Tiga puluh empat

17 2 5
                                        

Kenan mengembuskan napasnya kasar saat melihat barang berserakan yang berada di depannya. Sudah hampir dua jam ia bersama anggota kelompoknya berkumpul di sekolah untuk membuat properti ujian praktiknya, namun baru beberapa saja yang sudah siap. Belum lagi beberapa temannya datang tidak sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati hingga membuat anggota yang lain sedikit kesal. Ada yang datang setengah sepuluh bahkan hampir pukul sepuluh, padahal mereka janjian pukul sembilan pagi.

Banyak juga kelompok lain yang ikut berkumpul di hari sabtu ini yang meski sekolah libur, namun terlihat ramai. Di hari sabtu juga biasanya ada kelas pemantapan dari pukul delapan yang dari tadi sudah berlangsung. Kenan tahu kalau hari ini ada kelas itu yang berarti Zia juga berada di sana. Akan tetapi, sedari tadi ia tidak melihat Zia yang harusnya sudah keluar beberapa menit yang lalu.

Di samping Kenan ada Niki yang satu kelompok dengannya sedang mengetik naskah drama kelompok mereka. Ingin bertanya tentang Zia, tetapi Kenan tidak ingin Niki berpikir macam-macam. Jadi, yang dilakukannya sekarang adalah melanjutkan pembuatan properti.

"Nik, Zia udah pulang dari kelas pemantapan ya?"

"Zia ngga masuk, Sat. Sakit dia. Emang ada apa?"

Kenan menoleh ketika mendengar nama Zia disebut. Rupanya ada Satria yang bertanya pada Niki. Kenan diam-diam mendengar itu sambil terus melanjutkan pekerjaannya. "Zia sakit?" tanyanya dalam hati.

"Ini mau balikin buku abis gue pinjem."

"Oh, titip gue aja, Sat." Terlihat Satria menyerahkan buku yang ia bawa pada Niki yang langsung disimpan dalam tas Niki. Setelahnya hanya terdengar Satria yang mengucapkan terima kasih dan berlalu dari sana.

Setelah Satria pergi, Kenan penasaran dan ingin bertanya tentang Zia. Kenan agak mencondongkan badannya ke arah Niki lalu bertanya, "Nik, Zia sakit?"

Niki terlonjak kaget di tempatnya karena tiba-tiba Kenan mendekat padanya. "Apa sih lo? Ngagetin aja," ketus Niki dengan tatapan masih pada layar laptopnya.

"Jawab pertanyaan gue."

Akhirnya Niki menatap Kenan dan menghentikan tangannya yang sedang mengetik. "Apa? Zia? Iya sakit dia." Lalu Niki beralih lagi pada laptop di depannya dan lanjut mengetik, tidak memedulikan Kenan di sampingnya.

"Sakit apaan?" Kenan bertanya lagi.

Niki mengembuskan napasnya. "Sakit hati kali." Niki mengangkat kedua bahunya acuh.

Sementara Kenan menatap Niki bingung karena ucapannya yang terdengar bercanda itu. "Yang bener dong anjir. Masa sakit hati sih," ujarnya sambil menepuk bahu Niki.

"Ih! Bener tau. Mungkin dia sakit hati karena mantannya dateng lagi terus pamitan."

"Apa? Terus mereka putus gitu maksudnya?" Kenan sungguh tidak paham dengan ucapan Niki. Apa arti 'datang lagi' yang dimaksud Niki? Bukannya mereka emang balikan ya, terus kenapa harus dateng lagi, pikir Kenan.

"Apa sih lo. Mereka mah putus udah lama kali, Zia tuh cerita kalo Aiden dateng ke rumahnya buat pamit karena mau kuliah ke luar kota." Jangan salahkan Niki yang bisa dengan mudahnya membeberkan cerita Zia karena memang sifat Niki seperti itu.

Kenan terdiam beberapa saat menyadari pemikirannya selama ini salah. Ah, ia jadi teringat dengan pertemuannya dengan Zia di café terakhir kali. Ketika Kenan bertanya masalahnya sudah selesai atau belum, Zia hanya menjawab dengan anggukan. Tidak ada kata mereka balikan seperti pemikiran Kenan.

"Bodoh banget gue." Kenan merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya memiliki pemikiran seperti itu.

"Apa, Nan?" Niki menoleh karena tidak mendengar ucapan Kenan. Dilihatnya Kenan sedang mengusap wajahnya dengan tangannya lalu hanya menggeleng. "Ngga jelas," gumamnya. Lalu Niki kembali fokus dengan laptopnya.

Past and Present ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang