Pukul setengah empat sore Zia masih berada di sekolah, tepatnya di lapangan voli. Menunggu seseorang yang baru saja selesai tanding voli dan sekarang sedang berada di masjid. Ditemani segelas es teh, Zia memainkan ponselnya sambil sesekali membalas sapaan orang-orang yang lewat.
Pertandingan terakhir voli hari ini adalah kelasnya melawan kelas tetangga, yaitu 11 IPS 2. Namun, sayang kali ini kelasnya harus menerima kekalahan, padahal sedikit lagi menuju perebutan juara ketiga.
Sekolah sudah mulai sepi karena dari jam tiga tadi pintu gerbang sudah dibuka dan diperbolehkan pulang. Hanya tersisa OSIS dan anak cowok yang masih memilih main basket. Niki dan Alita baru beberapa menit lalu pulang. Bukan mereka tega meninggalkan Zia sendiri, namun ia lah yang menyuruh mereka untuk pulang duluan.
"Yuk, Zi!"
Zia menengadahkan kepalanya begitu mendengar suara Kenan. Kemudian ia menyimpan ponselnya di kantung celana dan memakai tasnya sambil membawa es teh. Setelah Kenan juga sudah memakai tasnya, mereka berdua berjalan menuju parkiran.
Selama berjalan banyak orang yang melihat ke arah mereka. Tentu karena orang-orang itu mengenal Zia dan Kenan. Sampai di parkiran, tidak susah untuk Kenan mengeluarkan motornya karena memang parkiran sudah sepi, hanya sisa beberapa motor saja.
"Mau makan ngga?" Kenan bertanya begitu Zia duduk di atas motornya.
"Makan apa? Gue masih kenyang, tadi siang kan udah makan."
"Ya udah temenin gue aja deh." Zia hanya bergumam mengiyakan, lalu Kenan mulai melajukan motornya.
Ketika ditanya ingin makan di mana, Kenan menjawab, "Random aja. Kalo ketemu abang-abang pinggir jalan ya udah. Toh pasti enak kan rasanya?" Dan di sinilah mereka, duduk berhadapan dengan dua mangkuk bakso dengan asap yang masih mengepul. Ada dua, untuk Kenan dan Zia. Zia akhirnya ikut makan karena tidak bisa menahan godaan bakso telor yang menarik perhatiannya.
Kegiatan makan mereka diinterupsi oleh ponsel Zia yang berdering. Setelah mengeluarkan ponselnya dari saku celana, tertera nama Aiden di sana. "Nan, gue angkat telepon dulu ya." Kenan hanya mengangguk dan tetap melanjutkan makannya.
"Kenapa, Den?"
"Ngga apa-apa. Udah pulang?" Sesaat Zia bingung menjawab pertanyaan Aiden. Sudah pulang sekolah? Ya, sudah. Tetapi, belum pulang ke rumah. Zia melirik Kenan yang fokus pada makanannya.
"Udah. Tapi masih di luar."
Terdengar gumaman Aiden di sana. "Lagi di mana?"
"Hm, di mana ya ini?" Zia bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat sekelilingnya berharap dapat petunjuk di mana mereka sekarang. Karena Zia suka lupa jalan dan tidak tahu nama jalannnya. "Pokoknya lagi makan bakso gue."
"Sama temen-temen?"
"Sama temen. Lo udah pulang?" tanya Zia balik.
"Udah. Baru aja sampe, abis ada rapat ekskul. Tadinya gue mau jemput lo, tapi ngga jadi karena rapat."
"Oh gitu..." Zia menyuapkan potongan baksonya ke dalam mulut. Beberapa detik mereka saling diam hingga suara Aiden terdengar kembali.
"Ya udah. Pulangnya jangan sore-sore. Nanti kabarin gue ya kalo udah pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Setelah ditutup Zia menaruh ponselnya di atas meja dan melanjutkan makannya.
Tiba-tiba Kenan penasaran dengan hubungan Zia dan Aiden. Sekilas seperti orang pacaran pada umumnya, tetapi Kenan tidak melihat itu pada Zia. Muka Zia biasa saja saat teleponan dengan Aiden. Bukankah orang yang jatuh cinta akan senang meski hanya berbicara lewat telepon?
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Present ✓
Teen Fiction"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
