5 Arti Mimpi Orang yang Sama berkali-kali, Pertanda Jodoh?
1. Kamu merasa bersalah terhadapnya
Zia mengernyitkan dahinya membaca tulisan itu. Merasa bersalah? Zia tidak merasa punya salah apa-apa terhadap orang itu. Bertemu saja sudah jarang, jadi sudah pasti tidak ada konflik diantara mereka.
2. Kamu butuh membuat batasan dengannya
Maksudnya, Zia disuruh menjaga jarak dengan dia? Tanpa disuruh juga keduanya memang sudah berjarak. Atau maksudnya, Zia disuruh move on? Ah, mungkin begitu maksudnya. "Kamu perlu membangun tembok dengan orang tersebut karena dia berpotensi membuat kestabilan hidupmu rusak." Dia bukan membuat kestabilan hidup Zia rusak, tapi membuat kestabilan hati Zia rusak.
3. Kamu rindu dan menginginkan dia kembali
Sepertinya untuk yang satu ini mungkin benar. Mungkin Zia rindu pada orang itu hingga dalam beberapa minggu terakhir ini, ia sering memimpikan orang itu. Aneh, namun membuat Zia senang ketika ia membuka mata. Rata-rata isi bunga tidur itu menceritakan hal-hal yang indah. Nah, mungkin juga seperti apa yang dituliskan pada bagian keempat.
4. Mimpi tersebut merupakan proyeksi harapanmu bersamanya
5. Kamu punya koneksi spiritual dengannya
(Source by: IDN Times)
Setelah membaca bagian terakhir itu, Zia menutup ponselnya dan ia letakkan di mejanya. Zia menghela napas dan mengembuskannya begitu terus sampai berulang-ulang kali ketika dirasa tidak ada satupun jawaban yang ia dapatkan. Kenapa dirinya sering kali memikirkan Kenan? Kadang mimpi itu bisa terjadi rutin, kadang juga jarang-jarang. Walaupun Zia senang-senang saja dengan mimpi indahnya itu, tapi kan membuat ia berharap juga mimpi itu akan kejadian.
Zia memilih ke kamar mandi untuk cuci muka agar pikirannya lebih baik. Apalagi pelajaran sebelumnya adalah Ekonomi yang mengharuskan hitungannya balance.
"Mau ke mana, Zi?" tanya Alita ketika ia menoleh dan melihat Zia berdiri dari duduknya.
"Kamar mandi." Alita hanya bergumam dan fokus lagi pada ponselnya. Sekadar informasi, Zia itu bukan tipe cewek yang ke kamar mandi saja harus ditemani. Makanya Alita santai saja dan tidak menawarkan dirinya.
Zia melewati kelas sebelahnya yang pintunya tertutup, namun suara gaduh dari dalam kelas masih bisa ia dengar. Lalu ia kembali menatap depan setelah kelas itu terlewati dan menuruni tangga untuk menuju kamar mandi lantai dua. Di lantai tiga sekolahnya tidak ada kamar mandi, membuat siswa-siswi di sana harus turun ke lantai dua atau satu.
Zia menatap cermin di depannya dan merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. Kemudian kedua telapak tangannya ia bawa ke bawah keran air wastafel untuk menampung air yang ia pakai untuk membasuh wajahnya. Panggilan dari seseorang membuat ia mendongak melihat cermin yang menampilkan pantulan wajah Ina.
"Sendirian aja lo." Zia hanya tersenyum kecil membalas ucapan Ina.
"Na, pulang ama siapa?"
"Kenapa? Mau nebeng?" Ina menebak dengan benar seperti yang ada dipikiran Zia. Sementara Zia hanya menyengir malu, ternyata Ina sudah tahu tujuannya bertanya.
"Mauuu, bareng ya?" Ina mengangguk menyetujui. Lalu Zia pamit ke kelas duluan saat aktivitasnya di kamar mandi selesai.
***
Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, namun nampaknya belum ada tanda-tanda pelajaran terakhir akan selesai. Suara-suara dari luar kelas seharusnya sudah menjadi bukti bahwa pelajaran telah berakhir. Pandangan mata para siswa bergantian menatap jam di dinding juga pada guru paling ditakuti yang sedang berbicara di depan. Pak Rama apa tidak mendengar ya kalau sudah bel dari tadi?
