°Chapter 19

56 10 0
                                    

Pagi itu Sasa berangkat sekolah dengan tergesa karna jam sudah menunjukan pukul 07.20 yang berarti 10 menit lagi gerbang akan ditutup.

Sasa berlari menuju mobil dan meminta supir untuk segera jalan. Dia sudah melewatkan ritual sarapan pagi dan bahkan dia lupa berpamitan dengan orang tuanya.

Ah, masa bodo saja. Sasa masih marah dengan mereka.

"Pak, cepetan dikit ya, aku udah telat nih," ucap Sasa cemas.

"Iya neng, ini lagi ngebut. Mudah-mudahan aja gak macet," jawab Pak Joko tenang.

Duhh moga-moga gerbangnya belum ketutup batin Sasa harap-harap cemas.

Sesampainya di sekolah, ia melihat gerbang sudah akan tertutup. Sasa berlari sekuat tenaga, namun harapan tinggal harapan. Gerbang resmi ditutup sesaat setelah Sasa sampai di depannya.

"Yah ...." Sasa mengambil sebias oksigen, lalu melanjutkan kalimatnya, "Pak, buka dong. Nanggung, saya udah di depan ini," pinta Sasa sambil menggoyang-goyangkan pagar besi di depannya.

"Maaf neng, tapi gak bisa. Enengnya udah terlambat," tolak si Satpam.

"Pak, tolonglah. Saya capek lari-lari dari sana. Ayolah bukain, please ... saya janji gak-akan-telat-lagi." Sasa mengacungkan kelingkingnya. "Bukain ya, pak," lanjutnya dengan senyum semanis madu. Kemudian saling menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya. Entahlah, Sasa sudah mengerahkan semua ekspresi wajah miliknya, namun tak satu pun yang berhasil.

"Maaf, neng. Peraturan tetap peraturan. Saya gak bisa buka," pungkas Satpam itu, lalu kembali ke dalam posnya.

Sasa menundukkan wajahnya--menatap sepasang sepatu kets putih yang terlihat agak kotor itu.

Hhh, harusnya semalam gue gak gadang mikirin hal gak guna itu. Bego banget ahkkk! Sasa membatin sambil merutuki dirinya sendiri.

"Capek, boo?"

Suara itu berhasil mengusik Sasa dan membuatnya mengangkat wajahnya. Menoleh ke kiri dan ia mendapati manusia menjengkelkan itu.

"Lo?! Ngapain lo di sini?" tanya Sasa terdengar tidak terima.

"Gue sama yang lain telat, jadi gak boleh masuk."

"Yang lain?" tanya Sasa bingung.

"Helo sambadi!" sapa Arhab yang muncul dari belakang Cakra, diikuti Deren yang melambai kecil pada Sasa.

"H-hai," jawab Sasa gugup.

"Kenalin ini Arhab dan yang ini Deren," ujar Cakra memperkenalkan sahabatnya.

Sasa hanya mengangguk segan. Dia bingung harus apa dan harus memanggil mereka apa? Apakah sebutan "kak" atau menggunakan lo-gue seperti pada Cakra?

Seolah tau apa yang dipikirkan Sasa saat itu, Cakra langsung mengatakan,

"Lo panggil mereka biasa aja. Gak usah pake kak. Pokoknya anggap aja mereka temen lo sendiri. Dua kampret ini mana mau dituakan," kata Cakra enteng dan langsung mendapat pelototan keras dari kedua temannya itu.

"Si anjir kalo ngomong ..." Deren menggantungkan kalimatnya.

"Kenapa?" tanya Arhab sok penasaran.

"SUKA BENER! HAHAHAHA" teriak Deren, lalu tertawa garing.

Sasa, Cakra, dan Arhab terheran-heran melihat kelakuan aneh Deren pagi ini.

"Der?" panggil Cakra.

"HAHAHAHA ... Ha? Iya kenapa?" tanya Deren masih dengan sisa gelak tawanya.

"Lo sehat?"

"Sehat wal afiat walaa ila ha illallah allahu akbar!" seru Deren sambil mengangkat tangannya yang mengepal.

My Boy is a Hacker (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang