ALKALI #33

83 1 0
                                        

Thalita justru makin mendekat. Membelai dada bidang Altaf. “Kamu nggak perlu pura-pura, Taaf. Aku tahu kamu masih...”

“Cukup!” seru Altaf dengan sisa tenaga, lalu ia mendorong tubuh Thalita agar menjauh. Kursi di belakang mereka terjatuh, Altaf tak peduli, ia segera bangkit, menahan pusing, dan bergegas keluar restoran.

Udara malam Yogyakarta menyambutnya dengan hembusan angin yang dingin. Ia nyaris terhuyung, tapi tetap memaksa berjalan ke arah parkiran. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan mobil dan memacu kendaraan menuju hotel.

Kalila yang sedang membaca di kamar hotel tersentak saat mendengar pintu terbuka dengan cepat. Altaf masuk dalam keadaan wajah pucat, tubuh berkeringat, dan napas tersengal.

“Mas! kamu kenapa?” seru Kalila panik, langsung menghampirinya.

Altaf menutup pintu, bersandar ke dinding, lalu menatap istrinya dengan mata yang masih buram. “Sayang… Thalita… dia… dia masukin sesuatu ke minuman aku…”

Kalila menahan napas, lalu cepat-cepat memapah Altaf menuju kamar. “Ya Allah, mas… kamu minum apa? Kamu masih sadar kan? Aku panggil dokter ya.”

Altaf menggenggam tangan istrinya. “Nggak usah, Sayang… aku cuma perlu tenang. Aku tahan tadi… aku nggak biarin dia ngapa-ngapain aku.”

Kalila menatapnya dengan mata berkaca-kaca, antara lega dan marah. “Wanita itu benar-benar keterlaluan…”

Altaf menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. Menyatukan kedua kening mereka, "sayang boleh yah?" Izin Altaf, mengelus pipi Kalila dengan lembut.

"Boleh mas, aku punya kamu." Balas Kalila meyakinkan suaminya.

Dengan lembut Altaf mencium bibir istrinya. Kalila hanya pasrah dan sekali membelas ciuman suaminya.

Merasa istrinya kehabisan napas, Altaf memberhentikan ciumannya. “Terimakasih sudah temani aku di sini,” ucapnya pelan. “Kalau kamu nggak ikut, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi.”

Dengan napas yang tidak teratur Kalila mengangguk. “ Sama mas. Aku nggak akan biarin kamu sendirian lagi. Aku janji.”

Altaf kembali melanjutkan ciumannya. Menggendong sang istri menuju tempat tidur. Kalila melingkarkan tangan dan Kakinya, ia sedikit tidak leluasa karena perutnya yang membuncit. Altaf meletakkan istrinya di atas tempat tidur. Lalu keduanya terlarut dengan suasan malam suami-istri yang terjadi di kamar hotel. Di luar, suara rintik hujan mulai turun perlahan, seakan menjadi saksi dari kesetiaan dan keberanian cinta yang baru saja diuji.

Di sisi lain Thalita membanting tasnya ke atas kasur. Dia sangat kesal, karena rencanya gagal hari ini. Padahal ia sudah sangat rapih.

***

Keesokan paginya Kalila bangun lebih dulu dari pada Altaf. Ia melihat wajah suaminya yang masih terlelap, seketika pipinya merona mengingat kejadian semalam, ia cepat-cepat tersadar dan buru-buru bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Selesai membersihkan diri, Kalila membangunkan suaminya, mengusap lembut pipi Altaf.

"Mas, bangun! Kita sudah adzan shubuh." Bisik Kalila di telingan Altaf.

Altaf melenguh, perlahan membuka matanya, ia tersenyum takkala melihat istrinya yang begitu dekat. Altaf mengecup bibir Kalila, "pagi sayang." Sapa Altaf.

"Pagi mas, hayu cepat mandi, setelah itu kita sholat shubuh berjamaah." Ujar Kalila.

Altaf mengangguk, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Kalila menyiapkan peralatan sholat untuk mereka berdua. Tak lama Altaf sudah selesai mandi. Setelah itu, Kalila mengambil air wudhu. Dan keduanya sholat berjamaah bersama.

ALKALITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang