ALKALI #25

69 2 0
                                        

Malam harinya, karena Kalila sudah merasa segar. Mereka memutuskan untuk makan malam di luar. Kalila dan Altaf tengah bersiap-siap. Lebih tepatnya Altaf sedang menunggu istrinya, karena dia sudah siap dari beberapa menit yang lalu.

"Ayok mas! Aku udah siap." Ajak Kalila yang sudah siap. Dia memakai gamis berwarna dusty pink dan hijab berwarna putih, yang membuatnya sangat cantik sekali.

Altaf yang melihat istrinya sangatlah cantik, jadi merasa tak rela membawa istrinya keluar. Bagaimana kalau laki-laki di luar sana menatap kagum istrinya.

"Subhanallah, istri mas kok cantik sekali. Mas jadi nggak rela ngajak kamu keluar." Altaf mehampiri sang istri, mengecup bibir istrinya sekilas.

"Ish, mas Altaf kok cium-cium Kalila. Nanti lip blam Kalila hilang!" cibik Kalila merasa kesal.

"Biar aja, lagian tanpa itu kamu tetep cantik kok!" gombal Altaf.

"Dasar gombal! Udah yuk, kalau kayak gini kita kapan berangkatnya." ketus Kalila mengembungkan pipinya.

"Iya sayangku, ayok kita berangkat. Jangan ngambek dong!" kekeh Altaf, mengelus pucuk kepal istrinya.

Suara ombak mengiringi desiran angin laut yang lembut. Sekarang mereka sedang berada di tepi pantai. Suasana  di sana sangatlah hangat, musik akustik pelan, dan aroma laut menciptakan suasana yang nyaris sempurna. Altaf sengaja memilih makan malam di sana. Selain pantai di sana sangat cantik, dia juga tak ingin membuat istrinya kelelahan. Karena memang pantai ini sangatlah dekat dengan villa milik mereka.

“Lihat langitnya, Mas. Cantik banget,” ujar Kalila sambil menunjuk cakrawala.

“Langitnya sih cantik, tapi yang paling cantik tetap kamu,” jawab Altaf spontan.

Kalila tertawa kecil. “Kamu nih, dari tadi gombal terus!"

“Tapi aku serius sayang,” balas Altaf dengan nada lembut.

"Iya-iya, terimakasi mas suami."

Keduanya tertawa. Mereka makan malam sambil berbincang tentang masa depan yang akan mereka lewati bersama.

“Makasih ya mas,” kata Kalila pelan. “Aku bahagia banget malam ini.”

Altaf menatapnya, senyum tipis di wajahnya. “Alhamdulillah sayang, itu sudah menjadi kewajiban mas untuk membuat kamu bahagia."

Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk berjalan kecil di sekitar pantai. Keduanya saling bergandengan tangan. Altaf mengajak Kalila duduk di pesisir pantai.

"Udaranya sejuk banget ya mas." Kata Kalila menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Altaf.

"Iya sayang, ini salah satu hal yang suka dari Bali. Pantainya sangat indah! Apalagi sekarang mas di temani oleh kamu, rasanya sangat hangat sekali." Ucap Altaf lembut. Dia merasa sangat bahagia bisa ke Bali bersama istrinya.

"Engga kerasa ya mas, kita udah mau satu tahun saja bersama. Makasih banyak ya mas, udah selalu buat aku bahagia terus, aku sayang banget sama mas." Kalila memeluk suaminya dengan erat.

"Seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu sayang. Terimakasih karena sudah menerima mas sebagai suami kamu. Terimakasih juga sudah mau mengandung anak mas. Mas bahagia sekali punya kamu. I Love You istriku." Altaf mengecup kening istrinya cukup lama.

"I love you too mas suami." Balas Kalila, semakin mengeratkan pelukkannya.

Cukup lama keduanya menikmati suasana pantai yang indah. Altaf mengajak istrinya untuk kembali ke Villa. Karena udara malam di pantai tak bagus jika berlama-lama untuk istrinya yang sedang mengandung.

ALKALITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang