Pagi itu, keluarga Wijaya tengah berkumpul untuk sarapan bersama. Fathur dan Anantha tak menyangka betapa cepatnya waktu berlalu, anak-anak mereka telah tumbuh dewasa. Altaf, sang sulung, kini telah menjadi pengusaha handal seperti sang Abi. Sementara si bungsu, Syafeera Laiqa Tsabita Maheswari, masih menjalani semester enam di bangku kuliah.
"Pagi, Umma, Abi, Abang," sapa Syafeera sambil mencium satu per satu anggota keluarganya.
"Pagi, sayang. Anak Umma pintar sekali, sudah rapi padahal masih pagi!" ujar Anantha melihat putrinya yang sudah mengenakan pakaian kuliah dengan rapi.
"Biasa, Umma. Adik mau ke rumah Kalila dulu, katanya mau berangkat bareng," sahut Altaf menjawab pertanyaan sang Umma.
"Bang Altaf kalau soal Kalila langsung cepat, ya!" ledek Syafeera pada kakaknya.
"Apa sih, Dik! Awas kamu ngg gak abang beliin jajan lagi !" ancam Altaf.
"Abi, Bang Altaf pelit!"adu Syafeera pada Fathur.
"Sudah-sudah, kalian ini sudah besar, masih saja suka bertengkar," ujar Fathur sambil terkekeh, berusaha melerai kedua anaknya.
Anantha hanya tersenyum melihat tingkah kedua buah hatinya. Jika keduanya berada di rumah, pasti akan saling meledek. Namun, jika salah satu tak ada, mereka justru saling merindukan.
"Sudahlah, sekarang sarapan dulu, ya. Nanti kalian terlambat," ujar Anantha lembut.
Keluarga kecil itu segera menikmati sarapan mereka dengan khidmat.
Setelah selesai, Altaf dan Syafeera berpamitan pada Umma dan Abi merek. Altaf akan berangkat bekerja, sementara Syafeera akan berangkat kuliah.
"Umma, Abi, Fera berangkat dulu, ya, sama Bang Altaf," pamit Syafeera sambil menciumi tangan kedua orangtuanya.
"Iya, hati-hati, Nak," balas Anantha sambil mengecup pipi putrinya.
"Iya, Umma kesayangan. Muach..." kekeh Syafeera membalas ciuman sang Umma.
"Altaf, jangan lupa jaga antar adikmu sampai kampus!" peringat Fathur pada putra sulungnya.
"Pasti, Abi. Fera aman selama bersama Altaf," jawab Altaf sambil bersalaman dengan Anantha dan Fathur.
"Assalamualaikum," ucap Altaf dan Syafeera bersamaan.
"Walaikumsalam," jawab Anantha dan Fathur.
***
"Makasih, Bang Al, udah anterin Fera sama Kalila," ujar Syafeera sambil mengecup pipi sang kakak sebelum keluar dari mobil.
Kalila yang menyaksikan interaksi kakak-adik itu hanya tersenyum kecil.
"Ila, ayo! Nanti keburu dosennya datang!" seru Syafeera pada Kalila yang masih duduk di jok belakang.
Kalila mengangguk sambil tersenyum ke arah Syafeera. Sebelum turun, ia mengucapkan terima kasih terlebih dahulu pada kakak sahabatnya.
"Terima kasih, Kak. Kalila pamit dulu, ya," ujar Kalila sambil menundukkan pandangannya, lalu segera keluar dari mobil karena Syafeera sudah tak sabar menunggunya.
Altaf membalas ucapan Kalila hanya dengan anggukan kepala. Entah mengapa, jantungnya selalu berdegup kencang setiap berhadapan dengan Kalila. Senyum terpatri cukup lama di wajahnya. Tersadar akan tingkahnya, Altaf segera beristigfar dalam hati.
'Astagfirullah, kenapa jantungku berdebar sekencang ini?' batinnya sambil memegang dada.
Altaf segera melajukkan mobilnya menuju kantornya. Hanya butuh waktu dua menit Altaf sudah tiba di kantornya. Dia segera memarkirkan mobilnya. Lalu turun dari mobil yang ia kendarai. Laki-laki itu segera menuju ruanganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
