Kalila mengangguk kecil, sedikit tersenyum. “Iya… udah lewat jam makan siang ternyata.”
“Yuk, kita cari makan dulu. Kamu harus cepat makan, soalnya kamu bawa dua sekaligus di sini,” jawab Altaf sambil menyentuh perut Kalila, membuat istrinya menahan tawa.
Mereka pun langsung melajukan mobil menuju restoran terdekat yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Altaf memastikan tempatnya cocok untuk ibu hamil, nggak terlalu berisik, nggak terlalu dingin, dan makanannya aman.
Setelah sampai, Altaf membantu Kalila turun dari mobil. Mereka masuk ke restoran dan duduk di meja pojok yang suasananya tenang. Altaf memesan menu favorit istrinya, sambil sesekali memperhatikan apakah Kalila merasa lelah.
Ketika makanan datang, Kalila makan dengan lahap, sesekali memegangi pinggangnya yang mulai pegal. Altaf tersenyum melihatnya.
“Tuh kan, laper banget,” goda Altaf.
Kalila pura-pura manyun. “Ya gimanaaa… kamu ajak aku jalan terus.”
Altaf tertawa kecil dan menyuapkan satu sendok ke mulut Kalila, membuatnya tersipu. “Yaudah, habisin dulu.”
***
Setelah kenyang, mereka kembali ke rumah. Begitu masuk, Kalila langsung melepas jilbab dan duduk di sofa ruang tamu. Altaf pun ikut duduk di sampingnya, memijat pundak istrinya pelan.
“Nah, sini… capek ya?” tanya Altaf lembut.
“Lumayan…” Kalila menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Tapi seneng banget liat Kak Annis dan bayinya sehat.”
Altaf mengangguk. “Iya, aku juga seneng. Oh iya, sini perutnya aku cek bentar.”
Kalila memiringkan tubuh sedikit agar Altaf bisa lebih mudah mengelus perut besarnya. Sentuhan tangan Altaf begitu lembut, membuat Kalila merasa sangat tenang.
“Dede lagi aktif banget ya hari ini?” tanya Altaf sambil tersenyum.
Kalila mengangguk, matanya berbinar. “Iya, dari tadi nendang terus. Kayak lagi main sepak bola di dalam.” kekeh Kalila
Altaf mendekatkan telinganya ke perut itu. “Dede… jangan rusuh dulu, Abi sama Umi mau santai dulu nih,” katanya bercanda.
Kalila langsung tertawa, menepuk bahu Altaf pelan. “Ih, kamu tuh…”
Suasana ruang tamu dipenuhi tawa kecil dan obrolan ringan. Mereka membicarakan di rumah sakit tadi, tentang Annisa yang akhirnya sehat, dan Shahzid yang terlihat begitu panik namun bahagia.
Kemudian Altaf menarik selimut tipis, menutup kaki Kalila, dan mendekatkan tubuhnya agar istrinya lebih nyaman. “Istirahat dulu ya… nanti aku buatin teh hangat.”
Kalila tersenyum manis dan menggenggam tangan suaminya. “Makasih ya, mas… kamu selalu perhatian.”
Altaf menatapnya lembut. “Selama kamu sama dede sehat, itu sudah cukup buat aku.”
Mereka berdua pun beristirahat di ruang tamu dengan candaan, kehangatan, dan perasaan bahagia menyelimuti mereka sepanjang sore.
***
Pagi itu, Altaf tiba di kantornya lebih awal dari biasanya. Sebagai CEO, jadwalnya selalu padat, dan ia ingin memastikan semua berkas yang berkaitan dengan projek event besar bulan depan sudah ia cek sebelum rapat besar siang nanti. Begitu masuk ke ruang kerjanya, ia langsung meletakkan tas, menyalakan laptop, dan mulai bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
