Awan mendung menjadi pemandangan pagi ini di kota metropolitan. Meski begitu, jalanan tetap dipadati dengan kendaraan beroda dua maupun empat. Kicauan burung, juga bunyi klakson pengendara saling bersautan seolah dikejar oleh sang waktu.
Terkecuali dengan Mobil Avanza berwarna hitam mengkilap yang sudah terparkir rapi di depan gerbang SMA Gemilang. Sengaja si pengendara selalu datang lebih awal menghindari kemacetan yang sudah menjadi tradisi di ibu kota ini.
"Makasih ya, pak Jono," ucap seorang gadis dengan ramah pada sopir yang mengenakan topi hitam yang berada di kursi pengemudi itu.
"Sama-sama, neng. Ini kan sudah tugas saya," jawab pak Jono tidak kalah ramahnya.
Gadis itu pun mengangguk singkat. Kemudian kaki jenjangnya turun dari kursi penumpang itu. Sejenak ia menghela nafas dan memperhatikan suasana koridor sekolah yang tampaknya sudah ramai. Bagaimana tidak? Jarum jam yang melingkar di pergelangan kiri gadis itu sudah menunjukkan pukul 06. 40 menit.
Kedua tangan mungil itu menggenggam tali tas yang dikenakannya sambil berharap dalam hati semoga hari ini selalu berjalan dengan lancar. Seperti hari-hari sebelumnya, tepatnya dua minggu yang lalu saat dirinya resmi menjadi murid baru di SMA ini.
"Semangat, Sa! Hari ini pasti berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya!"tekadnya pada diri sendiri. Dengan langkah ringan, kaki jenjang itu mulai menelusuri koridor sekolah.
Dengan wajah khas oriental yang dimiliknya, hampir tidak mungkin jika gadis bermata sipit dan berkulit putih susu itu tidak dijadikan sasaran oleh beberapa playboy kelas kakap di SMA Gemilang.
Buktinya saja sekarang. Beberapa pasang mata itu memerhatikan setiap langkahnya ketika menyusuri koridor. Ada yang melayangkan tatapan kagum dan ada juga yang menatapnya dengan tatapan iri.
"Anjir! Cantik banget, dah. Artis Korea kesasar, ya neng?”
"Apaan sih. Biasa aja mukanya. Cantikan juga gue."
"Cewek, kenalan dong."
Sahutan-sahutan itu mulai terbiasa menemani langkahnya yang kurang nyaman. Gadis yang kerap kali memodel rambutnya dengan gaya cepol itu pun mulai bergegas mengayunkan langkahnya dengan telinga yang berpura-pura tuli, tentunya.
"Lah cok, dipanggil-panggil kagak noleh. Cantik-cantik ternyata tuli."
Berpura-pura tuli adalah salah satu cara menanggapi para cowok bad attitude modelan mereka. Cinta karena liat tampang sama body doang? CIH! Gadis itu bahkan mungkin kaum sebangsanya tidak butuh cinta yang seperti itu. Gadis manapun pasti hanya suka dengan cowok yang menerima mereka apa adanya. Mau menerima segala kelebihan maupun segala kekurangan yang ada.
Kaki jenjang itu terus berjalan tanpa memedulikan segala ocehan yang terus tertuju padanya. Langkahnya berjalan menuju kelas yang berada di lantai dasar.
Sebelum memasuki kelas, gadis itu di kejutkan oleh teriakan seseorang yang sangat ia kenali. Siapa lagi jika bukan sahabatnya itu. Dengan tatapan malasnya, ia pun menoleh dan mendapati seorang gadis cantik bertubuh lebih kurus darinya sedang berlari terengah kearahnya.
"Woi micin! Gue panggil beberapa kali, baru noleh sekarang lo. Kuping lo lagi bermasalah?” kesal gadis tersebut dengan bibir yang mengerucut.
“Apa, sih, Sher? Masih pagi-pagi udah heboh sendiri. Mana malah olahraga lari gitu. Lo enggak cape?” tanyanya.
