Yang ditunggu oleh seluruh murid dan guru di sekolah Zia akhirnya tiba. Ya, hari ini acara ulang tahun sekolah yang dari kemarin diributin satu sekolah itu sudah berlangsung dari dua jam yang lalu. Lapangan sekolah Zia yang lumayan luas digunakan untuk acara hari ini. Ada panggung besar, kursi-kursi untuk orang penting juga sudah tersedia. Semalam Alita cerita kalau dia pulang malam untuk menyelesaikan urusan panggung, sound, dan sebagainya.
Zia duduk di barisan tengah-pinggir bersama Niki di sampingnya. Alita tidak bisa duduk bersama mereka karena tetap harus mengurus acara hari ini agar berjalan lancar. Niki saja yang melihat Alita mondar-mandir capek gimana Alita yang dari kemarin mengurus acara ini.
Sekarang sedang tampil persembahan dari ekstrakurikuler tari tradisional. Orang penting yang dimaksud adalah pejabat dari Dinas Pendidikan yang tadi pagi sudah memberikan sambutan. Sejujurnya Zia agak bosan hanya nonton dari tadi. Zia melihat Niki di sampingnya yang sedang memainkan ponsel. "Nik jalan-jalan yuk, bosen nih gue."
"Mau ke mana?"
"Jalan-jalan aja ke mana kek, beli minum gitu. Ayo dong," ajak Zia sambil menarik lengan Niki. Untungnya mereka duduk di pinggir yang memudahkan untuk keluar dan tidak mengganggu orang lain yang sedang menonton. Sebelum membeli minum, mereka ke kamar mandi terlebih dulu. Biasa lah cewek tidak bisa lepas dari yang namanya ngaca.
Hari ini Zia memakai dress pemberian Mamanya yang dibuat sendiri olehnya. Warna hijau tosca dengan potongan lengan seperempat, panjangnya di bawah lutut, dan sepatu setinggi 3 cm berwarna silver. Sementara Niki memakai dress berwarna biru muda dan Alita berwarna pink. Ketiga cewek itu terlihat cantik dengan riasan wajah yang cocok untuk anak seusianya.
"Nanti kita harus foto loh, lagi pake baju bagus gini masa ngga foto." Niki berbicara selagi foto di depan kaca. Sesekali Zia juga ikut karena disuruh Niki.
"Iya nanti kalau Alita udah free. Udah ayo beli minum." Zia menarik lengan Niki untuk keluar dari kamar mandi menuju kantin. Sampai di kantin, Zia menuju Mas Adit yang berjualan minuman. Mas Adit menjual minuman dari es teh, susu coklat, dan es mangga.
Saat sedang mengantre, Zia melihat Kenan sedang membeli air botolan yang berada di paling ujung kantin. Hari ini dia terlihat rapi dengan kemeja putih yang jasnya sudah dilepas lalu di letakkan di bahu serta celana hitam senada dengan warna jasnya.
Zia jadi teringat dengan teman-teman Kenan yang menganggap Aiden adalah pacar Zia. Saat kemarin ia dan Kenan ke cafe, Bayu menanyakan Aiden yang waktu itu dilihatnya saat sedang di cafe. Zia tidak ada kesempatan untuk menjelaskan bahwa itu bukan pacar Zia. Dan sikap Kenan waktu itu juga diam saja saat teman-temannya membahas Aiden. Padahal kan dia tahu kalau Aiden hanya mantan Zia. Mungkin saja Kenan memang malas membicarakannya, tidak terlalu penting juga.
Niki dan Zia kembali ke tempat duduk yang sayangnya sudah diisi oleh orang lain. Untungnya dipaling belakang ada kursi yang kosong. Zia menoleh ketika merasakan ada orang yang duduk di sebelahnya. Ada Kenan yang duduk dengan santai sambil menatap panggung yang sedang menampilkan band sekolahnya. "Ini orang duduk santai banget, ngga tau apa yang di sebelahnya ngga bisa santai," ucap Zia dalam hati.
Seseorang datang menghampiri mereka dengan tangannya yang membawa kamera. "Mau gue fotoin ngga nih?" ujar Satria, anak Jurnalistik.
Zia melirik Niki seolah bertanya mau atau tidak yang dijawab dengan anggukan. "Fotoin dong Satria," pintanya. Zia agak merapatkan tubuhnya ke arah Niki.
"Kenan ikut foto ngga?" tanya Satria yang dijawab Kenan dengan gelengan kepala. Satria membidik kameranya beberapa kali hingga tiba-tiba perkataan Satria membuat Zia terkejut.
"Lo mau gue fotoin sama Zia ngga, Nan? Tenang aja ini kamera gue kok. Langsung gue kirim nanti," ucap Satria. Zia ragu untuk melihat Kenan, namun ia tetap menoleh dan mendapati Kenan yang mengangguk. Zia benar-benar merasakan jantungnya luar biasa berdetak dengan tidak normal. Meski waktu itu sudah pernah foto berdua, tetapi kan tetap saja hal-hal seperti ini tidak ada dalam bayangannya.
Masih sama seperti waktu di Curug, Zia dan Kenan berfoto dengan adanya jarak di antara mereka. Toh mereka berfoto dalam keadaan duduk, jadi tidak masalah kalau tidak dekat. Hanya dua kali Satria membidik kameranya. "Thank you, Sat. Nanti kirim ke gue aja ya." Zia tersenyum sambil menyerahkan kamera Satria yang tadi dipegangnya.
