ALKALI #37

23 1 0
                                        

Mata Kalila berbinar, ia mengangguk dengan cepat. "Ayok mas! Aku juga udah lama nggak makan bakso di sana."

"Oke, gass kalau gitu. Mau naik motor atau jalan?" Tanya Altaf sambil memakaikan jilbab istrinya.

"Jalan aja mas, hitung-hitung olah raga. Kata dokterkan aku harus banyak jalan, biar bisa lahiran normal."

"Siap istriku. Yuk kita berangkat!"

Mereka pun keluar rumah, mengunci pintu dengan pelan. Altaf otomatis menggenggam tangan Kalila, menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu cepat. Jalanan di dalam komplek cukup tenang. Beberapa anak kecil masih bermain sepeda, sementara ibu-ibu terlihat duduk di teras rumah, saling menyapa dengan senyum ramah.

"Pelan-pelan aja, sayang," kata Altaf.

"Iya, aku ikutin langkah kamu yang pelan kok," jawab Kalila lembut.

Mereka berjalan menyusuri beberapa rumah untuk menuju gerbang depan komplek. Di sanalah gerobak bakso langganan mereka biasa mangkal setiap sore. Gerobak itu sederhana, catnya sudah sedikit pudar, tapi aroma kuah kaldunya selalu berhasil mengundang siapa pun yang lewat.

"Aku kadang takut, Mas," ucap Kalila pelan secara tiba-tiba. "Takut nanti nggak bisa jadi ibu yang baik."

Altaf menghentikan langkahnya sebentar, menatap Kalila dengan penuh keyakinan. "Kamu itu udah jadi ibu yang baik sejak sekarang. Dari cara kamu jaga diri dan jaga dua dedek bayi di dalam sini." Altaf mengelus pelan perut istrinya.

Kalila terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, "temani aku selalu ya mas. Karena kalau sendiri aku nggak bakal kuat."

Altaf mengecup pelan telapak tangan Kalila, "pasti, pasti aku bakal temanin kamu selalu. Udah nggak boleh sedih. Kita kan mau makan bakso kesukaan kamu. Lanjut jalannya yuk."

Kalila mengangguk, lalu mereka kembali berjalan ke arah gerobak bakso yang sudah mulai terlihat.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gerobak bakso. Beberapa pembeli sudah duduk di bangku panjang. Uap panas mengepul dari panci besar, suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar ritmis. Altaf membantu Kalila duduk di bangku yang paling ujung agar lebih nyaman.

"Duduk di sini aja ya," katanya.

Kalila mengangguk. "Makasih, Mas."

Altaf berdiri di depan gerobak, memesan dengan suara mantap. "pakde, dua porsi ya. Yang satu lengkap tapi nggak pedas. Satu lagi boleh agak pedas dikit."

Kalila langsung menyela, "Mas, tiga porsi ya. Aku mau yang satu khusus bakso iga."

Altaf tertawa kecil. "Iya, iya."

Ia melanjutkan pesanan, "Bakso urat, bakso halus, bakso telur, tahu bakso, sama bakso keju ya, dan yang satu khusus bakso iga pakde."

"Lengkap banget, mas" jawab tukang bakso sambil tersenyum.

"Iya pakde, nurutin ngidam istri." Kekeh Altaf.

"Bagus atuh mas Altaf. Pakde juga kaget neng Kalila udah hamil aja pas dateng ke sini. Soalnyakan biasanya mas Altaf aja yang ke sini. Tapi Alhamdulillah atuh yak, semoga ibu dan bayinya sehat." Ujar pakde penjual bakso.

"Aamiin pakde, iya Alhamdulillah udah tujuh bulan. Makasih pakde doanya. Kalau gitu saya ke bangku dulu ya."

"Siap atuh mas. Nanti baksonya saya antarkan."

Sambil menunggu, Altaf duduk di samping Kalila. Ia membuka botol air minum yang dibawanya dari rumah dan menyodorkannya. Kalila minum sedikit, lalu bersandar sebentar.

ALKALITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang