°Chapter 6

122 18 1
                                    

Setelah lama terdiam, Candra memutuskan untuk sedikit menunduk dan berhenti tepat di depan muka cewek dengan mata sipit itu.

Hanya berjarak satu telapak tangan saja wajah mereka sekarang. Begitu dekat, hingga Sasa bisa merasakan setiap hembusan napas Candra yang hangat. Cewek itu pun harus menelan salivanya dengan susah payah karena tatapan dingin cowok di depannya itu.

"Lo tau gak? Yang bermasalah di sini itu elo." Candra menggerakkan tangannya untuk mengambil catatan kecil yang selalu ia simpan di saku celananya. Tidak lupa bolpoin yang juga berada di tempat yang sama.

"Sebutin nama dan kelas lo. Ini peringatan--"

"Menjauh dari gue sialan!" tukas Sasa dan mendorong Candra menjauh. Kesal, sampai-sampai sakit perutnya hilang ditelan bumi. Bahkan suaranya pun terdengar begitu murka, hingga beberapa cowok yang duduk di koridor pun menoleh padanya.

"Lah, cewek itu yang tadi pagi kan? Jirr, berani juga dia bentak-bentak Candra."

"Nyalinya boleh juga. I like that."

Sementara itu, Sasa kembali mendorong Candra dengan sepenuh hati dan jiwa raga yang telah dipenuhi amarah.

" Nonsense banget lo! Tadi kita ketemu di perpus dan lo nyebut nama gue ya. DID lo?!"

Kepribadian ganda disebut juga gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder (DID).

Sebelum Sasa mendorongnya lagi, Candra segera menggenggam tangannya dan membuat Sasa tersentak kaget.

"Ini cuma prosedur kerja gue. Lo kena masalah karena gue mergokin lo nyolong spidol di CCTV. Ada pembelaan? Silakan. Gue bakal dengerin sampe mulut lo berbusa," sarkas Candra dengan nada super pelan.

Ini urusan dirinya dan Sasa, karena itu ia tidak ingin siswa lain sampai mendengar percakapan mereka. Apalagi mencuri dalah tindakan kejahatan. Candra tahu betul kalau Sasa akan terkucilkan, kalau sampai hal ini tersebar ke seluruh sekolah.

Gue ketahuan. Apa gue bakal dipenjara setelah ini? Mama sama Papa bakal kecewa lagi sama gue. Sasa membatin khawatir. Kemudian ia kembali menjatuhkan atensinya pada cowok bermanik mata hitam pekat itu.

"Cakra, lo adalah orang pertama yang gue benci setengah mampus tau gak?!"

"Ck, gue gak peduli."

Nyali Sasa mendadak menciut saat Candra tidak getir dan makin menatapnya intens. Belum lagi dengan garis wajah cowok di hadapannya yang halus, mulus dan seputih susu. Kalau kata orang sunda -Kasep pisan eww-

"Bukan itu yang mau gue denger. Oh, apa perlu gue ulang dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar baru lo paham?" Candra makin menyudutkan Sasa yang hendak melepas genggaman itu dan pergi dari sana. Sayang, kekuatan mereka terlampau jauh.

"Sebutkan-nama-beserta-penjelasan-anda-mengenai-spidol-yang-telah-saya-ambil-ini-dari-saku-rok-anda," ungkap Candra penuh penekanan sambil mengacungkan spidol yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya.

Skak dan Mat. Candra menyeringai setan ketika Sasa bergeming dengan mimik wajah yang terkejut bukan main.

Glek.

Sasa menelan salivanya dengan peluh yang mengembun di sekitar area dahinya.

"Clarissa Nazela Askara, kelas 11 MIPA 2 dan gue bakal jelasin semuanya setelah kita pulang sekolah."

Tett ... tett ... tett ....

Bel masuk pun berdenting, hingga seluruh siswa yang berada di luar area kelas pun segera berhamburan masuk ke dalam kelas.

My Boy is a Hacker (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang