11 - Uncomfortable

804 85 205
                                    

kamu lahir di bulan apa?

jangan sider!!

tinggalkan jejak dan jangan diskip-skip yaa

Selamat membaca

Apapun yang menyangkut tentang dia, itu bukan hal yang penting

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Apapun yang menyangkut tentang dia, itu bukan hal yang penting.
— Satu Garis Dua Arah

11 - Uncomfortable

KAYLA menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan. Dari tadi Athaya terus-terusan mengomel ke padanya. Sedangkan Mauren dan Nadya hanya bisa diam sambil menonton.

Athaya itu tidak bisa disela ketika sedang kesal.

"Lo bisa nggak sih, Kay, nggak usah bawa-bawa gue?" Athaya melirik Kayla dengan tatapan jengkel.

Kenapa coba harus membawa-bawa dia dan Dafa tadi di saat mereka sedang berhadapan dengan Amel, Dita dan Lannie? Athaya tidak suka jika dirinya diikut sertakan dengan Dafa. Dia merasa risih!

Kayla menghela nafas berat. "Emang kenapa, sih, Ay? Sensi mulu lo," balas Kayla.

Perubahan raut wajah Athaya yang tidak bersahabat, membuat Nadya cepat-cepat menengahi hal itu. "Udah, deh. Kok jadi marah gini, sih?" kata Nadya sambil melirik Kayla. Menyuruh Kayla tukar posisi duduk dengannya lewat kedipan mata.

Kayla langsung paham. Dia bangkit dan berpindah posisi, duduk di sebelah Mauren. Athaya masih kesal dengan Kayla. Dia sama sekali tak menanggapi Kayla yang menyengir ke arahnya dan berlagak seolah ini hanya masalah sepele.

Nadya menyeletuk saat sudah duduk di sebelah Athaya. "Lagian lo itu terlalu banget, Ay. Jangan segitunya sama Kak Dafa, nanti lo yang nyesel sendiri."

Athaya sama sekali tidak mengubris. Dia menyibukkan diri dengan membolak-balik halaman buku tulis di depannya.

"Dari awal kita temenan, lo selalu benci sama Kak Dafa. Dia baik banget, Ay. Kenapa cowok sebaik dia harus lo benci?" Mauren berkata.

Walaupun Mauren dulunya pernah berpacaran dengan Leon, tetapi dia sama sekali tidak tahu dengan permasalahan Athaya dan Dafa. Mauren juga tidak pernah bertanya, dia ingin Athaya sendiri yang bercerita.

Athaya itu... tidak suka jika masalahnya dicampuri.

Athaya menghela nafas. "Gue belum bisa cerita. Maaf."

Mauren mengulur tangan, mengusap bahu Athaya. "Kita nggak maksa lo buat cerita, kok." Ucapan Mauren dibalas senyum manis dari gadis itu.

Satu Garis Dua Arah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang