Pada awalnya, tiga tahun masa di SMA adalah waktu yang lama sekali. Tiga tahun yang dipikir lama itu memberikan banyak pelajaran yang kata orang adalah masa yang tidak mungkin dilupakan. Banyak kenangan manis dan pahit yang terjadi hingga membentuk diri menjadi pribadi yang sekarang. Tak terhitung berapa banyak air mata yang turun selama tiga tahun itu. Namun, dibalik itu ada pelajaran dan kenangan berharga yang berguna untuk masa depan.
Akan tetapi, saat sudah sampai pada penghujung kelas dua belas, barulah tersadar kalau ternyata tiga tahun itu adalah waktu yang singkat. Detik-detik terakhir sekolah semua siswa menjadi mengingat-ingat kejadian yang sudah mereka jalani. Semua tawa dan tangis itu akan tersimpan dalam ingatan mereka hingga nantinya bertemu lagi dan diceritakan kembali.
Zia merasa bersyukur dikelilingi dengan orang-orang yang baik padanya. Berterima kasih pada Tuhan karena telah dipertemukan dengan dua sahabat baiknya, yaitu Alita dan Niki. Awalnya Zia juga berpikir masa SMA-nya pasti akan berat untuk dijalani. Namun, disaat ia akan meninggalkan sekolahnya, semua peristiwa yang terjadi dalam tiga tahun belakangan muncul dalam ingatannya. Dan pada saat itulah Zia merasa bahwa semua itu seperti baru saja terjadi. Rasanya baru kemarin ia masuk sekolah dan berkenalan dengan Alita dan Niki, baru kemarin menjadi murid kelas dua belas, dan hingga kini akhirnya kewajibannya mengenyam pendidikan menengah atas berakhir.
Dalam tiga tahun ini Zia juga belajar yang namanya mengikhlaskan. Zia belajar ikhlas atas masa lalunya dengan Aiden. Tidak benci pada apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Aiden. Ia justru bersyukur pernah kenal dengan seseorang yang baik seperti Aiden.
Hingga akhirnya Zia bertemu dengan Kenan, seseorang yang pada awalnya ia pikir akan tetap menjadi temannya tanpa ada rasa lebih sedikitpun. Nyatanya Tuhan membuat mereka bisa mengenal lebih jauh dari sekadar teman biasa. Beberapa kali membuat mereka bersama hingga membuat rasa itu perlahan muncul dalam hati masing-masing.
Sehabis ujian beberapa siswa memilih menetap di sekolah, begitu juga dengan yang dilakukan Zia dan dua sahabatnya. Mereka sedang berada di kantin menyantap mie ayam dan soto langganan mereka.
"Eh, kita jadi apa ngga sih ke Bandung?"
Pertanyaan Niki mengawali sesi obrolan ketiga orang itu. Zia baru ingat belum menyampaikan pesan dari Bayu yang diterimanya kemarin. Langsung saja ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencari obrolannya dengan Bayu. Kemudian menunjukkan obrolan itu pada Alita dan Niki.
"Gue lupa belum kasih tau kalian. Nih, baca aja."
Alita dan Niki bersamaan melihat ponsel Zia yang isinya Bayu berkata hari sabtu berkumpul di cafe biasa Kenan dan teman-temannya nongkrong. Nanti di grup mereka, Bayu akan memberi tahu nama cafenya. "Ya, udah. By the way, temen-temennya Kenan itu baik-baik kan ya?" tanya Niki usai membaca pesan Bayu.
"Kita kan pernah ketemu di rumah Kenan. Gimana sih, Nik."
"Iya, tapi kan cuma sekali itu doang."
"Baik kok, asik malah. Bayu tuh kayak Raka, orangnya seru," jawab Zia.
Mereka melanjutkan makan diselingi dengan obrolan lain. Sampai makanan mereka habis datang seseorang duduk di samping Alita berhadapan dengan Zia dan Niki. Adalah Kenan orang yang baru datang itu dengan membawa semangkuk soto ayam dan sepiring nasi. Meja panjang kantin kini penuh setelah Kenan mengisi sisi yang kosong.
"Hari sabtu ke cafe jam sepuluh."
"Udah tau."
Kenan melihat Niki sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa belum memberi tahu ketiga orang ini. "Tau dari mana?"
"Tadi Zia yang kasih tau," jawab Niki sambil menunjuk Zia. Kenan beralih menatap Zia seolah meminta kejelasan.
"Kemarin Bayu kasih tau gue, Nan. Terus tadi baru aja gue sampein ke mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Present ✓
Ficção Adolescente"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
