KRING!
KRING!
KRING!Bunyi nyaring alarm berhasil mengusik tidur seorang gadis. Tepat di samping telinganya, hingga mimpi indahnya ambyar begitu saja.
Hiiiiiiii!
Beringsut Sasa terbangun. Dengan bibir mengerucut dan surai panjang yang tampak berantakan seperti rambut singa, ia menguap lebar.
"Hoaaammm ... ini kan hari minggu, ngapain juga gue bangun pagi banget," gumam Sasa selepas mematikan alarm.
"Tidur lagi ah ...." imbuhnya sembari menjatuhkan diri di atas singgasana sejuta kaum rebahan itu, lalu memejam ringan.
Tok! Tok! Tok!
Sepuluh menit pun berlalu, ketukan pintu yang seolah ingin menghancurkan daun pintu kamar gadis itu mendadak terdengar riuh.
"Sasa!" teriakan Andin--mama Sasa--menggema ke seluruh penjuru lantai atas.
Lagi-lagi Sasa harus rela terusik di weekend berharganya ini. Mamahnya itu selalu saja mengganggu dirinya, padahal setiap pagi wanita tersebut tidak pernah ada untuk sekedar sarapan bersama di meja makan dengannya.
Ck. Apa sih? Sewot banget, orang butuh tidur juga, batin Sasa sebal. Dia tidak berniat bangun dari kehangatan selimutnya dan malah menutup kupingnya dengan bantal. Magnet tempat tidur memang dahsyat.
TOK! TOK! TOK!
Ketukannya kian bar-bar saja.
"Sayang ... bangun, Nak."
Haish! Berisik banget tolong!
"Sayang, di depan ada temen kamu tuh. Dia lagi nungguin kamu. Sasa, ayo bangun."
"Sasa gak ada janji sama Sherly, Mah." Sasa membantahnya begitu saja, masih dengan posisi yang sama.
"Eh, kamu ada temen namanya Sherly?" tanya Mamahnya. Dari balik pintu kamar sang putri ia terlihat bingung.
Tidak perlu heran jika mamah dan papah Sasa sampai tidak mengenal Sherly, itu karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sampai-sampai kleptomania yang diderita oleh putri mereka saja baru ketahuan beberapa minggu lalu. Itu pun setelah gadis itu melakukan kesalahan yang berakibat drop out dari sekolahnya yang terdahulu. Miris.
Sasa mendecak. "Lupain aja! Mamah, gak usah bangunin Sasa kalo ujung-ujungnya kalian bakal pergi lagi. Sasa capek kalo setiap weekend harus sendirian di rumah!" ucap Sasa kesal. Tangannya terlihat meremas bantal yang sedari tadi menutup telinganya.
Andin hanya bisa menghela napas pasrah mendengar keluhan putri bungsunya. Mau bagaimana lagi? Selepas kepergian Reand Artha Askara--kakak laki-laki Sasa, ia dan suami selalu menyalahkan diri sendiri. Terlebih ketika mereka sama-sama tahu siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa sang putra sulung.
Tidak memiliki bukti adalah satu alasan mengapa keduanya tetap bungkam dan menumpuk dendam. Tangan mereka telah kotor akan dosa karena dendam itu, hingga kondisi Sasa yang seperti sekarang ini mungkin saja adalah buah dari dendam mereka di masa lalu.
"Mamah sama papah sibuk, sayang. Nanti kalau semuanya sudah selesai, Mamah janji bakal luangin waktu buat kamu."
Sudah Sasa duga. Jawaban yang sama setiap harinya.
"Sekarang kamu bangun du--"
"GAK!" tolaknya, membuat wanita tersebut menghela napas. Sepertinya ia sudah menyerah dengan sifat keras kepala Sasa. Oleh karena itu, ia pun pergi dari sana dan beralih ke ruang tamu.
Tidak mendengar suara lagi, Sasa menolehkan kepala pada pintu kamarnya. "Mah?" panggilnya, namun tidak ada jawaban. Cewek itu mengumpat dalam hati, lantas kembali menutupi dirinya dengan selimut.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Teen Fiction[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...