Sherly menatap lurus ke arah tangga yang berada di samping perpustakaan. Ujung dari tangga akan menuntun dirinya ke rooftop. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat. Hentakannya terdengar riuh hingga ia mencapai sebuah pintu yang masih tertutup.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Sherly yang terlihat begitu sedih. Dia menghela napas dan menjatuhkan tubuhnya di bangku panjang yang tersedia di rooftop. Cewek itu mengangkat dagunya dan menatap langit-langit.
"Kenapa lo bisa kayak begitu, Sa? Rasanya gue bener-bener gagal jadi sahabat," kata Sherly dengan mata yang berkaca-kaca.
Bel masuk pun berdenting, namun Sherly mengabaikannya. Untuk kali ini saja, ia ingin bolos. Bahkan ia hanya ingin duduk sendirian di sini dan meluapkan semua kekesalannya. Sungguh, ia terlalu kecewa karena Sasa yang selalu menyembunyikan setiap masalah darinya.
Padahal ia tidak pernah merasa direpotkan sama sekali.
Pintu masuk rooftop mendesing pelan. Sherly mengalihkan pandangannya ke sana dan mendapati Deren yang terlihat terengah-engah sambil membungkuk. Tampaknya cowok itu kelelahan. Sherly hanya terdiam sembari memerhatikan Deren yang berjalan mendekatinya, lantas menjatuhkan diri di sebelahnya."Ngapain lo ke sini?" tanya Sherly tanpa memandang Deren.
"Harusnya gue yang nanya begitu. Ngapain lo di sini?" balas Deren yang menoleh pada Sherly.
"Sasa itu sahabat lo kan? Gak semestinya lo bersikap kayak gini. Dia butuh dukungan lo sekarang."
"Gue tau kok, tapi gue juga punya perasaan. Kita berdua sahabatan, tapi rasanya gue sama sekali gak tau apa-apa soal Sasa. Dia selalu sembunyiin masalahnya rapat-rapat. Bahkan kebiasaan dia yang suka ambil barang anak lain ...." Sherly mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"g-gue baru tau sekarang, Der ...."
Deren menipiskan pandangannya. Tangannya pun menarik pelan kepala Sherly menuju dekapannya."Udah, Sher. Gue yakin Sasa punya alasan kenapa dia sembunyiin semuanya dari lo. Sekarang, mending lo pergi ke UKS deh. Cakra baru aja chat gue kalau Sasa ada di sana. Lebih baik lo hilangin salah paham ini, sebelum semuanya jadi tambah runyam."
Sherly melepas pelukan tersebut dan menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Kini ia merasa lebih baik."Makasih ya, Der." Deren pun mengangguk.
Dia menatap Sherly yang sudah beranjak dan berlari pergi. Deren tersenyum lega, lantas menyusulnya.
Di sisi lain, Sasa baru saja masuk ke UKS. Tatapan kosongnya membuat salah satu petugas PMR yang piket terlihat kaget dan segera menuntunnya ke sebuah ranjang yang kosong.
"Lo sakit apa, Dek?"
Bukannya menjawab, Sasa justru meneteskan air mata dan membelakangi cewek dengan rompi merah itu. Cewek dengan papan nama Nirma itu menghela napas pasrah. Dia menoleh ke belakang.
"Edrik, tolong ambilin air minum dulu."
Cowok beralis tebal itu mengalihkan pandangannya dari buku catatan kesehatan di tangannya dan membalas,
"Ambil sendiri."
"Astaga. Kalo lo gak peduli gini, ngapain masuik PMR, sialan?!"
"Gue harus ngalahin Candra."
Nirma memutar bola matanya muak.
Dia mau mengalahkan Candra dengan sikap pemalasnya itu? Mimpi saja terus.Mendadak Cakra masuk ke dalam UKS bersama Arhab, membuat Nirma mengernyit.
"Cari siapa?"
"Cewek gue," jawab Cakra spontan, membuat Sasa meringis dalam hati.
Di situasi seperti ini, Cakra malah menambah bebannya saja.
Edrik menoleh karena penasaran. Dia mendengkus saat mendapati sosok yang mirip sekali dengan musuh akademik maupun non akademiknya itu di sana. Edrik tersenyum culas. Cowok beralis tebal itu mengambil gelas yang dipegang oleh Nirma dan mengisinya dengan air.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Teen Fiction[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...