"Segitunya ngga ada gue ya, Zi, di hati lo? Segitunya ngga ada gue di pikiran lo? Bertahun-tahun gue usaha buat lo, chat lo setiap hari, kasih perhatian buat lo, nurutin kemauan lo tanpa lo bilang ke gue, tapi ternyata emang gue ngga ada ya sedikitp...
Terima kasih kalian yang sudah menyempatkan waktu membaca ceritaku ini :) Enjoy reading 🖐️
***
Alasan seseorang enggan untuk berpindah dari suatu keadaan salah satunya karena rasanya yang masih sama. Berpindah saja susah apalagi membuka hati untuk orang lain. Ditambah jika orang itu yang memang tidak punya keinginan untuk membuka hati. Meski di dalam hubungan itu hanya ia saja yang bertahan, tetapi tetap terus dilakukannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa jika hatinya memang masih untuk orang yang dicintainya. Asal masih terus ada di sampingnya ia akan melakukan segala cara dan tidak melepaskan orang itu.
Seperti hal yang dialami oleh Aiden William Abhivanda. Pernah menjalin hubungan dengan seseorang dengan waktu yang tidak bisa dibilang lama, namun juga tidak bisa dibilang sebentar, membuat ia susah melupakan dia yang dicintainya itu. Ia menganggap tidak ada lagi yang bisa menerima dia apa adanya seperti yang dia lakukan. Dan ketika ditanya kenapa ia tidak mencari orang lain, jawaban Aiden adalah, "Gue males aja buat nyari orang baru, adaptasi lagi."
Ting!
Bunyi notifikasi ponsel menyadarkan Aiden dari lamunan. Dilihatnya pesan tersebut yang ternyata dari seseorang yang sedang ia lamunkan.
Z. Bisa anterin gue ke Gramedia nggak, Den?
Kebetulan Aiden sedang tidak sibuk, jadilah ia mengiakan pesan itu. Aiden bergegas berganti baju dengan kaos serta celana jeans nya, mengambil kunci motor, dan bergegas keluar menuju rumah orang yang pernah singgah dihatinya bahkan hingga saat ini.
Tak peduli dinamakan apa hubungan yang sedang ia jalani, Aiden hanya ingin tetap berada di sisinya. Dengan segenap rasanya untuk dia, apapun selagi ia mampu akan dilakukannya. Meski setelah ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Entah hubungan ini akan berakhir bahagia atau tidak, Aiden tidak tahu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Aiden sudah sampai di depan sebuah rumah. Lantas ia mengirim pesan kepada sang punya rumah untuk segera keluar. Dilihatnya gadis itu berjalan menghampirinya dengan senyum yang terpancar di wajahnya. Memakai setelan sederhana, tetapi tetap cantik di mata Aiden.
"Hai! Udah lama?" sapanya sembari tersenyum.
"Nggak kok, Zi. Yaudah yuk langsung aja berangkat," jawab Aiden sambil memberi helm kepada seseorang yang dipanggil 'Zi' tersebut. Setelah helm itu terpasang sempurna di kepalanya, Aiden lebih dulu naik ke motor dan diikuti gadis itu.
Aiden sering kali rindu pada gadis di boncengannya ini. Setiap hari mereka hanya bertukar pesan, makanya bila ada kesempatan bertemu seperti ini Aiden memanfaatkannya dengan mengobrol banyak. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di mal tersebut. Setelah memakirkan motornya, keduanya berjalan bersisian memasuki mal yang berada di Jakarta itu.
"Mau beli apa, Zi?"
"Oh iya, kemarin kan gue liat Instagramnya Perkataka. Ternyata dia ngeluarin buku baru, judulnya Mengikhlaskanmu, Aku Bisa."
Mendengar judul buku itu Aiden merasa tertampar. Mengapa judul bukunya sama persis dengan yang harus ia lakukan? Mengikhlaskan. Sebuah tindakan yang bagi Aiden sangat sulit untuk dilakukan. Hingga kini ia masih berada di sini menemani seseorang yang bukan siapa-siapanya. Semua karena ia belum mampu mengikhlaskan. Apa Aiden harus membaca buku itu juga?
