Pagi ini mereka, memutuskan untuk pulang ke Bandung. Di karenakan pekerjaan Altaf di yogyakarta sudah selesai. Keduanya memilih jam pemberangkatan pagi, agar mereka sampai di Bandung siang hari.
"Ayok mas, aku udah siap." Kata Kalila, menghampiri suaminya yang sedang mengecek perkembangan saham di Iped nya.
"Ayok sayang, Riza juga sudah menunggu di Bandara. Jadi kita nanti di sana tidak perlu uras urus lagi." Balas Altaf, dia meraih telapak tangan istrinya untuk di gengam. Sementara tangan satunya meraih koper mereka. Keduanya segera menuju lobby, karena taksi yang mereka pesan sudah ada di depan lobby hotel.
Setelah tiga puluh menit berlalu, keduanya sampai di Bandara, dan langsung masuk ke dalam pesawat. Di sana mereka akhirnya bertemu dengan Riza, asisten sekaligus sekretaris suaminya.
"Kak Riza!" Sapa Kalila.
"Eh bu bos! Akhirnya kalian sampai juga. Oh iya pak bos tepat duduk kalian di sana."
"Oke Za, makasih ya. Kalau gitu kita ke sana dulu." Balas Altaf, ia tak ingin berlama-lama, karena takut istrinya kelelahan karena lama berdiri.
"Kak Riza kita permisi dulu ya." Pamit Kalila.
"Oke bu bos!"
Altaf dan Kalila segera duduk di bangku mereka. Altaf sengaja memesan bangku First Class, agar Kalila merasa nyaman. Walaupun perjalanan mereka dari yogyakarta ke Bandung hanya beberapa jam saja.
"Duduknya sudah nyaman belum Yang?" tanya Altaf.
"Udah aman kok mas." Balas Kalila, menyandarkan kepalanya ke bahu milik Altaf.
"Kamu kalau mau tidur, tidur aja yah. Nanti kalau udah sampai mas bangunin."
Saat pesawat mulai bergerak ke landasan, Kalila memegang tangan Altaf sebentar, tetapi matanya perlahan-lahan mulai terpejam. Kehamilan membuatnya cepat lelah, dan suara mesin pesawat yang halus justru membuatnya semakin mengantuk.
Tak sampai 10 menit setelah take-off, Kalila sudah benar-benar terlelap dengan kepala bersandar di bahu Altaf.
Altaf tersenyum kecil, menatap wajah istrinya yang terlihat sangat damai. Ia menggeser sedikit posisi tubuhnya supaya Kalila bisa tidur lebih nyaman. Sesekali ia merapikan jilbab Kalila yang miring dan memastikan sabuk pengamannya tidak menekan perut.
Selama perjalanan, Altaf hanya memandangi awan di luar jendela sambil mengelus pelan tangan Kalila. Sesekali ia menunduk memastikan istrinya tidak kepanasan, lalu memanggil pramugari untuk meminta tambahan air mineral saat Kalila bergerak gelisah dalam tidur.
Setelah hampir satu jam mengudara, pesawat mulai menurunkan ketinggian. Altaf mengusap lengan Kalila pelan.
“Sayang… bentar lagi sampai.”
Kalila membuka mata perlahan, terlihat masih mengantuk. “Hmm… udah sampai mas?”
“Hampir sampai sayang,” jawab Altaf sambil tersenyum.
Saat pesawat mendarat dan berhenti sempurna, Kalila menguap kecil. “Aduh, aku bener-bener ketiduran, ya?”
“Iya, dari awal sampai akhir,” jawab Altaf sambil tertawa pelan. “Tapi bagus, kamu butuh istirahat.”
Kalila tersenyum malu. “Makasih ya mas, kamu jagain aku terus.”
Altaf menangkup tangan Kalila. “Selalu.”
Saat mereka keluar dari pesawat dan menapaki bandara Bandung, udara sejuk menyapa, membuat Kalila menghela napas lega. Ia memeluk lengan Altaf.
“Seneng banget bisa pulang lagi ke Bandung…”
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
