Zia sedang menimbang-nimbang apakah ia harus mengucapkan saat ini atau nanti-nanti saja. Dirinya bingung karena hubungan mereka sedang renggang saat ini. Sudah lama tidak ada percakapan di antara keduanya. Akhirnya Zia memutuskan nanti-nanti saja mengucapkannya.
Sudah sejak semalam Zia memikirkan kapan saat yang tepat untuk ia mengirimkan pesan ucapan selamat pada Aiden yang ulang tahun hari ini. Yang dilakukan Zia hari ini hanya memantau Instagram Aiden, melihat siapa saja yang sudah mengucapkan selamat untuknya.
"Ucapin jam 23.59 aja kali ya, biar beda," putusnya.
Di sekolah Zia saat ini sedang diadakan pekan ulangan harian. Zia baru saja menyelesaikan ulangan Matematika yang cukup membuat anak-anak di sini merasa kepalanya hampir pecah. Hari ini masih ada ulangan Geografi dan Sosiologi yang belum. Sekarang mereka sedang mendinginkan kepala sehabis ulangan.
Hujan di luar membuat penghuni kelas Zia semakin malas untuk beraktivitas. Untungnya, ulangan berikutnya masih beberapa jam lagi. Ditambah ruangan kelas yang memakai AC membuat udara menjadi makin dingin. Niki sedang menonton drama korea di kursinya sambil sesekali merapatkan jaketnya. Alita sedang bermain ponsel dan menyetel lagu, terlihat dari earphone yang menyumbat telinganya. Zia jadi menyesal kenapa dirinya sering tidak membawa jaket. Kalau keadaannya lagi begini kan tidak enak juga kalau harus meminjam jaket temannya. Ngomong-ngomong soal jaket. Jaket Kenan yang waktu itu dipinjam Zia sudah ia kembalikan kepemiliknya.
Zia mengedarkan pandangannya untuk melihat penghuni kelasnya yang rata-rata sedang tidur dan bermain ponsel. Zia yang bosan kemudian berjalan keluar dan mendekatkan dirinya ke balkon depan kelasnya. Tangan kanannya ia ulurkan untuk merasakan air yang jatuh dari atap. Sepi. Hanya dirinya yang ada di luar.
"Udah tau ujan malah di luar."
Zia menoleh ke kiri saat mendengar ada yang berbicara dengannya. Tubuhnya menegang sesaat mendapati Kenan berdiri di sampingnya. Cepat-cepat ia merilekskan tubuhnya, lalu mengulas senyuman. "Lo juga kenapa di luar?"
"Abis setoran."
Zia tertawa mendengar jawaban Kenan. Ia tahu yang dimaksud Kenan dengan setoran itu adalah BAB. Satu kelas sepertinya sudah tahu kalau Kenan memang hampir setiap hari BAB di sekolah.
"Diajakin main lagi sama temen-temen gue."
"Siapa? Gue?" Zia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah siapa lagi."
"Yaa siapa tau kan lo punya cewek terus ngga ngajak gue main lagi," ujar Zia tertawa.
"Harusnya kan gue yang ngomong gitu," Zia menaikkan satu alisnya bingung dengan ucapan Kenan. Kemudian Kenan melanjutkan, "Bukannya lo punya cowok tuh yang waktu itu nyamperin ke cafe."
"Ih kan udah gue bilang itu mantan gue," jawab Zia kesal sambil menatap tajam Kenan.
"Lah kata Niki, dia masih ngejar-ngejar. Emang dia ngga marah kalo lo sering jalan sama cowok lain?" Zia menatap Kenan lekat-lekat. Zia tidak mengerti untuk apa Kenan bertanya begini.
"Kenapa sih lo tiba-tiba ngomong gini? Ngga suka kalo gue main sama temen-temen lo atau emang lo yang ngga mau?" Zia emosi menjawab perkataan Kenan. Zia juga tidak mengerti kenapa dirinya bisa semarah ini hanya karena Kenan membahas Aiden.
"Bukan gitu, Zi maksud gue. Ya gue kan ngga tau gimana hubungan lo sama cowok itu. Takutnya lo pergi sama gue, ngga taunya dia marah." Kenan berkata dengan santai dan tidak ada emosi di setiap perkataannya. Zia menghela napas, kemudian menghembuskannya kasar.
Tanpa berkata apa-apa, Zia memutuskan balik badan dan memasuki kelas. Sampai di tempat duduknya, ia langsung menidurkan kepalanya di atas meja, lalu menutup wajahnya dengan tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past and Present ✓
Teen Fiction"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