Aiden melirik gadis di sebelahnya yang hanya sebatas pundaknya saja. Dia mempunyai rambut hitam yang lembut, sedikit melengkung ke dalam di bagian bawahnya. Hari ini rambut itu sedang dikuncir satu dengan beberapa anak rambut mencuat keluar. Penampilan sederhana yang selalu Aiden ingat.
Sampai di toko buku terkenal itu, mereka langsung menghampiri bagian buku-buku dan mulai mencari buku yang diinginkannya dengan berbekal screenshot dari akun Instagram penulis. Aiden berkata untuk berpencar agar lebih mudah menemukannya. Hingga Aiden masih mencari sampai ke atas-atas rak, bahunya ditepuk pelan.
"Ketemu nih bukunya."
Gadis itu menunjukkan buku yang dia maksud. Aiden mengambilnya untuk dilihat-lihat sebentar. "Jatuh cinta adalah siap kehilanganmu kapan saja." Begitulah yang tertulis pada cover buku berjudul Mengikhlaskanmu, Aku Bisa. Aiden tersenyum kecil, seakan diingatkan bahwa ia akan kehilangan orang yang dicintainya bila tiba waktunya nanti.
Dibaliknya buku itu pada halaman pertama dengan judul bab; Rindu. Ada kata-kata di bawahnya, "Terimalah rindu dengan ikhlas tanpa meminta sebuah balas. Terimalah rindu dengan bijaksana tanpa memaksa dia harus merasakan hal yang sama." Senyumnya terbit lagi selesai membaca kalimat itu. Sering ia bertanya, apakah dia yang di sana juga merasakan rindu seperti yang dirasakannya? Aiden hanya mampu memberi tahu bahwa ia rindu dengan cara membuat status di sosial medianya.
Aiden menyerahkan kembali buku itu pada pemiliknya. Berusaha tenang kembali setelah sempat hatinya dibuat resah karena barisan kalimat yang ia baca tadi. "Beli ini aja, Zi?" tanyanya setelah memberi buku.
"Sebenernya gue tergoda mau liat-liat alat tulis di sana. Tapi, gue lagi irit, Den."
Aiden melihat gadis di depannya memasang muka cemberut. Ia tersenyum, "Yuk! Gue bayarin," ajaknya lalu berjalan lebih dulu menuju rak ATK. Meninggalkan gadis di belakangnya yang masih bingung di tempatnya.
"Den, nggak usah ih! Nggak apa-apa gue nanti beli sendiri aja. Sekarang beli buku ini aja dulu."
"Gue juga nggak apa-apa kalo harus beliin lo." Sesampainya di sana, Aiden menyuruh untuk memilih barang yang dinginkan gadis itu. "Udah, pilih aja sana."
"Pokoknya nanti gue ganti ya. Ini dianggep utang!"
Aiden hanya menganggap ancaman itu sebuah angin lalu. Dirinya sendiri yang memilih untuk membayarkan belanjaan itu. Ia ikhlas-ikhlas saja kalau harus membelikan apapun yang diinginkan gadis itu yang sekarang sedang memilih-milih pulpen. Setelah diterpa kegalauan akan barang yang dipilih, gadis yang saat ini sedang memakai kemeja pink itu mengajak Aiden ke kasir.
"Eits, khusus buku ini gue sendiri yang bayar. Nggak ada tapi-tapi!"
Belum sempat Aiden mengambil semua barang dari tangannya, tetapi sudah lebih dulu dijegat olehnya. Dia memberikan alat tulis yang tadi dipilihnya pada Aiden dan bukunya sendiri dia pegang. Kemudian tanpa banyak bicara berdiri di depan Aiden untuk membayar bukunya. Aiden terkekeh sambil mengacak-acak rambut gadis itu.
Selesai bayar, Aiden mengajak pergi makan lebih dulu sebelum pulang. Sampai di sana mereka duduk berhadapan sambil menunggu pesanan yang sebelum duduk mereka pesan. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari seseorang di depannya ini. Pertanyaan yang mampu membuat Aiden tidak mampu harus menjawab apa. Semua jawaban yang bersarang di kepalanya tak mampu ia utarakan.
"Lo, apa udah mengikhlaskan gue?"
***
Buku yang dibeli Zia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.