepat di kepala. Dan tujuh orang lainnya tak menyangka jika lawannya tak sepadan dengan mereka.

Dan lebih kagetnya lagi saat mereka mengetahui jika lawannya adalah seorang perempuan.

“Minggir... Atau” Claudy menggantungkan omongannya

“Atau apa?!” Jawab salah satu dari mereka yang sok berani, padahal pelipisnya sudah dibanjiri darah

“M A T I” sahut Claudy dengan menekankan kata tersebut

Tampak raut ketakutan dari wajah orang-orang tersebut. Namun tak ada yang melangkahkan kaki satu langkah pun.

Geram melihat mereka yang tak menunjukkan pergerakan, Claudy pun mengambil kalung berliontin tengkorak merah menyala. Dan memperlihatkan kepada sekelompok orang tersebut.

1 detik...

2 detik...

3 detik...

Lalu mereka lari kocar-kacir dan lupa jika motornya masih setia di tempat awal mereka parkir.

“Goblok bet jadi orang, tadi nyuruh nyerahin harta, sekarang malah ngasih gue harta” ucap Claudy memandangi deretan motor ninja

“Bodo amat lah, nanti kalo udah sadar juga diambil lagi tuh motor-motor” timpal Claudy

Ia kembali menyimpan kalung tersebut dan segera melajukan motornya untuk pulang. Setelah sampai, ia memarkir motornya di garasi yang berisi deretan mobil mewah.

Iya, milik Claudy, sebagian miliknya sendiri dan sebagian dapat dari taruhan-taruhan lawannya yang lemah namun sombong.

Karena sangat lelah Claudy segera menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Pikiran Claudy tak tenang, ia selalu memikirkan perkataan Elang siang tadi.

“Adik Nando pindah ke sekolahan Lo”
Kalimat itu seakan menghantui pikirannya.

Masa sih Bara adik Nando? Tapi bisa jadi juga kan. Atau anak baru yang diceritain Andre, Kevin, sama Candra tadi yang ternyata adiknya Nando? Ah udahlah, pusing gue lama-lama -Batin Claudy

Tak lama kemudian Claudy tertidur dan menciptakan mimpi-mimpi ditidurnya.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Sedangkan Bara, ia sedang termenung. Ia berpikir bagaimana cara mendekati Claudy yang bersikap dingin padanya.

“Ntar gimana ya, kalo nggak berhasil bisa mati gue” ucap Bara

Ia bangun dari ranjangnya, mengambil gitar favoritnya dan berjalan menuju balkon. Petikan senar gitarnya mengalun melodi indah. Bait demi bait lagu terlantunkan, ia tak bernyanyi sendirian.

Hewan malam dan angin ikut serta membangun lagu yang Bara nyanyikan. Bintang, bulan, dan langit malam menjadi penonton setia dikala Bara sedang menciptakan alunan melodi indahnya.

“Claudy, nama yang indah, begitu juga dengan wajahnya. Namun maaf, aku harus menghancurkan mu. Kamu cantik, namun maaf aku harus menjadikanmu abu. Kamu sempurna, namun sekali lagi aku meminta maaf, karena kamu tak akan abadi” Ucap Bara

Setelah bergelut dengan pikirannya, Bara kembali memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya. Beberapa detik kemudian ia telah memasuki alam mimpinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yeyy upload, aku usahakan upload satu hari sekali. Jangan lupa vote! Luvv❤️

LEADER GIRL THE DEVILCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang