Altaf, yang masih mengenakan kaus putih dan celana santai, tengah duduk di ruang makan sambil menikmati sarapan yang dibuat oleh Kalila, yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Enak banget sayang," ujarnya setelah menelan suapan pertama. "Udah lama gak makan nasi goreng buatan kamu, biasanya kamu selalu masak menu lain kalau sarapan."
Kalila tersenyum kecil, menatap suaminya dengan wajah hangat. "Alhamdulillah kalau kamu suka mas. Di habisin ya sarapannya."
Altaf meneguk segelas air putih lalu menatap istrinya lekat-lekat. "Pasti Yang, nasi goreng enak kayak gini mana mungkin nggak aku habisin." Puji Altaf, "kamu mau kita ke mana hari ini? Atau mau di rumah aja?"
Pertanyaan itu membuat Kalila langsung tersenyum lebih lebar. "Aku kepikiran, gimana kalau kita ke rumah orang tua kamu mas? Udah lama banget kan gak ke sana. Kemarin umma Ananta juga sempat WA aku, katanya kangen banget sama kita. Terus sekalian sama ke rumah abi dan umi ku ya mas. Aku juga kangen banget sama mereka."
Altaf berpikir sejenak. Sudah sekitar dua bulan lebih sejak terakhir kali mereka berkunjung ke rumah orang tuanya. Pekerjaan yang menumpuk di kantor membuatnya sulit meluangkan waktu. Ia mengangguk pelan. "Iya juga, udah lama banget ya. Oke deh, nanti setelah sarapan kita berangkat ke sana."
Kalila senang mendengarnya. "Yay! Setelah ini aku siap-siap deh. Oh iya oleh-oleh dari Bali kemarin, nanti bawa ya mas buat mereka."
Altaf tersenyum, menikmati semangat istrinya yang tak pernah padam. "Boleh sayang. Nanti mas bantu siapin yah."
Sekitar pukul delapan pagi, pasangan suami istri itu sudah siap berangkat. Altaf mengenakan kemeja santai berwarna biru muda, sedangkan Kalila memilih gamis biru laut dan hijab berwarna putih.
Perjalanan menuju rumah orang tua Altaf memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Udara Bandung pagi itu cukup sejuk, awan menggantung lembut di langit, dan pepohonan di sepanjang jalan bergoyang pelan ditiup angin. Di dalam mobil, mereka berbincang ringan, kadang tertawa bersama saat anak mereka terus menendang perut Kalila.
***
Sesampainya di depan rumah orang tua Altaf, suasana hangat langsung menyambut mereka. Rumah itu berdiri kokoh dengan taman kecil di halaman depan, bunga-bunga berwarna merah muda bermekaran di sisi kanan.
Kalila membuka pintu pagar, sementara Altaf membawa oleh-oleh dari Bali yang mereka bawa. Begitu bel ditekan, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampakkan wajah Umma Anantha yang langsung berseri-seri.
"Masya Allah anak umma, akhirnya kalian datang juga," ucapnya girang sambil memeluk keduanya bergantian.
"Umma, abang kangen banget," kata Altaf sambil tersenyum lebar, memeluk sang ibu.
"Kalila juga kangen, umma," tambah Kalila lembut.
"Umma juga kangen sama kalian." Balas Umma Anantha.
Dari dalam rumah, Abi Fatur muncul dengan senyum lebar, memanggil mereka berdua. "Ayo masuk, ayo! Abi udah siapin teh hangat dan gorengan, barusan digoreng sama umma kamu tuh."
Kalila tertawa kecil. "Wah, rezeki banget nih datang pas lagi ada gorengan. Apa lagi masakan umma itu masakan terenak se dunia."
"Bisa aja anak umma satu ini, hayu masuk sayang, kita lanjut ngobrol di dalam." Ujar umma Anantha. "Kandungan kamu sudah berapa bulan sayang? nggak kerasa sudah besar saja. " sambung umma, mengelus perut buncit menantunya. Mengajak Kalila duduk di sofa saat sudah sampai di ruang tamu. Sementara Altaf ngobrol dengan abinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