Gadis itu hanya memutarkan bola malas. "Lagi-lagi lemot kaya gini. Sabar, Sherly. Dia sahabat lo satu-satunya dari zaman lo polos pas SMP." batin Sherly dalam hati.
Dengan senyum terpaksa gadis itu berujar, “Gila! Jangan bikin emosi dulu, Sa! Gue gamau ribut. Masih pagi loh ini.”
Gadis yang dipanggil Sasa itu hanya mengerutkan dahi heran.
“Perasaan gue cuma tanya, engga ngajak lo ribut,” ujar Sasa dengan wajah herannya.
“Oke-oke deh gue ngalah. Jadi Micin, lo gimana kemarin? Lancar? Oke?” tanya Sherly beruntun.
Pertanyaan Sherly membuat Sasa mengingat kejadian menjengkelkan kemarin. Dengan kaki sedikit dihentakkan ia berjalan meninggalkan Sherly dan duduk dibangkunya yang berada didekat jendela.
“Sini, Sher. Duduk!” perintahnya mutlak. Mendengar itu Sherly hanya mampu menuruti perintah sahabatnya itu.
“Pertama, yang perlu lo tau. Nama gue Clarissa Nazela Askara. Lo bisa panggil gue Sasa bukan micin! Catet itu, Sherly Fredelle! Dan yang kedua yang perlu lo tau." Sasa mengacungkan dua jari dengan perasaan dongkol.
"Mood gue kemarin hancur gara-gara ketemuan sama cowo yang ada di aplikasi yang lo saranin ke gue. Gue bener-bener kesel sama tuh cowo!” ujar Sasa dengan tangan kanan mengepal dan tangan kirinya ia gunakan selayaknya ulekan. Dengan nafas memburu ia terus melakukan gerakan ulekan itu seolah sedang mengulek cowo yang membuatnya kesal.
Sherly hanya melongo dengan gerakan yang dilakukan Sasa.
"Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa dia sekesel itu?"Batin Sherly bertanya.
“Lo kenapa? Bukannya kemarin lo ketemuan sama cowo sebening berlian itu? Cowok yang dari aplikasi _pick love_ yang gue saranin itu,” tanya Sherly heran.
“Sebening berlian lo bilang? Gue bakal seneng kalo gitu. Lo tau ga, realitanya gue malah ketemu cowo dingin sedingin es batu, tau!” ketus Sasa dengan tangan yang masih melakukan gerakan ulekan itu. “Awas aja kalo sampe gue ketemu sama tuh cowo lagi, gue ulek kaya gini,” pungkasnya dengan gerakan tangannya yang semakin menjadi.
Sementara Sherly hanya mampu menyunggingkan senyum terpaksa dengan wajah kakunya.
“Oke, gue minta maaf kalo saran gue dengan nyuruh lo coba aplikasi pick love itu engga mempan buat ngilangin status jomblo lo. Tapi serius, cowo yang lo temu itu sedingin es batu? Lo megang kulit dia?” gurau Sherly mencoba meredam emosi sahabatnya itu.
Dengan tatapan tajamnya, Sasa menoleh dan mencoba memberi tau bahwa dirinya sedang tidak ingin bercanda.
“Oke-oke, sekarang lo tenang dulu. Bunyi bel sekolah masuk udah kedenger tuh. Coba lo tarik nafas dulu biar engga emosi lagi,” ujar Sherly pelan dengan tangan menepuk pundak Sasa pelan.
“Pokoknya lo harus ingetin gue, kalo sampe gue ketemu tuh cowo lagi harus gue ulek muka sok cakepnya itu terus gue buang ke rawa-rawa!” tukas Sasa.
“Tapi beneran cakep, kan, Sa?” tanya Sherly iseng.
“Diem atau gue buang juga lo ke rawa-rawa.” Mata Sasa mendelik, bertepatan dengan seorang guru yang masuk ke dalam kelas mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Teen Fiction[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...