ALKALI #26

46 2 0
                                        

Altaf yang diperlakukan seperti itu, menyeringai nakal ke arah Kalila. "Bandel ya kamu!"

Kalila yang melihat mata suaminya bergidik ngeri. Baru saja dia ingin pergi ke kamar. Tapi Altaf malah menahannya.

"Tanggung jawab sayang! Kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur." Ujar Altaf menangkup wajah Kalila. Lalu dia mencium bibir istrinya dengan lembut.

Kalila yang di perlakukan seperti itu hanya bisa pasrah. Salahnya juga memancing Altaf. Saat oksigen mulai menipis, Kalila memukul dada bidang suaminya. "Mas, pelan-pelan." cicit Kalila.

Altaf yang tersadar melepaskan panggutannya. "Maaf sayang, kita lanjut di kamar ya!" Altaf menggendong Kalila ala bride style menuju kamar mereka.

"Mas turunin, aku berat tahu!" Elak Kalila, sebenarnya ia ingin kabur dari genggaman suaminya.

"No kamu nggak berat sama sekali! Oh, atau kamu mau kabur, tidak bisa sayangku." Kekeh Altaf. Saat sampai di kamar Altaf kembali mencium bibir istrinya.

Sementara Kalila hanya pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya. Toh mereka sudah halal, bahkan Kalila sedang mengandung anak suaminya.

Keduanya semakin berlarut dengan permainan panas malam ini. Altaf memperlakukan Kalila dengan sangat lembut, membuat Kalila terbuai dengan sentuhan suaminya. Mereka terus melanjutkan kegiatan mereka, dan mengakhirinya dengan tertidur pulas.

***

Pagi harinya Kalila sudah bangun lebih dulu dari Altaf. Perempuan itu merona ketika mengingat kejadian semalam. Perlahan dia membangunkan suamianya, karena sebentar lagi waktu shubuh akan tiba. Kalila mengelus pipi suaminya sambil berbisik, "mas, bangun yuk! Sudah mau shubuh, kita harus bebersih dulu."

Altaf mengerjapkan matanya, pemandangan pertamakali yang ia lihat adalah sang istri. Dia tersenyum, mengecup bibir Kalila sekilas. "Pagi sayang."

Kalila tersenyum, "pagi mas. Hayuk bangun dulu."

Altaf mengangguk keduanya, segera membersihkan diri dulu di kamar mandi. Di lanjut dengan sholat shubuh berjamah dengan khusyuk dan berdoa. Setelah itu, keduanya membaca Al-Qur'an bersama.

Pagi harinya Altaf dan Kalila sarapan bersama di luar. Mereka sarapan di salah satu restoran yang berada di Ubud Bali. Banyak sekali menu makanan yang tersedia di restoran tersebut, membuat Kalila kalap mata melihatnya. Bahkan perempuan itu, memesan banyak sekali makanan. Dari mulai ayam panggang, sate, gurame asam manis, dan masih banyak lagi. Altaf sebagai suami yang selalu membahagiakan istrinya menuruti permintaan Kalila, dengan syarat harus bisa menghabiskan makananya agar tak mubazir. Tak lama makanan mereka datang. Keduanya segera menyantap makanan yang mereka pesan.

"Pelan-pelan aja sayang, nanti tersedak loh!" peringat Altaf melihat cara makan istrinya yang terburu-buru.

"Maaf mas, habisnya enak sih! Apalagi gurame nya enak sekali." Cengir Kalila.

"Berarti mas nggak salah pilih restauran dong!" ucap Altaf dengan bangga.

"Engga dong! Nanti setiap ke Bali kita harus ke restauran ini ya mas. Aku suka sama makananya." Ujar Kalila, sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

"Siap sayang. Apasih yang enggak buat kamu."

Setelah selesai makan mereka kembali ke villa. Kedua pasutri tersebut kembali bersantai di ruang TV. Rencanya nanti siang mereka akan pergi ke Ubud Palace. Karena hari ini adalah hari terakhit mereka di Balik. Besok pagi mereka sudah harus pulang ke Bandung.

Waktu menunjukan pukul tiga sore. Kalila sudah siap dengan gamis bewarna maroon dan hijab bewarna hitam. Gamis dan hijab tersebut sangatlah cocok di kulit Kalila yang sangat putih. Sementara Altaf memakai atasan putih dan celana coksu. Setelah keduanya siap, mereka langsung ke parkiran mobil. Jarak tempuh ke Ubud Palace hanya memerlukan waktu dua puluh menit, karena sangat dekat dengan villa mereka. Altaf melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.

ALKALITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang