Seminggu kemudian, pagi di rumah Altaf dan Kalila terasa lebih sibuk dari biasanya.
Kalila sudah memasuki usia kandungan delapan bulan. Perutnya semakin besar, langkahnya semakin pelan. Altaf bahkan lebih protektif dari biasanya—ke mana pun Kalila melangkah, tangannya siap siaga.
“Jangan buru-buru sayang, pelan aja,” ucap Altaf sambil memegang tangan istrinya saat mereka berjalan menuju mobil.
Hari itu, sebelum berangkat ke luar kota, Altaf ingin mengantar Kalila kontrol kandungan terlebih dahulu. Baginya, memastikan kondisi istri dan bayinya baik-baik saja adalah prioritas utama.
Di rumah sakit, Altaf duduk di samping Kalila sambil menggenggam tangannya. Ketika dokter mengatakan bahwa kondisi bayi sehat, detak jantung normal, dan semuanya berkembang baik di usia delapan bulan, Altaf menghela napas lega.
“Alhamdulillah,” bisiknya.
Keluar dari ruang periksa, Altaf berjongkok sebentar di depan Kalila.
“Setelah ini Abi berangkat ya,” katanya pelan sambil mengusap perut istrinya. “Kamu yang sehat terus.”
Kalila tersenyum, walau ada sedikit rasa berat. “Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan.”
Setelah mengantar Kalila pulang dan memastikan ia sudah beristirahat, Altaf pun bersiap menuju bandara. Kali ini tujuannya adalah Surabaya, untuk meninjau cabang perusahaan sekaligus bertemu beberapa mitra bisnis.
Di bandara, Altaf ditemani Riza, sekretaris sekaligus asisten pribadinya yang sudah lama bekerja dengannya.
“Boss, boarding lima belas menit lagi,” kata Riza sambil melihat jam.
Altaf mengangguk. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari salah satu partner penting yang jadwalnya akan ia temui di Surabaya. Percakapan itu cukup panjang dan membuat Altaf sedikit terlambat menuju gate.
Ketika mereka sampai, petugas sudah menutup pintu.
“Maaf, Pak. Boarding sudah ditutup.”
Altaf terdiam sejenak. Riza tampak panik. “Aduh, Pak… gimana ini?”
Altaf menghela napas panjang. “Ya sudah. Kita ambil penerbangan berikutnya saja.”
Mereka pun mengurus perubahan jadwal dan mendapatkan kursi di penerbangan selanjutnya beberapa jam kemudian.
***
Di sisi lain, Kalila yang sedang beristirahat tiba-tiba menerima notifikasi berita di ponselnya.
Sebuah pesawat tujuan Surabaya dikabarkan mengalami kecelakaan beberapa saat setelah lepas landas.
Jantung Kalila seperti berhenti berdetak.
Tangannya gemetar. Itu jam penerbangan yang sama dengan jadwal Altaf sebelumnya.
“Ya Allah…” suaranya bergetar.
Ia langsung mencoba menelepon Altaf. Sekali. Tidak terhubung. Dua kali. Masih tidak terhubung. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
Perutnya terasa mengencang karena panik. “Nak… Abi kamu…” bisiknya dengan napas tersengal.
Kalila tidak ingin Umi dan Abinya panik. Ia tahu kalau orang tuanya sampai mendengar kabar ini, mereka pasti akan sangat khawati. Apalagi melihat kondisinya yang sedang hamil delapan bulan. Bahkan dia tidak mengabari kedua orang tuanya Altaf juga.
Maka dengan tangan bergetar, ia menelepon abangnya.
“Bang… Shazid…” suaranya pecah.
“Iya, dik? Kenapa? Kamu nangis?”
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
