Tiga puluh sembilan

19 3 3
                                        

Liburan singkat Zia dan teman-teman akhirnya datang juga. Sedari malam di grup sudah ramai sekali membahas persiapan mereka. Mengingatkan agar tidak telat untuk bangun, memberi tahu barang apa saja yang akan dibawa, sampai perdebatan antara Bayu dan Kenan yang meributkan posisi duduk di mobil. Zia sendiri juga sudah janjian dengan Alita dan Niki untuk membawa baju dengan warna yang sama, untuk dipakai nanti saat mereka mengunjungi tempat wisata.

Langit sudah terang menandakan matahari sudah menjalankan tugasnya ketika Zia berangkat menuju rumah Kenan diantar ayahnya. Seperti yang dibahas tadi malam, mereka sepakat untuk berangkat pada pukul tujuh pagi. Dan setidaknya harus sudah sampai di rumah Kenan tiga puluh menit sebelumnya. Tentunya itu sudah dibicarakan dengan Mas Indra.

Zia tidak melihat ada motor lain terparkir di halaman rumah Kenan saat ia sampai di sana. Hanya ada mobil yang Zia perkirakan milik Mas Indra dan motor Kenan saja. Karena semalam Bayu bilang akan membawa motornya bersama dengan Reza juga. Zia mengecek grup chat sebelum turun dari mobil ayahnya. Alita baru saja jalan, Niki akan ke rumah Kenan kalau sudah ada yang datang.

"Ayah mau langsung pulang?"

"Ayah temenin dulu deh. Sampe yang punya rumah keluar."

Ayah Zia membawa tas gendong putrinya dan berjalan ke pintu rumah Kenan. Zia mengetuk pintu itu yang tak lama dibuka oleh Kenan sendiri. Terlihat Kenan tersenyum kikuk menyadari masih ada Ayah Zia di sana. Meski begitu ia tetap menyalimi Ayah Zia dan mempersilakan masuk.

"Mau minum apa, Om?" tanya Kenan begitu ayah dan anak itu sudah duduk di sofa.

"Ngga usah repot-repot Kenan. Abis ini juga Om pulang." Sang Ayah beralih menatap putrinya. "Uangnya cukup kan, Dek?"

Zia meringis kecil mendengar pertanyaan ayahnya, sedikit malu ditanyai begitu. "Cukup, Yah."

"Benar kan ini yang nyetir mobil kakaknya Kenan?"

Kenan lebih dulu menjawab pertanyaan Ayah Zia. "Benar, Om. Mau saya panggilin Mas Indra?"

Ayah Zia mengibaskan tangannya, "Ngga perlu. Cuma mastiin aja kok. Hati-hati ya di sana. Bilang Mas-mu, jangan ngebut-ngebut nyetirnya."

"Baik, Om. Nanti disampaikan ke Mas Indra."

"Ya udah. Ayah pulang ya, Zi. Titip Zia ya Kenan. Om pamit dulu ya." Ayah Zia berdiri yang diikuti dengan Zia juga Kenan. Cowok itu dengan sigap mengantarkan ke depan.

Selang beberapa menit Niki datang dengan tas di punggungnya. Kenan yang dari tadi memang menunggu sampai salah satu temannya datang, masuk ke dalam meninggalkan Zia yang sudah mengobrol dengan Niki. Di dalam ia bertemu dengan mamanya yang bertanya sudah ada siapa saja yang datang dan langsung menghampiri dua gadis itu.

Bayu, Aldo, dan Reza datang bersamaan tepat pukul setengah tujuh. Lima menit berselang Alita datang diantar oleh kakaknya. Mas Indra tadi sudah keluar saat Alita belum datang dan masuk kembali untuk mengambil barang-barangnya.

"Kalian udah pada sarapan belum? Tante masak nasi goreng tadi. Yang belum, makan dulu aja. Masih setengah jam lagi kan." Mama Kenan menawarkan sarapan yang ditanggapi dengan kencang oleh Bayu. Maklum tadi berangkat buru-buru jadi tidak sempat sarapan.

"Pada ngga ikut makan?" Kenan bertanya setelah kembali dari kamar mandi. Tadi ia melewati dapur dan melihat teman-temannya sedang makan.

"Gue udah makan."

"Gue juga."

Kenan beralih pada Zia, bertanya lewat ekspresinya. "Ngga, Nan. Nanti kalo laper gue makan roti aja. Gue udah bawa kok."

"Oh iya ya. Lo kan ngga bisa sarapan ya."

Alita dan Niki bertukar pandang dengan kening berkerut, seperti menyiratkan Kenan tahu dari mana. Seperti satu pikiran, keduanya sama-sama tersenyum miring. Memilih menutup mulut dan tidak memotong ucapan Kenan. Biarkan saja dua insan manusia yang tengah dimabuk cinta itu.

Past and Present ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang