Lima

32 6 1
                                        

"Ayo ke puncak!"

Zia, Alita, dan Niki sontak menoleh ketika Kenan mengajak mereka ke puncak. Kali ini di antara mereka tidak ada yang sedang kesal satu sama lain, mungkin Niki sedang lelah berdebat dengan Kenan. Maka ketika cowok itu ikut bergabung dalam obrolan para gadis, baik Niki atau Alita tidak mempermasalahkan itu. Kalau Alita sendiri menilainya dari bagaimana seseorang mengobrol padanya, kalau datangnya dengan baik-baik, ya Alita tidak masalah dengan itu, meski itu Kenan. Karena memang tadi dia tidak dalam mode menyebalkannya.

Dimulai dari para gadis membicarakan tentang jadwal UAS yang akan datang sebentar lagi, lalu mereka merasa seperti baru kemarin masuk kelas sebelas, tetapi kini sudah berada di akhir semester satu. Kemudian tiba-tiba Niki yang berceletuk ingin jalan-jalan sebelum ulangan. Mungkin Kenan mendengar obrolan itu hingga ia ikut nimbrung.

"Nggak mau. Ke puncak bosen," balas Niki yang diikuti anggukan setuju dari Alita. "Ke mana gitu kek yang beda," lanjutnya.

"Ya udah kalo lo nggak mau. Zi, mau ikut ke puncak nggak?" Kenan bertanya pada Zia yang belum memberikan tanggapan.

Zia sendiri ikut ke mana saja temannya pergi, asal itu bersama teman atau orang yang ia kenal. Begitu prinsipnya. Karena Zia tidak terlalu bisa membangun obrolan dengan orang asing.

"Naik apaan, Nan?"

"Naik motor," jawabnya santai.

Zia langsung memasang ekspresi bingungnya. "Lho, terus Niki sama Alita gimana? Masa naik motor juga. Kasian cewek, jauh tau."

"Siapa yang ngajak mereka? Orang Niki aja nggak mau ke puncak. Makanya gue ajak lo," jawab Kenan.

"Ikut aja, Zi. jalan-jalan dibayarin sama Kenan tuh. Jarang-jarang kan dia mau ngajak orang pergi," bujuk Niki dengan alis yang dinaik turunkan.

"Nanti gue pikirin lagi deh." Zia berkata dengan melihat pada Kenan yang dijawab dengan anggukan kepala.

Sejujurnya Zia mau-mau saja ikut. Namun, bagaimana nanti kalau teman sekelasnya tahu ia hanya pergi berdua dengan Kenan? Meski Zia sering menjadi jembatan teman-temannya untuk berbicara dengan Kenan, Zia tetap merasa mereka tidak sedekat itu untuk jalan-jalan berdua.

Kenan kembali ke tempat duduknya sendiri setelah obrolan tentang puncak itu selesai. Namun, rupanya Alita dan Niki masih belum selesai membahas topik itu.

"Kenapa nggak langsung setuju aja sih, Zi?" tanya Alita usai memastikan Kenan tidak akan mendengar ucapannya.

"Ih, nggak tau. Gue ngerasa nggak enak aja kalau cuma berdua," jawab Zia cepat.

"Nggak enak kenapa? Takut Aiden tau? Dia aja nggak jelas kok, sampe sekarang masih diblok kan?"

Memang benar apa yang dikatakan Alita. Hampir dua bulan Aiden dan Zia tidak komunikasi. Terakhir kali Zia mengecek kontaknya masih diblok oleh Aiden. Entah sekarang bagaimana, lagipula Zia juga malas menghubungi cowok itu duluan.

"Udah, ikut aja, Zi. Gue kayaknya nggak jadi jalan-jalan deh. Di rumah aja." Niki berkata dengan cengengesan, membuat Zia ingin sekali menaboknya.

Zia mendelik sebal pada Niki. Awalnya kan dia yang ribut ingin jalan-jalan. Niki hanya tertawa puas melihat Zia.

"Nanti deh gue pikirin dulu."

***

Zia belum memberikan jawaban pada Kenan tentang kepastiannya untuk ikut ke puncak atau tidak. Sudah dua hari berlalu dan Zia masih memikirkannya. Kemarin ia hanya iseng bertanya hari apa ke puncaknya, yang dijawab Kenan hari sabtu. Hari ini sudah hari jumat yang berarti Zia harus memberikan jawabannya hanya sampai malam ini. Tetapi, ia baru ingat kalau yang paling penting adalah izin dari orang tuanya.

Maka setelah pulang sekolah dan berganti baju Zia menghampiri mamanya untuk meminta izin. Kebetulan hanya ada mamanya di rumah, sedangkan ayahnya belum pulang dari kantornya.

"Mama, aku mau ngomong," ucap Zia menghampiri mamanya yang sedang menyiapkan makanan. Rutinitas Zia sepulang sekolah sehabis mengganti bajunya adalah makan. Mamanya sendiri yang menyiapkan makanan untuk Zia. Jika kebetulan sedang di butiknya, mamanya tetap meninggalkan nasi beserta lauknya untuk anak semata wayangnya itu. Mama Zia memiliki keterampilan menjahit, jadilah beliau membangun sebuah butik untuk menjual belikan hasil jahitnya itu.

"Tumben. Mau ngomong apa?" responnya sambil menarik kursi di sebelah anaknya.

"Aku diajak ke puncak sama temen, boleh ngga, Ma?"

Mama Zia terdiam sebentar. Zia harap-harap cemas menunggu jawaban sang mama. "Ada acara apa emangnya?" tanya mamanya.

"Ngga ada apa-apa. Cuma jalan-jalan aja gitu."

Mamanya mengangguk-angguk mengerti. "Berarti sehari aja kan? Ya udah ngga apa-apa. Nanti kamu bilang lagi aja sama Ayah."

Zia memberikan kedua ibu jarinya pada sang mama. Setelah itu Zia dan mamanya makan disertai obrolan. Sehabis makan, Zia pamit kembali ke kamarnya lagi. Di dalam kamar ia masih menimbang-nimbang untuk ikut dengan Kenan atau tidak. Tiba-tiba Zia teringat dengan Aiden. Diambilnya ponsel yang berada tak jauh darinya. Kemudian Zia membuka aplikasi chat yang biasa digunakannya untuk melihat apakah kontaknya masih diblokir oleh Aiden atau sudah dibuka.

Zia dan Aiden sebenarnya sudah sering begini. Dalam artian tidak berkomunikasi selama beberapa hari atau minggu. Namun, ini kali pertama Aiden memblokir nomornya. Ternyata kontaknya sudah tidak diblokir lagi oleh Aiden. Meski begitu, dalam hati kecilnya ingin tetap mengiakan ajakan Kenan.

"Ikut aja deh. Hitung-hitung liburan."

***

Past and Present ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang