Thalita kembali dari toilet, lalu duduk dengan anggun di hadapan Altaf dan Riza. "Jadi bagaimana, kamu menerimanya?"
Tiba-tiba pelayan membawakan kopi dan teh untuk mereka. "Silahkan pak, bu." Lalu pelayan tersebut pergi dari sana.
Thalita tersenyum kecil pada pelayan, lalu kembali menatap Altaf. “Masih suka kopi hitam tanpa gula? Sama seperti dulu?”
Altaf hanya meneguk pelan tanpa menjawab. “Kita bahas kontraknya saja, Thalita.”
Ia membuka map cokelat di depannya, menunjukkan beberapa poin kerja sama. Tapi Thalita tak tampak terlalu tertarik dengan berkas itu. Matanya lebih sering memandangi Altaf, wajah yang dulu begitu ia kenal, kini tampak lebih matang, lebih berwibawa, tapi tetap dengan sorot mata yang sama.
“Aku udah baca proposalnya,” kata Thalita akhirnya. “Dan aku setuju dengan semua ketentuannya. Tapi…” ia berhenti sebentar, senyum liciknya muncul. “…aku pengin kita yang handle langsung. Aku nggak mau cuma lewat perantara tim. Aku pengin kita berdua yang memimpin proyek ini.”
Altaf mengangkat wajahnya, menatap langsung. “Itu nggak perlu. Timku cukup kompeten untuk-”
“Aku bersikeras,” potong Thalita lembut namun tegas. “Aku tahu kamu orang sibuk, tapi ini proyek besar. Kalau kita kerja bareng, hasilnya pasti lebih maksimal. Lagipula… akan menyenangkan bisa bekerja bareng kamu.”
Altaf menarik napas dalam. “Baik. Kalau itu bisa mempercepat jalannya proyek, aku setuju.”
Thalita tersenyum puas. “Bagus. Aku suka pria yang cepat ambil keputusan.” Namun di balik senyum itu, pikirannya bergolak.
Thaliat memang sudah menunggu momen ini lama sekali. Bahkan sejak dulu, persaannya tidak pernah berubah, dia akan terus mencintai Altaf, walaupan Altaf sudah bersistri. Kini, nasib memberi kesempatan kedua, dan Thalita tahu persis apa yang harus dilakukan. Ia akan merebut perhatian Altaf kembali, pelan-pelan, tanpa harus memaksanya. Dan ia akan membuat rencana licik itu perlahan.
“Terima kasih sudah datang kesini, Altaf,” ucapnya pelan sambil menatap mata pria itu.
Altaf hanya membalas dengan anggukan kecil. “Aku datang karena ini penting untuk perusahaan.”
Thalita tersenyum samar, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Tentu saja.”
Namun di dalam hatinya, ia bergumam 'kita lihat saja, Altaf. Pada akhirnya, kamu akan menjadi milikku bagaimana pun caranya.'
Rapat pun berakhir dengan tanda tangan di atas kertas kerja sama. Talitha menyimpan salinan dokumennya, lalu berdiri sambil menatap Altaf dengan sorot mata yang lembut namun menyimpan bara.
“Selamat bekerja sama, Altaf.”
Altaf berdiri, dia merapihkan jasnya. Tak membalas jabatan tangan milik Thalita. "Baik terimakasih, kalau gitu kami permis." Pamit Altaf. Sementara Riza mengikutinya.
Thalita terkekeh pelan dengan sikap Altaf yang masih dingin padanya. Kita lihat saja nanti! Altaf akan bertekuk lutut di hadapannya.
***
Selama di perjalanan Altaf terdiam, pikirannya berkecamuk. Riza yang melihat bosnya dia saja, menghela napas kasar. Dia tau keputusan tadi sangat berat untuk Altaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