Sebenarnya ini memang sudah menjadi kebiasaan Pak Rama. Pokoknya kalau beliau telat masuk, ya berarti keluarnya juga akan lewat dari jam seharusnya. Pak Rama masih membahas soal-soal UN tahun lalu dan sesekali menceritakan siswa-siswi kelas dua belas dulu. Pak Rama aslinya tidak seseram itu sebenarnya, tetapi karena pembawaannya yang serius membuat para siswa jadi segan. Bisa dikatakan beliau itu tegas. Semua murid di sini sepertinya tidak akan ada yang mau berurusan dengan beliau. Maka dari itu, setiap perkataan dan tindakan yang akan dilakukan harus dipikir-pikir terlebih dahulu, kalau tidak mau berurusan dengannya.
"Sudah bel ya?" Salah satu siswa menjawab, sedangkan yang lain menjawabnya dalam hati diiringi hati yang dongkol. "Oke, pelajaran sampai di sini dulu. Jangan lupa soalnya dijawab disertai penjelasannya. Pertemuan selanjutnya kita bahas. Ketua kelas pimpin doa."
Reno selaku ketua kelas melihat ke seluruh penjuru kelas untuk memastikan semuanya sudah siap. Kemudian ia memimpin doa yang diakhiri salam. Pak Rama berdiri, lalu berjalan menuju pintu kelas. Namun, sebelum itu beliau sempat berkata pada Zia untuk membawa buku serta kamus Bahasa Indonesia untuk ditaruh di mejanya. Satu lagi, kalau sudah dikenal oleh guru bawaannya pasti was-was. Apalagi gurunya seperti Pak Rama.
Zia masih membereskan buku-bukunya ketika seseorang memanggil namanya. Begitu menoleh ia melihat Ina berada di dekatnya. "Zia, sorry banget nih gue ngga bisa pulang bareng. Gue mau ngomongin tugas PKWU sama yang lain," jelas Ina dengan ekspresi wajah sesalnya.
"Oh gitu. Ya udah ngga apa-apa kali, santai aja, Na." Zia tertawa agar Ina tidak merasa bersalah. Harusnya begitu bukan? Yang punya motor kan Ina, masa iya Zia protes.
"Sorry ya, Zi."
Zia berdecak. "Ih, dibilang ngga apa-apa. Udah sana hush." Zia membalikkan badan Ina, barulah temannya itu pergi dari hadapan Zia.
Begitu keluar kelas dengan membawa buku dan kamus tebal Pak Rama, Zia tidak melihat Alita di luar. Mungkin sudah duluan, pikir Zia. Sambil turun tangga, Zia menghubungi Ayahnya untuk bertanya bisa menjemputnya atau tidak.
"Assalamualaikum, Yah."
"Waalaikumsalam. Kenapa, Dek?"
"Ayah, bisa jemput ngga?"
"Ngga bisa, Dek. Kamu ngga ada temen bareng? Atau uangnya abis buat naik ojek online?" Uang jajannya masih cukup untuk memesan ojek online, hanya saja Zia memang malas sekali untuk naik itu, entahlah kenapa.
"Masih ada kok. Ya udah, aku tutup ya? Assalamualaikum." Panggilan terputus saat Ayah Zia menjawab salamnya.
Zia masuk ke ruang guru dan menaruh buku Pak Rama di mejanya yang kosong. Pak Rama memang jarang duduk di mejanya, jadi tidak heran kalau tidak menemukan beliau di sana. Setelahnya Zia keluar dan melihat Kenan yang menunduk memainkan ponselnya. "Kenan." Panggilan itu membuat Kenan mendongak dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana putihnya.
"Lagi nunggu orang?" tanya Zia.
"Ngga. Lo belum pulang?" tanya Kenan basa-basi. Sebenarnya, tadi Kenan ada di belakang Zia saat gadis itu sedang menelpon Ayahnya. Yang membuat ia tahu kalau Ayahnya tidak bisa menjemput. Hal itu membuat Kenan ingin menawarkan tumpangan pada Zia.
"Ini baru mau mesen ojek online," jawab Zia sembari menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan salah satu aplikasi ojek online.
"Ngga mau bareng gue aja?"
Zia melebarkan matanya dan kedua alisnya terangkat. "Boleh emang?"
"Gue kan nawarin berarti boleh lah."
"Oke. Gue bareng ya."
Zia sekuat tenaga menahan bibirnya agar tidak membentuk senyuman lebar. Semenjak tidak sekelas dengan Kenan, interaksi keduanya juga kian surut. Baru hari ini lagi ia dapat berbicara dengan cowok di depannya ini. Rasanya seperti mimpi-mimpi Zia belakangan ini menjadi nyata. Meskipun ia tidak tahu akan seperti apa mereka ke depannya, namun diam-diam Zia mencoba untuk menikmati setiap momennya dengan Kenan.
Karena dirinya tahu, hanya ia yang menganggap interaksinya dengan Kenan adalah hal yang istimewa.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Present ✓
Teen Fiction"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