"Sama foto tadi juga sekalian aja kirim ke Zia. Makasih Satria," ujar Niki.
Zia menghela napasnya dalam ketika menyadari satu hal setelah kejadian hari ini. Dirinya makin sadar kalau ia sudah terlalu terbawa perasaan dengan Kenan. Sedangkan, Zia sendiri tidak tahu bagaimana hati Kenan pada Zia. Kenapa begini sekali kisah cinta Zia, ya Tuhan.
***
Zia terdiam membaca deretan kalimat yang muncul dinotifikasi ponselnya. Lagi dan lagi kenapa dirinya harus terjebak dalam situasi seperti ini. Berulang-ulang kali ia membaca lagi pesan itu, semakin sakit pula hatinya.
"Hai, Zi! Apa kabar? Semoga selalu sehat ya, gimana sekolahnya? Orang tua lo baik-baik aja kan? Gue ngga ada maksud apa-apa kok. Cuma ya gue lagi kangen aja sama lo. Gue kangen Zi. Kangen jalan sama lo. Kangen waktu kita dulu. Banyak Zi pertanyaan yang muncul dikepala gue kalau mikirin lo. Apa lo kangen juga sama gue? Bisa ngga ya kita ngulang waktu kayak dulu lagi. Tentunya semua pertanyaan itu ngga nemu jawabannya. Baik-baik ya Zi di sana. Kalau sakit jangan disepelein, buru-buru istirahat, minum obat."
Kenapa ia selalu berada di posisi ini? Kenapa justru hatinya sakit ketika melihat semua sikap Aiden kepadanya? Kapan ini semua berakhir, Tuhan?
Zia sadar kalau dirinyalah yang paling bersalah di sini. Menyia-nyiakan orang sebaik Aiden, tidak bisa membalas semua perbuatan Aiden, tidak bisa menuruti keinginan Aiden, namun apakah salah bila Zia hanya ingin melakukan semuanya sesuai dengan keinginan hatinya? Zia tidak ingin berpura-pura hanya untuk menyenangkan Aiden, dia tidak bisa. Zia bisa menjadi teman kembali, tapi tolong jangan begini.
Tanpa sadar air mata Zia perlahan turun yang semakin lama terasa menyesakkan dada ketika ia mencoba untuk berbicara. Dihapusnya air mata itu, Zia menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Zia takut suatu hari nanti Tuhan memberikan karma atas sikapnya saat ini. Maka dari itu, ia tidak bisa bicara langsung kepada Aiden atau dengan terang-terangan menyuruh Aiden untuk menjauhinya. Zia ingin lewat perilakunya yang cuek, Aiden bisa mengerti dan sadar.
Pagi harinya Zia telat bangun, namun masih dapat sampai ke sekolah sebelum bell berbunyi. Kalau saja Mamanya tidak membangunkan, pasti Zia akan kesiangan. Tadi ia sempat melihat wajahnya yang sembab akibat menangis semalam. Beruntung Mamanya tidak bertanya atau mungkin tidak sadar.
Zia sampai di kelas kemudian duduk di kursinya dengan napas yang naik turun. Alita menyodorkan minum yang Zia bawa, kemudian langsung habis setengah. "Lo kenapa sampe ngos-ngosan gitu?" tanya Alita. Niki juga ikut melihat Zia yang masih mengatur napasnya.
"Lari. Gue hampir telat."
"Ih mata lo sembab, lo abis nangis?" pekik Niki. Alita sebenarnya menyadari, namun ia tetap diam karena nanti pasti Zia akan cerita dengan sendirinya.
Zia mendengus mendengar pekikan Niki. "Berisik banget lo." Ia melihat Alita kemudian berkata, "Nanti ya Ta gue cerita." Zia tersenyum kecil dan Alita mengangguk.
Pelajaran pertama diawali dengan hitung-hitungan. Pelajaran kedua gurunya izin tidak masuk kelas dan hanya memberi tugas saja. Zia langsung mengerjakan tugasnya bersama Niki, sedangkan Alita katanya masih malas mengerjakan. Selesai mengerjakan tugasnya, Zia memilih untuk tidur di kelas.
Zia terbangun ketika mendengar gerasak-gerusuk di dekatnya. Mengerjapkan matanya, lalu melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam istirahat. "Sorry-sorry jadi bangunin lo. Berisik sih Niki ganggu orang lagi tidur." Zia hanya menatap orang yang sedang berbicara dengannya.
"Enak aja lo Kenan. Lo ya yang dateng kesini mana enak banget lagi mau liat tugas. Kerjain sendiri orang mah, enak banget tinggal liat," cerocos Niki.
"Padahal gue minta baik-baik loh ini, ngga ada niat mau ribut. Udah lah gue balik."
"Ambil buku gue aja."
"Beneran boleh, Zi?" tanya Kenan memastikan. Zia mengangguk, lalu pamit ke kamar mandi meninggalkan Niki dan Kenan yang masih ribut.
Zia berpikir apa ia harus membalas pesan Aiden atau tidak, atau dibiarkan saja pesan itu dalam keadaan tidak dibaca. Mungkin nanti setelah cerita pada Alita, barulah ia akan memutuskan.
Sementara di sekolah lain ada seseorang yang menunggu pesannya dibalas, namun jangankan membalas, dibaca pun tidak.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Present ✓
Roman pour Adolescents"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
