Naisila #Tigapuluhsembilan

1.1K 82 9
                                    

Awas Banyak Typo!

Derap langkah yang saling bersahutan membuat lorong tidak begitu sepi, buku paket yang berada di dalam dekapan gadis itu membuatnya ingin segera berada di kelas. Hanya ada beberapa siswi yang sudah stay di atas kursi masing-masing, Naisila terlebih dahulu menyimpan buku paketnya di atas meja, kemudian dirinya menyenderkan tas yang berada di pundaknya ke kursi.

Ketika hendak menyimpan buku paket di kolong meja, gadis itumengurungkan niatnya dan kembali menyimpan buku paket di atas meja, ketika mendapati sebuah kotak susu berukuran sedang, juga roti tawar yang berisikan coklat karena terdapat tulisan yang berada dalam merek tersebut.

"Roti? Susu? Ini punya siapa?" gadis itu berucap pelan.

Naisila kemudian berdiri dan memperhatikan keadaan sekitar, hanya ada 5 orang siswa yang sedang fokus terhadap buku, ada juga yang sedang terlelap untuk melanjutkan mimpi yang mereka jeda di rumah. Gadis itu berfikir, tidak mungkin kan, ada seseorang yang menyimpan makanan itu dengan sengaja, kalau memang ada,  lalu siapa?

Ia kembali menyimpanya di bawah meja, bisa saja ada orang yang merasa kehilangan dan menanyakannya. Naisila menguap pelan, semalam gadis itu tidak bisa tidur karena terus menjaga Omanya tadi, padahal dari awal, gadis itu disuruh Leri untuk pulang, akan tetapi ia menolaknya, ia enggan untuk meninggalkan sang Oma.

Naisila menumpukan tangannya di atas meja untuk menopang kepala, gadis itu sangat mengantuk. Dari arah samping, terdengar suara kursi yang bergerak, naisila tebak itu Dera—sahabatnya.

"Tadi gua jemput Lo ke rumah, tapi kata Mbok Ijah Lo enggak ada."

Naisila mendengar suara laki-laki, gadis itu kemudian membuka matanya—terlihat Arvin yang sedang tersenyum ke arahnya. "Pagi Nai," sapa laki-laki itu.

Naisila yang merasa aneh dengan sapaan Arvin langsung saja memegang kening laki-laki itu dengan punggung tangannya. "Masih normal, enggak panas, tapi kenapa Apin jadi aneh. Apa gara-gara kemarin dari pemakaman, jadi setannya ngikutin," cerocos gadis itu yang membuat Arvin mendelik.

"Nai," panggil Arvin dan mengabaikan ucapan gadis itu tadi. Lagi-lagi Naisila menatap laki-laki itu takjub.

"Tumben panggilnya pake Nama asli?" tanya gadis itu yang membuat Arvin menghela napas pelan.

"Udah lupain, Aku mau tanya sesuatu sama Kamu." Naisila melihat keseriusan laki-laki saat berbicara.

Naisila kemudian berdeham untuk menetralkan suasana. "Mau tanya apa?"

••••

Tentang apa yang dikatakan laki-laki itu tadi, seperti mimpi, Naisila tidak sepenuhnya percaya akan apa yang dikatakan Arvin sebelumnya. Dan sebuah fakta yang membuat jantungnya tidak karuan—terus berdetak abnormal.

"Nai, Lo kenapa?" Tanya Dera khawatir karena sedari tadi, gadis itu terus melamun.

Naisila hanya merespon dengan gelengan, ia tidak bisa bercerita pada Dera, atau jadi, dirinya belum bisa. Lagi-lagi gadis itu terus teringat dengan pembicaraannya bersama laki-laki itu.

"Nama lengkap lo siapa?" tanya Arvin yang membuat gadis itu menautkan alis.

"Naisila Aqueena."

"Tanggal sama bulan lahir lo?"

"Tanggal 25 Januari."

"Nama Ibu Lo?"

"Naila Aqueena."

"Nama Ayah lo?"

Naisila menatap tajam laki-laki itu. "Sebenarnya apa sih yang Arvin mau? Kenapa tanya-tanya hal pribadi?"

NAISILA  [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang