Seminggu kemudian
Pagi itu rumah Altaf dan Kalila terasa lebih ramai dari biasanya. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba, acara tujuh bulanan untuk kehamilan pertama Kalila. Dari pagi, Kalila sudah dibantu oleh Altaf untuk menyiapkan diri, setelah itu Altaf mondar-mandir memastikan semua persiapan sesuai rencana.
Satu per satu keluarga berdatangan. Suara salam dan sapaan hangat memenuhi ruang tamu.
Umma dan Abi-nya Altaf datang lebih dulu. Umma langsung memeluk Kalila dengan penuh kasih. “Cucu Uma sebentar lagi gede, ya Allah… sehat-sehat ya, Nak,” katanya sambil mengelus perut Kalila.
Tak lama kemudian, Umi dan Abi-nya Kalila tiba. Umi membawa beberapa makanan yang sudah ia masak. “Biar nggak repot, Umi bawain rendang sama sayur lodeh,” katanya sambil tersenyum. Kalila memeluk orang tuanya dengan mata berbinar.
Menyusul kemudian Shahzid dan istrinya, Anissa, datang sambil membawa buah tangan. “Calon keponakan nih, pasti kuat banget di dalam,” kata Shahzid sambil bercanda.
Anissa langsung duduk di samping Kalila, mengelus perutnya dengan lembut.
Tidak lama, Syafeera, adik perempuan Altaf, datang bersama suaminya, Gaga.
“Hamil lima bulan ya, nak… kelihatan banget sekarang,” kata Umma sambil menatap penuh sayang ke anak perempuannya.
Syafeera tertawa kecil sambil mengelus perutnya. “Iya, Umma. Udah mulai sering nendang juga. Capek sih, tapi seneng banget.”
Gaga, yang selalu siaga, menuntun istrinya duduk agar tidak terlalu lama berdiri. “Pelan-pelan dulu, sayang. Nanti kecapean,” katanya lembut.
Kalila yang juga sedang hamil langsung tersenyum melihat adik iparnya datang. “Kita sama-sama ya, Feer. Kamu lima bulan, aku tujuh bulan.”
“Calon sepupu nanti pasti deket banget nih,” balas Syafeera sambil tertawa.
Mereka berdua duduk berdampingan, perutnya sama-sama membuncit, membuat keluarga yang lain tersenyum gemas melihat pemandangan itu.
***
Acara tujuh bulanan pun di mulai. Altaf duduk di samping istrinya, memegang tangannya dengan lembut. Kalila tersenyum tenang meski tampak sedikit gugup. Prosesi pembacaan doa dipimpin oleh pak ustad Rahmat. Suaranya lembut, menenangkan, membawa suasana khidmat.
Doa-doa penuh harapan dipanjatkan, agar Kalila diberi kesehatan, agar bayi tumbuh kuat dan sempurna, agar proses persalinan kelak lancar tanpa hambatan, dan agar keluarga mereka selalu diliputi keberkahan. Tak lupa Altaf dan Kalila memberikan santunan kepada anak yatim dan dhuafa.
Kalila sesekali menunduk, matanya berkaca-kaca. Altaf menguatkan genggamannya.
Setelah acara syukuran tujuh bulanan selesai. Kini tibalah sesi makan bersama. Saudara Altaf dan Kalila segera membantu untuk mengeluarkan makanan yang sudah mereka buat. Para warga pun makan bersama dengan khidmat.
Setelah acara selesai, Altaf mengobrol bersama Abinya, Abi Kalila, Shazid, dan Gaga di ruang tamu.
“Alhamdulillah, acaranya lancar ya, Taf,” ujar Fathur;Abinya Altaf sambil menepuk bahu putranya pelan.
Altaf tersenyum kecil, lelahnya masih tersisa namun jelas terlihat bahagianya. “Iya, Bi… lega banget rasanya. Apalagi Kalila tadi juga kuat sampai acara selesai.”
"Gimana Al, repot nggak nurutin ngidam anak abi?" tanya Rafi pada menantunya.
"Alhamdulillah engga Bi, soalnya Kalila juga nggak pernah minta yang aneh-aneh si Bi. Altaf juga malah senang bisa nurutin ngidam Kalila." Jawab Altaf, tersenyum pada mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
EspiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
